Celoteh Nagari : Ada satu kalimat yang hampir selalu muncul ketika nagari membicarakan pembangunan: anggarannya terbatas.
Kalimat itu
bukan alasan yang dibuat-buat. Kebutuhan masyarakat memang hampir selalu lebih
besar daripada kemampuan anggaran yang tersedia. Jalan perlu diperbaiki.
Irigasi membutuhkan perhatian. Pelayanan dasar harus ditingkatkan. Kelompok
masyarakat membutuhkan pemberdayaan. Pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan
lingkungan menghadirkan persoalan yang tidak pernah benar-benar selesai dalam
satu tahun anggaran.
Di tengah
semua kebutuhan itu, pemerintah nagari harus menentukan pilihan.
Mana yang
harus didahulukan?
Mana yang
dapat ditunda?
Dan mana
yang, untuk sementara, belum mampu dibiayai?
Di situlah
perencanaan menjadi penting. Nagari tidak mungkin menjawab seluruh kebutuhan
sekaligus. Prioritas harus dibuat. Pilihan harus diambil. Seperti pernah kita
bahas dalam artikel tentang bagaimana keputusan diambil dari usulan menjadi prioritas,
persoalan pembangunan bukan sekadar banyaknya usulan yang masuk, tetapi
kemampuan menentukan mana yang paling penting untuk dikerjakan.
Namun, ada
persoalan lain yang sering luput.
Apakah
kebutuhan yang tidak mampu dibiayai harus ikut berhenti?
Pertanyaan
inilah yang menjadi semakin penting ketika melihat kenyataan pembangunan di
banyak nagari. Anggaran memang memiliki batas. Tetapi benarkah batas anggaran
harus selalu menjadi batas kemampuan nagari untuk mencari jalan keluar?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Kebutuhan Selalu Lebih Besar daripada Anggaran
Tidak ada
nagari yang memiliki anggaran cukup untuk membiayai seluruh kebutuhan
masyarakat sekaligus.
Karena itu,
penyusunan RKP bukan pekerjaan menyusun daftar keinginan. Perencanaan
seharusnya membantu nagari membaca persoalan, menentukan kebutuhan yang paling
mendesak, melihat kemampuan yang tersedia, lalu mengambil keputusan secara
bertanggung jawab.
Masalahnya,
proses tersebut kadang masih terlalu sederhana.
Usulan
dikumpulkan.
Kemudian
diseleksi.
Yang
mendapat anggaran masuk rencana.
Yang tidak
mendapat anggaran ditinggalkan.
Padahal,
tidak semua usulan yang belum terbiayai adalah usulan yang tidak penting.
Bisa saja
sebuah kebutuhan memang mendesak, tetapi nilainya terlalu besar untuk kemampuan
APB Nagari. Bisa juga persoalannya berada di luar kewenangan nagari. Ada pula
kebutuhan yang sebenarnya dapat diselesaikan melalui program pihak lain, tetapi
belum pernah dicari jalannya.
Karena itu,
salah satu persoalan mendasar dalam perencanaan bukan hanya bagaimana
memilih prioritas, melainkan juga apa yang dilakukan terhadap kebutuhan
yang belum dapat dibiayai.
Di sinilah kita
perlu berhati-hati agar proses penyusunan RKP tidak terjebak pada kesalahan
yang sama setiap tahun. Sejumlah persoalan seperti usulan yang tidak berbasis
kebutuhan, prioritas yang kabur, hingga dokumen yang tidak benar-benar menjadi
alat pengambilan keputusan pernah kita soroti dalam artikel Kesalahan Penyusunan RKP Nagari.
Tetapi
setelah kesalahan-kesalahan itu diperbaiki, masih ada satu pertanyaan besar:
Jika
kemampuan anggaran tetap terbatas, dari mana jalan keluar pembangunan harus
dicari?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Keterbatasan Anggaran Sering Berubah Menjadi Keterbatasan Cara Berpikir
Mengakui
bahwa anggaran terbatas adalah sikap realistis.
Tetapi ada
perbedaan antara mengakui keterbatasan dan menyerah pada keterbatasan.
Yang pertama
membuat pemerintah nagari lebih berhati-hati menentukan prioritas.
Yang kedua
dapat membuat pembicaraan berhenti terlalu cepat.
Ketika
muncul persoalan, pertanyaan pertama yang sering terdengar adalah:
“Ada
anggarannya atau tidak?”
Jika
jawabannya tidak ada, pembicaraan pun selesai.
Padahal,
mungkin pertanyaan berikutnya justru lebih penting:
Apakah
persoalan ini memang harus dibiayai nagari?
Siapa yang
memiliki kewenangan untuk menanganinya?
Adakah
program pemerintah lain yang relevan?
