Celoteh Nagari : Ada satu kebiasaan yang cukup kuat dalam cara kita memandang pembangunan nagari.
Ketika
sebuah persoalan muncul, perhatian biasanya segera tertuju kepada pemerintah
nagari.
Jika jalan
rusak, pemerintah nagari ditanya.
Jika
pelayanan belum berjalan baik, pemerintah nagari diminta mencari solusi.
Jika
kelompok masyarakat membutuhkan dukungan, harapannya kembali kepada nagari.
Jika
anggaran terbatas, seolah persoalan pembangunan pun harus ikut mengecil.
Cara
berpikir ini sebenarnya dapat dimengerti. Pemerintah nagari memang menjadi
institusi yang paling dekat dengan masyarakat. Masyarakat melihat pemerintah
sebagai pintu pertama untuk menyampaikan persoalan dan harapan.
Namun ada
satu kenyataan yang tidak dapat diabaikan.
Pemerintah
nagari tidak memiliki seluruh sumber daya untuk menyelesaikan seluruh persoalan
sendirian.
Nagari
memiliki anggaran yang terbatas. Kewenangannya juga memiliki batas. Sementara
persoalan masyarakat justru semakin kompleks.
Karena itu,
pertanyaan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada:
Apa yang
dapat dikerjakan pemerintah nagari?
Tetapi mulai
berkembang menjadi:
Siapa saja
yang dapat menjadi bagian dari penyelesaian persoalan ini?
Perubahan
pertanyaan inilah yang membawa kita kepada gagasan Kolaborasi Octahelix ala
Kemendesa.
Dalam
Renstra Kemendesa PDT 2025–2029, tata ulang sistem kolaborasi lintas
kementerian/lembaga dan pemerintah daerah melalui Kolaborasi Desa/Kolaborasi
Octahelix ditempatkan sebagai salah satu strategi akselerasi pembangunan.
Dalam perkembangan praktiknya, Kemendesa juga terus mendorong penguatan sinergi
lintas sektor dan pendekatan kolaboratif untuk mempercepat pembangunan desa
yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (Kemendesa)
Tetapi bagi
nagari, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:
Apa itu
Octahelix?
Pertanyaan
yang lebih penting adalah:
Bagaimana
delapan kekuatan itu benar-benar membantu menyelesaikan persoalan masyarakat?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Octahelix Bukan Mengumpulkan Delapan Pihak dalam Satu Ruangan
Di sinilah
pemahaman tentang Octahelix perlu diluruskan sejak awal.
Jangan
sampai pendekatan ini diterjemahkan terlalu sederhana: pemerintah nagari mengundang
banyak pihak ke sebuah forum, mengambil foto bersama, lalu menyebutnya
kolaborasi.
Itu belum
tentu kolaborasi.
Demikian
pula, Octahelix bukan kewajiban untuk selalu menghadirkan delapan pihak dalam
setiap persoalan pembangunan.
Sebuah
nagari tidak perlu memanggil semua unsur hanya karena ingin terlihat telah
menjalankan konsep Octahelix.
Esensi
pendekatan ini jauh lebih penting daripada jumlah pihak yang hadir.
Octahelix
adalah cara memperluas kemungkinan solusi dengan mempertemukan persoalan,
sumber daya, dan pihak yang tepat.
Jika
persoalannya membutuhkan pengetahuan dan penelitian, perguruan tinggi mungkin
menjadi mitra penting.
Jika
persoalannya membutuhkan akses pasar, dunia usaha dan profesional mungkin lebih
relevan.
Jika
persoalannya berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat, komunitas, tokoh
masyarakat, media, dan kelompok warga dapat memiliki peran yang lebih besar.
Jika
persoalan membutuhkan dukungan program lintas kewenangan, pemerintah pada
tingkatan yang berbeda harus dapat dihubungkan.
Jadi,
pertanyaannya bukan:
“Sudahkah
kita melibatkan delapan pihak?”
Tetapi:
“Untuk
persoalan ini, siapa yang benar-benar memiliki peran dan sumber daya yang kita
butuhkan?”
Di situlah
kolaborasi mulai menjadi lebih nyata.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Delapan Kekuatan yang Dapat Digerakkan
Dalam
pendekatan Octahelix yang dikembangkan dalam arah kolaborasi Kemendesa,
pembangunan dipandang tidak hanya sebagai kerja satu institusi. Ia membutuhkan
keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dengan kekuatan yang berbeda.
Dalam
konteks nagari, delapan kekuatan tersebut dapat kita baca sebagai berikut.
1. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah
Pemerintah
tetap menjadi salah satu kekuatan utama pembangunan.