Siapa yang
memiliki pengetahuan, jaringan, atau sumber daya yang dapat membantu?
Apakah
masyarakat, komunitas, perguruan tinggi, dunia usaha, organisasi sosial, atau
pihak lain dapat menjadi bagian dari solusi?
Perubahan
pertanyaan ini terlihat sederhana, tetapi sesungguhnya mengubah cara kita
memandang pembangunan.
Dari semula:
“Berapa uang
yang kita punya?”
menjadi:
“Sumber daya
apa yang dapat kita gerakkan?”
Di sinilah
nagari mulai keluar dari jebakan melihat APB sebagai satu-satunya kekuatan
pembangunan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Anggaran Penting, tetapi Bukan Satu-Satunya Sumber Daya
Tentu saja
pembangunan membutuhkan uang.
Tidak ada
gunanya berpura-pura bahwa semua persoalan dapat selesai hanya dengan semangat
gotong royong atau rapat kolaborasi. Jalan membutuhkan biaya. Bangunan
membutuhkan anggaran. Pelayanan membutuhkan sumber daya. Program membutuhkan
perencanaan dan pembiayaan yang jelas.
Karena itu,
tulisan ini bukan sedang mengatakan bahwa anggaran tidak penting.
Justru
sebaliknya.
Anggaran
harus dikelola dengan semakin baik karena sumber daya itu terbatas.
Tetapi
persoalannya muncul ketika kita menganggap bahwa yang tidak tercatat dalam APB
berarti bukan sumber daya pembangunan.
Padahal
sebuah nagari memiliki kekuatan lain.
Ada
pengetahuan masyarakat.
Ada
pengalaman lokal.
Ada jaringan
tokoh.
Ada
komunitas.
Ada tenaga
profesional.
Ada
perguruan tinggi.
Ada dunia
usaha.
Ada
organisasi sosial.
Ada media
yang dapat membantu memperluas informasi dan memperkenalkan potensi.
Ada pula
program dan sumber daya pemerintah pada tingkatan lain yang dapat dihubungkan
dengan kebutuhan masyarakat.
Semua itu
tidak otomatis berubah menjadi pembangunan. Sumber daya yang tersebar tetap
akan menjadi potensi yang diam jika tidak ada pihak yang mampu melihat,
mempertemukan, dan menggerakkannya.
Karena itu,
masalah pembangunan tidak selalu terletak pada tidak adanya sumber daya.
Kadang
masalahnya adalah sumber daya yang ada belum pernah saling terhubung.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Musrenbang Seharusnya Tidak Berhenti pada Daftar Usulan
Di titik
inilah cara kita memandang Musrenbang menjadi penting.
Musrenbang sering
dipahami sebagai tempat masyarakat membawa sebanyak mungkin usulan. Jalan
masuk. Irigasi masuk. Gedung masuk. Bantuan kelompok masuk. Pelatihan masuk.
Semakin
banyak usulan, seolah semakin lengkap sebuah Musrenbang.
Padahal,
banyaknya usulan tidak otomatis menghasilkan perencanaan yang baik.
Pertanyaan
yang lebih penting adalah: apa persoalan yang sebenarnya ingin diselesaikan?
Pembahasan
ini juga berkaitan dengan refleksi dalam artikel Musrenbang Nagari Bukan Tempat Mengumpulkan Usulan.
Ketika Musrenbang hanya menjadi tempat menumpuk daftar kebutuhan, forum
tersebut mudah berubah menjadi ruang untuk memperjuangkan kepentingan
masing-masing tanpa benar-benar melihat gambaran pembangunan secara utuh.
Padahal,
Musrenbang dapat melakukan pekerjaan yang jauh lebih penting.
Forum itu
dapat menjadi ruang untuk bertanya:
Persoalan
apa yang paling mendesak?
Siapa yang
paling terdampak?
Data apa
yang mendukung persoalan tersebut?
Apakah
nagari memiliki kewenangan untuk menyelesaikannya?
Jika tidak,
melalui jalur mana persoalan itu harus diperjuangkan?
Dan siapa
saja yang dapat dilibatkan?
Cara kerja
seperti ini membutuhkan dasar yang kuat. Karena tanpa data, penentuan prioritas
mudah kembali menjadi pertarungan suara yang paling keras atau kepentingan yang
paling kuat. Itulah sebabnya pertanyaan apakah musyawarah nagari sudah benar-benar berbasis data
tidak boleh dianggap sebagai persoalan teknis semata.
Data
membantu nagari memahami masalah.
Tetapi data
saja belum cukup.
Setelah
masalah terbaca, nagari masih harus menemukan jalan keluarnya.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tidak Semua Persoalan Harus Diselesaikan oleh Nagari Sendiri
Inilah
mungkin perubahan cara berpikir yang paling penting.