Tetapi
penting untuk memahami bahwa pemerintah bukan hanya pemerintah nagari.
Ada
pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, lembaga, hingga
berbagai perangkat daerah yang memiliki kewenangan, program, dan sumber daya
berbeda.
Inilah
sebabnya sebuah persoalan tidak selalu harus dipaksakan masuk ke APB Nagari.
Jika sebuah
kebutuhan berada di luar kewenangan atau kemampuan nagari, pemerintah nagari
perlu mengetahui ke mana persoalan itu harus dibawa dan melalui jalur apa
diperjuangkan.
Kemampuan
memahami hubungan antara persoalan, kewenangan, dan perencanaan menjadi sangat
penting. Sebab seperti pernah dibahas dalam artikel Kesalahan Penyusunan RKP Nagari, perencanaan yang
lemah dapat membuat nagari sibuk menyusun daftar kegiatan tanpa cukup kuat
membaca persoalan, menentukan prioritas, dan menemukan jalur penyelesaiannya.
Dalam
kerangka Octahelix, pemerintah bukan satu-satunya pelaksana pembangunan.
Pemerintah
adalah salah satu penggerak dan penghubung dalam ekosistem yang lebih
luas.
2. Masyarakat dan Komunitas
Pembangunan
yang terlalu bergantung kepada institusi sering melupakan satu kekuatan
terbesar yang sebenarnya sudah berada di nagari: masyarakat itu sendiri.
Masyarakat
bukan sekadar penerima manfaat.
Mereka
memahami persoalan sehari-hari.
Mereka
mengetahui kondisi lokal.
Mereka
memiliki pengalaman, jaringan sosial, gotong royong, dan dalam banyak kasus,
kemampuan untuk menggerakkan perubahan.
Komunitas
juga dapat menjadi ruang yang memperkuat energi tersebut.
Kelompok
pemuda, kelompok perempuan, kelompok tani, komunitas pendidikan, kelompok
lingkungan, kelompok usaha, dan berbagai organisasi warga dapat menjadi
kekuatan yang jauh lebih besar ketika diberi ruang untuk mengambil peran.
Di sini,
partisipasi tidak cukup dipahami sebagai hadir dalam musyawarah dan
menyampaikan usulan.
Partisipasi
perlu bergerak lebih jauh:
ikut
memahami persoalan, ikut merancang solusi, dan bila memungkinkan ikut mengambil
peran dalam pelaksanaannya.
Sebab
pembangunan yang sepenuhnya menempatkan masyarakat sebagai penonton akan selalu
membebani pemerintah untuk melakukan semuanya sendiri.
3. Perguruan Tinggi
Tidak semua
persoalan pembangunan dapat diselesaikan hanya dengan pengalaman dan intuisi.
Ada masalah
yang membutuhkan penelitian.
Ada potensi
yang perlu dipetakan.
Ada program
yang membutuhkan pendampingan.
Ada inovasi
yang memerlukan pengetahuan dan pengujian.
Di sinilah
perguruan tinggi dapat menjadi kekuatan penting.
Namun
hubungan nagari dengan perguruan tinggi juga perlu berubah.
Jangan hanya
datang ketika membutuhkan mahasiswa KKN atau sekadar kegiatan seremonial.
Nagari dapat
membangun hubungan yang lebih substantif.
Misalnya,
persoalan pengembangan produk lokal dapat menjadi bahan riset. Persoalan
pendidikan dapat menjadi ruang pengabdian. Potensi ekonomi dapat dipetakan
bersama. Kelompok masyarakat dapat memperoleh pelatihan berdasarkan kebutuhan
nyata.
Perguruan
tinggi membawa pengetahuan.
Nagari
membawa persoalan nyata.
Ketika
keduanya bertemu, pengetahuan memiliki ruang untuk diterapkan dan persoalan
lokal memiliki peluang mendapatkan pendekatan baru.
4. Dunia Usaha
Salah satu
kesalahan yang sering terjadi adalah melihat dunia usaha hanya sebagai pihak
yang mungkin memberikan bantuan.
Padahal
kontribusi dunia usaha dapat jauh lebih luas.
Dunia usaha
memahami pasar.
Mereka
memiliki pengalaman dalam manajemen.
Mereka
mengetahui jaringan distribusi.
Mereka
memahami kebutuhan konsumen dan, dalam banyak bidang, memiliki akses terhadap
teknologi serta inovasi.
Karena itu,
kolaborasi tidak selalu harus berbentuk permintaan dana atau bantuan sosial.
Nagari dapat
belajar membangun kemitraan yang saling memberi manfaat.
Produk
masyarakat membutuhkan pasar.
Dunia usaha
membutuhkan pemasok atau produk berkualitas.
Kelompok
usaha membutuhkan peningkatan kapasitas.
Pelaku
bisnis dan profesional dapat menjadi sumber pengalaman.
Di sinilah
pendekatan kolaboratif dapat membuka hubungan yang lebih sehat daripada sekadar
pola “nagari meminta, pihak lain memberi.”
Kolaborasi
terbaik justru berusaha menemukan kepentingan bersama.
5. Media
Media sering
dianggap hanya diperlukan ketika sebuah kegiatan telah selesai.
Undang
wartawan.
Ambil foto.
Buat berita.
Selesai.
Padahal
media dapat memiliki peran yang lebih strategis.
Media
membantu menyebarkan informasi.
Media dapat
memperkenalkan potensi nagari.
Media dapat
mengangkat persoalan yang membutuhkan perhatian lebih luas.
Media juga
dapat menjadi ruang belajar ketika pengalaman baik satu nagari dibagikan kepada
nagari lain.
Bagi Celoteh
Nagari sendiri, di sinilah peran media pembangunan menemukan maknanya.
Sebuah
peristiwa di lapangan tidak harus berhenti sebagai laporan kegiatan. Ia dapat
diolah menjadi pengetahuan, refleksi, dan gagasan yang dapat dipelajari oleh
pembaca lain.
Media tidak
menyelesaikan jalan yang rusak.
Tetapi media
dapat membuat persoalan, gagasan, praktik baik, dan peluang kolaborasi menjadi terlihat
oleh lebih banyak orang.
Dalam dunia
yang semakin terhubung, sesuatu yang tidak terlihat sering kali sulit menemukan
pihak yang dapat membantu.
6. Tokoh dan Pejabat
Setiap
nagari memiliki orang-orang yang dipercaya dan didengar.
Mereka
mungkin tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidikan, atau figur
yang memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial.
Ada pula
pejabat dan pemangku kepentingan yang memiliki posisi strategis dalam membuka
komunikasi dan mempertemukan kebutuhan dengan kebijakan.
Pengaruh
seperti ini tidak selalu dapat diukur dengan anggaran.
Seorang
tokoh dapat membantu membangun kepercayaan.
Seorang
pemimpin dapat mempertemukan pihak yang sebelumnya tidak pernah duduk bersama.
Seorang
pejabat dapat membantu menjelaskan jalur kebijakan.
Namun tentu
saja, peran mereka tidak boleh berhenti pada simbol kehadiran.
Pengaruh
menjadi kekuatan pembangunan ketika digunakan untuk membuka pintu, membangun
kepercayaan, dan mempercepat kerja sama yang memang dibutuhkan masyarakat.
7. Key Opinion Leader dan Profesional
Tidak semua
pengetahuan berada di dalam institusi formal.
Banyak
profesional memiliki keahlian spesifik yang sangat dibutuhkan masyarakat.
Ada ahli
teknologi.
Ada praktisi
pemasaran.
Ada tenaga
kesehatan.
Ada
pengusaha.
Ada
pendidik.
Ada
konsultan.
Ada kreator
yang memahami komunikasi digital.
Ada figur
yang dipercaya oleh kelompok tertentu dan mampu memengaruhi cara masyarakat
melihat sebuah persoalan.
Dalam
konteks Octahelix, kekuatan ini dapat membantu nagari memperoleh akses terhadap
keahlian dan jaringan yang mungkin belum tersedia di dalam pemerintah
nagari.
Tetapi
kuncinya tetap sama.
Nagari harus
mampu menjelaskan persoalan secara jelas.
Sulit
mengajak profesional terlibat jika kebutuhan yang ingin diselesaikan sendiri
masih kabur.
Karena itu,
semakin baik sebuah nagari memetakan masalahnya, semakin mudah pula ia
menjelaskan bentuk dukungan yang dibutuhkan.
8. Yayasan, Organisasi Masyarakat, dan Lembaga Sosial
Di luar
struktur pemerintahan, terdapat banyak organisasi yang bergerak pada
bidang-bidang tertentu.
Ada yang
fokus pada pendidikan.
Ada yang
bekerja di bidang kesehatan.
Ada yang
bergerak pada lingkungan.
Ada yang
mendampingi kelompok rentan.
Ada yang
memiliki perhatian pada pemberdayaan ekonomi.
Mereka
memiliki pengalaman, metode kerja, dan dalam beberapa kasus jaringan pembiayaan
yang berbeda dengan pemerintah.