Pemerintah
nagari memiliki kewenangan.
Tetapi
kewenangannya tidak mencakup seluruh persoalan pembangunan.
Pemerintah
nagari memiliki anggaran.
Tetapi
anggarannya tidak akan cukup untuk seluruh kebutuhan.
Artinya,
kemampuan nagari memang memiliki batas.
Namun
pembangunan tidak harus berhenti di batas itu.
Ketika
sebuah persoalan berada di luar kewenangan nagari, yang dibutuhkan bukan
memaksakannya masuk ke APB. Ketika kebutuhannya melampaui kemampuan keuangan,
yang dibutuhkan bukan sekadar menghapusnya dari daftar.
Nagari harus
mulai mencari jalur penyelesaian yang sesuai.
Di sinilah
perencanaan yang baik tidak hanya berbicara tentang apa yang akan dikerjakan
sendiri oleh pemerintah nagari. Perencanaan juga harus mampu menunjukkan
persoalan mana yang perlu diperjuangkan melalui pemerintah yang lebih tinggi,
program sektoral, atau bentuk kerja sama dengan pihak lain.
Dengan
demikian, usulan yang belum dapat dibiayai tidak otomatis berubah menjadi
usulan yang dilupakan.
Ia dapat
memiliki jalur perjuangannya sendiri.
Cara pandang
ini sekaligus memperkuat pembahasan kita tentang partisipasi warga dalam Musyawarah Nagari.
Partisipasi yang bermakna bukan sekadar menghadirkan warga untuk menyampaikan
keinginan, tetapi memastikan persoalan yang mereka bawa benar-benar masuk ke
dalam proses mencari solusi.
Sebab warga
tentu tidak hanya membutuhkan kesempatan untuk berbicara.
Mereka
membutuhkan kepastian bahwa persoalan yang disampaikan memiliki jalan untuk
ditindaklanjuti.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Pemerintah yang Bekerja Sendiri Menuju Ekosistem yang Bergerak
Bersama
Pengalaman
lapangan sering menunjukkan bahwa persoalan pembangunan terlalu kompleks untuk
diselesaikan oleh satu lembaga.
Pemerintah
dapat memiliki anggaran, tetapi tidak selalu memiliki seluruh keahlian.
Perguruan
tinggi dapat memiliki pengetahuan, tetapi membutuhkan persoalan nyata untuk
diterjemahkan.
Dunia usaha
memiliki kemampuan dan jaringan tertentu, tetapi tidak selalu mengetahui
kebutuhan lokal yang relevan.
Masyarakat
memahami persoalan sehari-hari, tetapi mungkin membutuhkan akses terhadap
sumber daya yang lebih besar.
Komunitas
dan organisasi sosial dapat memiliki energi penggerak, tetapi memerlukan ruang
kerja sama.
Semua pihak
ini memiliki bagian-bagian kekuatan.
Tantangannya
adalah: siapa yang menghubungkan mereka?
Di sinilah
pendekatan pembangunan kolaboratif menjadi semakin relevan.
Kemendesa
sendiri dalam arah pembangunan desanya mendorong penguatan kolaborasi melalui
pendekatan Octahelix, yaitu cara melihat pembangunan sebagai kerja
bersama berbagai kekuatan. Gagasan ini penting bukan karena setiap persoalan
harus menghadirkan delapan pihak sekaligus.
Justru
kekuatannya terletak pada kemampuan membaca:
persoalannya
apa, sumber daya apa yang dibutuhkan, dan pihak mana yang paling relevan untuk
terlibat.
Sebuah
persoalan pendidikan, misalnya, mungkin membutuhkan peran yang berbeda dengan
persoalan ekonomi atau lingkungan.
Tidak semua
pihak harus hadir.
Tidak semua
pihak harus melakukan hal yang sama.
Kolaborasi
yang baik bukan tentang banyaknya orang dalam satu foto.
Kolaborasi
adalah pembagian peran untuk menyelesaikan persoalan yang tidak dapat
ditangani secara optimal oleh satu pihak saja.
Pendekatan
inilah yang akan kita bahas lebih jauh dalam artikel berikutnya: bagaimana
delapan kekuatan pembangunan dapat diterjemahkan secara nyata di tingkat
nagari.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pelajaran dari Sebuah Musrenbang di Nagari Lambah
Refleksi ini
berangkat dari sebuah kegiatan pendampingan dalam Musrenbang Nagari Lambah.
Di sana
terlihat kembali kenyataan yang sebenarnya dihadapi hampir semua nagari: kebutuhan
pembangunan jauh lebih luas daripada kemampuan satu sumber anggaran.
Tetapi
peristiwa lapangan tersebut juga menunjukkan sesuatu yang menarik.