Bagi nagari,
keberadaan mereka dapat menjadi peluang kolaborasi.
Namun sekali
lagi, pendekatannya tidak boleh sekadar:
“Siapa yang
bisa memberikan bantuan?”
Nagari perlu
bertanya:
“Persoalan
apa yang sedang kami hadapi, dan lembaga mana yang memiliki fokus serta
pengalaman yang relevan?”
Di situlah
hubungan dapat dibangun berdasarkan kesesuaian persoalan dan tujuan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Delapan Kekuatan, Satu Persoalan yang Sama
Agar lebih
mudah dipahami, bayangkan sebuah nagari menghadapi persoalan kualitas
pendidikan anak usia dini.
Apakah
pemerintah nagari dapat menyelesaikannya sendiri?
Pemerintah
nagari mungkin dapat membantu pembiayaan tertentu.
Tetapi
peningkatan kualitas PAUD membutuhkan lebih dari sekadar anggaran.
Guru
membutuhkan peningkatan kapasitas.
Orang tua
membutuhkan pemahaman.
Masyarakat
perlu terlibat.
Lembaga
pendidikan dapat membantu pelatihan.
Perguruan
tinggi dapat memberikan pendampingan.
Profesional
dapat membantu pengembangan metode.
Komunitas
dapat menjadi ruang belajar.
Media dapat
membantu membangun kesadaran.
Contoh
seperti ini sebenarnya sudah terlihat dalam pembahasan Celoteh Nagari tentang Guru PAUD Desa: Kunci Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini.
Penguatan guru tidak cukup hanya dibebankan kepada satu pihak. Pelatihan,
dukungan pemerintah desa, keterlibatan masyarakat, dan kerja sama dengan
lembaga pendidikan dapat saling menguatkan.
Inilah cara
sederhana membaca Octahelix.
Bukan
delapan pihak harus melakukan delapan pekerjaan yang sama.
Tetapi masing-masing
membawa kekuatan yang berbeda untuk membantu menyelesaikan satu persoalan
bersama.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Mulailah dari Masalah, Bukan dari Daftar Mitra
Ini mungkin
pelajaran paling praktis dari seluruh konsep Octahelix.
Nagari
jangan memulai dengan pertanyaan:
“Siapa saja
yang bisa kita ajak bekerja sama?”
Pertanyaan
itu penting, tetapi sebaiknya bukan titik pertama.
Mulailah
dari masalah.
Langkah pertama: rumuskan persoalan
Bukan
sekadar:
“Kita
membutuhkan bantuan.”
Tetapi:
“Apa
sebenarnya persoalan yang sedang terjadi?”
Semakin
jelas masalahnya, semakin mudah mencari pihak yang relevan.
Langkah kedua: petakan kebutuhan sumber daya
Apa yang
dibutuhkan untuk menyelesaikannya?
Apakah
anggaran?
Pengetahuan?
Teknologi?
Akses pasar?
Pelatihan?
Jaringan?
Perubahan
perilaku?
Atau
kewenangan dari pihak tertentu?
Langkah ketiga: tentukan siapa yang relevan
Setelah
kebutuhan terbaca, barulah nagari bertanya:
Siapa yang
memiliki sumber daya tersebut?
Mungkin
pemerintah.
Mungkin
perguruan tinggi.
Mungkin
komunitas.
Mungkin
dunia usaha.
Mungkin
hanya dua atau tiga pihak yang benar-benar dibutuhkan.
Tidak
masalah.
Kolaborasi
tidak menjadi lebih baik hanya karena semakin banyak logo lembaga terpampang di
spanduk.
Langkah keempat: tentukan peran yang jelas
Setiap pihak
harus mengetahui:
apa yang
dapat dilakukan?
apa yang
diharapkan?
siapa yang
bertanggung jawab?
Kolaborasi
tanpa pembagian peran sering berakhir sebagai kesepakatan yang baik di ruang
rapat tetapi tidak bergerak setelah forum selesai.
Langkah kelima: jaga hubungan, bukan hanya kegiatannya
Inilah yang
sering terlupakan.
Kerja sama
tidak seharusnya selesai ketika satu kegiatan selesai.
Jika
hubungan baik terjaga, nagari dapat membangun jaringan yang semakin kuat untuk
menghadapi persoalan berikutnya.
Dengan kata
lain, kolaborasi bukan sekadar mencari bantuan ketika membutuhkan.
Kolaborasi
adalah membangun ekosistem hubungan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pemerintah Nagari Harus Berubah Menjadi Penghubung
Jika
pendekatan Octahelix dijalankan dengan baik, peran pemerintah nagari mengalami
perubahan penting.