Pembangunan
yang bergerak di sebuah nagari tidak selalu hanya berasal dari apa yang
tersedia dalam APB Nagari. Ketika kebutuhan dapat dibaca dengan baik, ketika
jalur kewenangan dipahami, dan ketika berbagai pihak dapat dihubungkan,
kemungkinan pembangunan dapat menjadi lebih luas.
Inilah
pelajaran yang menurut saya lebih penting daripada sekadar mencatat siapa yang
hadir atau berapa nilai program yang sedang berjalan.
Keterbatasan
anggaran adalah fakta. Tetapi keterbatasan tidak harus menjadi akhir dari
imajinasi pembangunan.
Sebuah
nagari dapat tetap realistis terhadap kemampuan fiskalnya sambil terus membuka
kemungkinan kerja sama.
Nagari dapat
tetap menentukan prioritas tanpa melupakan kebutuhan yang belum mampu dibiayai.
Nagari dapat
memahami batas kewenangannya tanpa berhenti memperjuangkan persoalan
masyarakat.
Dan yang
paling penting, nagari dapat belajar bahwa membangun bukan berarti harus
mengerjakan semuanya sendiri.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kapasitas Baru yang Dibutuhkan Nagari
Jika
pembangunan semakin bergantung pada kemampuan bekerja bersama, maka kapasitas
pemerintah nagari juga perlu berkembang.
Selama ini
kapasitas sering diukur dari kemampuan:
- menyusun dokumen;
- mengelola anggaran;
- melaksanakan kegiatan;
- membuat laporan.
Semua itu
tetap penting.
Namun ke
depan, ada kapasitas lain yang semakin menentukan:
kemampuan
menghubungkan.
Menghubungkan
masalah dengan data.
Menghubungkan
data dengan prioritas.
Menghubungkan
prioritas dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Menghubungkan
kebutuhan dengan sumber daya.
Menghubungkan
masyarakat dengan ruang pengambilan keputusan.
Menghubungkan
satu kekuatan dengan kekuatan lainnya.
Pemimpin
pembangunan tidak harus memiliki semua sumber daya.
Tetapi ia
harus mampu mengetahui di mana sumber daya itu berada dan bagaimana
menggerakkannya untuk menyelesaikan persoalan bersama.
Di sinilah
nagari dapat berkembang dari sekadar pelaksana program menjadi penggerak
ekosistem pembangunan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Anggaran Terbatas, Jalan Keluar Tidak Harus Ikut Terbatas
Pada
akhirnya, setiap nagari memang harus berhadapan dengan kenyataan anggaran.
Tidak semua
jalan dapat diperbaiki tahun ini.
Tidak semua
kelompok dapat menerima program sekaligus.
Tidak semua
kebutuhan dapat masuk ke dalam RKP.
Tidak semua
persoalan berada dalam kewenangan nagari.
Kenyataan
itu tidak boleh ditutupi dengan janji.
Tetapi ada
satu hal yang juga tidak boleh dilakukan: menganggap bahwa persoalan selesai
hanya karena anggaran nagari tidak cukup.
Perencanaan
harus tetap menentukan prioritas.
Penganggaran
harus tetap realistis.
Tetapi
setelah batas kemampuan itu ditemukan, nagari dapat melanjutkan satu langkah
lagi.
Bertanya:
Siapa yang
dapat diajak?
Siapa yang
memiliki kewenangan?
Siapa yang
memiliki sumber daya?
Melalui
jalur mana persoalan ini dapat diperjuangkan?
Pertanyaan-pertanyaan
inilah yang membuka kemungkinan baru.
Sebab
pembangunan tidak selalu gagal karena sebuah nagari memiliki uang yang sedikit.
Kadang
pembangunan berhenti karena nagari terlalu cepat percaya bahwa hanya uang
yang dimilikinya sendiri yang dapat menjadi kekuatan.
Padahal,
sebuah nagari mungkin memiliki lebih banyak kekuatan daripada yang terlihat
dalam tabel APB.
Ada
masyarakat.
Ada
pengetahuan.
Ada
jaringan.
Ada
institusi.
Ada mitra.
Ada
orang-orang yang memiliki kemampuan.
Tugas
berikutnya adalah menemukan cara agar semua kekuatan itu tidak berjalan
sendiri-sendiri.
Mungkin, di
situlah pertanyaan tentang pembangunan nagari perlu mulai diubah.
Bukan hanya:
“Berapa
besar anggaran yang kita miliki?”
Tetapi juga:
“Seberapa
besar kekuatan yang mampu kita hubungkan dan gerakkan?”
Sebab
anggaran memang memiliki batas.
Tetapi selama nagari masih mampu membaca persoalan, membangun hubungan, dan membuka kerja sama, pembangunan tidak harus ikut berhenti di batas angka yang tercantum dalam APB Nagari.