Pemerintah
tetap menjadi pelaksana kewenangannya.
Tetap
menyusun perencanaan.
Tetap
mengelola anggaran.
Tetap
memberikan pelayanan.
Tetapi ia
juga mulai memainkan peran lain:
penghubung.
Menghubungkan
masalah masyarakat dengan data.
Menghubungkan
data dengan perencanaan.
Menghubungkan
perencanaan dengan pihak yang memiliki kewenangan.
Menghubungkan
potensi lokal dengan pasar.
Menghubungkan
masyarakat dengan sumber pengetahuan.
Menghubungkan
perguruan tinggi dengan persoalan nyata.
Menghubungkan
dunia usaha dengan peluang kemitraan.
Inilah salah
satu alasan mengapa artikel sebelumnya, Ketika Anggaran Terbatas, Apakah Pembangunan Harus Ikut
Terbatas?, memulai pembahasan dari persoalan keterbatasan anggaran.
Sebab ketika
kita menyadari bahwa APB Nagari bukan satu-satunya sumber daya pembangunan,
pertanyaan berikutnya menjadi tidak terhindarkan:
Siapa saja
yang dapat digerakkan?
Octahelix
memberikan satu kerangka untuk membaca kemungkinan itu.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Jangan Jadikan Octahelix Sekadar Istilah Baru
Tentu ada
risiko lain.
Seperti
banyak konsep pembangunan, Octahelix dapat kehilangan makna jika hanya menjadi
istilah baru dalam presentasi.
Kita membuat
bagan delapan pihak.
Mengadakan
rapat koordinasi.
Mengundang
banyak orang.
Lalu merasa
kolaborasi sudah terjadi.
Padahal,
masyarakat belum merasakan perubahan apa pun.
Karena itu,
ukuran keberhasilan Octahelix seharusnya tidak berhenti pada:
berapa
banyak pihak yang hadir.
Ukuran yang
lebih penting adalah:
persoalan
apa yang berhasil diselesaikan?
Apakah akses
masyarakat membaik?
Apakah
kapasitas warga meningkat?
Apakah ada
sumber daya baru yang berhasil digerakkan?
Apakah
program menjadi lebih efektif?
Apakah
nagari memiliki mitra yang dapat terus bekerja bersama?
Jika
jawabannya belum ada, mungkin yang terjadi baru koordinasi, belum kolaborasi.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Nagari Tidak Harus Memiliki Semua Kekuatan
Inilah inti
terpenting dari pendekatan Octahelix.
Sebuah
nagari tidak harus memiliki semua ahli.
Tidak harus
memiliki semua uang.
Tidak harus
mempunyai seluruh teknologi.
Tidak harus
mampu mengerjakan seluruh persoalan sendirian.
Tetapi
nagari perlu mengetahui:
apa
masalahnya.
sumber daya
apa yang dibutuhkan.
siapa yang
memiliki sumber daya tersebut.
bagaimana
mereka dapat dihubungkan.
Di masa
depan, mungkin ukuran kapasitas sebuah nagari tidak hanya dilihat dari seberapa
baik ia membelanjakan anggaran.
Tetapi juga
dari seberapa baik ia membangun jaringan, kepercayaan, kemitraan, dan kemampuan
untuk menggerakkan kekuatan bersama.
Di situlah
Octahelix menemukan maknanya.
Bukan
sebagai gambar delapan lingkaran.
Bukan
sebagai delapan nama dalam satu daftar.
Tetapi
sebagai cara baru melihat pembangunan:
Satu persoalan
tidak harus dipikul sendiri oleh satu pihak.
Ketika
pemerintah memahami kewenangannya, masyarakat mengambil peran, perguruan tinggi
membawa pengetahuan, dunia usaha membuka peluang, media memperluas jangkauan,
tokoh membangun kepercayaan, profesional menghadirkan keahlian, dan organisasi
sosial memperkuat kerja lapangan, nagari memiliki kemungkinan untuk bergerak
melampaui keterbatasan yang selama ini terlihat.
Dan mungkin,
dari sinilah pembangunan nagari perlu memulai langkah berikutnya.
Bukan dengan
bertanya:
“Siapa yang
akan membangun nagari ini?”
Tetapi:
“Kekuatan
apa yang sudah kita miliki, dan siapa yang belum kita hubungkan?”
Karena pada
akhirnya, delapan kekuatan itu mungkin sudah ada di sekitar kita. Tantangan
sebenarnya adalah apakah nagari telah memiliki kemampuan untuk mempertemukan
mereka menjadi kekuatan pembangunan yang bergerak bersama.
