Delapan Kekuatan untuk Membangun Nagari: Membaca Octahelix Ala Kemendesa

Ilustrasi kolaborasi delapan kekuatan Octahelix dalam pembangunan nagari bersama pemerintah, masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, media, tokoh, profesional, dan organisasi sosial
Pembangunan nagari tidak harus dikerjakan sendiri. Delapan kekuatan dapat bergerak bersama untuk membuka peluang dan menyelesaikan persoalan masyarakat.

Celoteh Nagari :
Ada satu kebiasaan yang cukup kuat dalam cara kita memandang pembangunan nagari.

Ketika sebuah persoalan muncul, perhatian biasanya segera tertuju kepada pemerintah nagari.

Jika jalan rusak, pemerintah nagari ditanya.

Jika pelayanan belum berjalan baik, pemerintah nagari diminta mencari solusi.

Jika kelompok masyarakat membutuhkan dukungan, harapannya kembali kepada nagari.

Jika anggaran terbatas, seolah persoalan pembangunan pun harus ikut mengecil.

Cara berpikir ini sebenarnya dapat dimengerti. Pemerintah nagari memang menjadi institusi yang paling dekat dengan masyarakat. Masyarakat melihat pemerintah sebagai pintu pertama untuk menyampaikan persoalan dan harapan.

Namun ada satu kenyataan yang tidak dapat diabaikan.

Pemerintah nagari tidak memiliki seluruh sumber daya untuk menyelesaikan seluruh persoalan sendirian.

Nagari memiliki anggaran yang terbatas. Kewenangannya juga memiliki batas. Sementara persoalan masyarakat justru semakin kompleks.

Karena itu, pertanyaan pembangunan seharusnya tidak berhenti pada:

Apa yang dapat dikerjakan pemerintah nagari?

Tetapi mulai berkembang menjadi:

Siapa saja yang dapat menjadi bagian dari penyelesaian persoalan ini?

Perubahan pertanyaan inilah yang membawa kita kepada gagasan Kolaborasi Octahelix ala Kemendesa.

Dalam Renstra Kemendesa PDT 2025–2029, tata ulang sistem kolaborasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah melalui Kolaborasi Desa/Kolaborasi Octahelix ditempatkan sebagai salah satu strategi akselerasi pembangunan. Dalam perkembangan praktiknya, Kemendesa juga terus mendorong penguatan sinergi lintas sektor dan pendekatan kolaboratif untuk mempercepat pembangunan desa yang lebih mandiri dan berkelanjutan. (Kemendesa)

Tetapi bagi nagari, pertanyaan pentingnya bukan sekadar:

Apa itu Octahelix?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Bagaimana delapan kekuatan itu benar-benar membantu menyelesaikan persoalan masyarakat?

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Octahelix Bukan Mengumpulkan Delapan Pihak dalam Satu Ruangan

Di sinilah pemahaman tentang Octahelix perlu diluruskan sejak awal.

Jangan sampai pendekatan ini diterjemahkan terlalu sederhana: pemerintah nagari mengundang banyak pihak ke sebuah forum, mengambil foto bersama, lalu menyebutnya kolaborasi.

Itu belum tentu kolaborasi.

Demikian pula, Octahelix bukan kewajiban untuk selalu menghadirkan delapan pihak dalam setiap persoalan pembangunan.

Sebuah nagari tidak perlu memanggil semua unsur hanya karena ingin terlihat telah menjalankan konsep Octahelix.

Esensi pendekatan ini jauh lebih penting daripada jumlah pihak yang hadir.

Octahelix adalah cara memperluas kemungkinan solusi dengan mempertemukan persoalan, sumber daya, dan pihak yang tepat.

Jika persoalannya membutuhkan pengetahuan dan penelitian, perguruan tinggi mungkin menjadi mitra penting.

Jika persoalannya membutuhkan akses pasar, dunia usaha dan profesional mungkin lebih relevan.

Jika persoalannya berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat, komunitas, tokoh masyarakat, media, dan kelompok warga dapat memiliki peran yang lebih besar.

Jika persoalan membutuhkan dukungan program lintas kewenangan, pemerintah pada tingkatan yang berbeda harus dapat dihubungkan.

Jadi, pertanyaannya bukan:

“Sudahkah kita melibatkan delapan pihak?”

Tetapi:

“Untuk persoalan ini, siapa yang benar-benar memiliki peran dan sumber daya yang kita butuhkan?”

Di situlah kolaborasi mulai menjadi lebih nyata.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Delapan Kekuatan yang Dapat Digerakkan

Dalam pendekatan Octahelix yang dikembangkan dalam arah kolaborasi Kemendesa, pembangunan dipandang tidak hanya sebagai kerja satu institusi. Ia membutuhkan keterlibatan berbagai pemangku kepentingan dengan kekuatan yang berbeda.

Dalam konteks nagari, delapan kekuatan tersebut dapat kita baca sebagai berikut.

1. Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah

Pemerintah tetap menjadi salah satu kekuatan utama pembangunan.

Tetapi penting untuk memahami bahwa pemerintah bukan hanya pemerintah nagari.

Ada pemerintah kabupaten, pemerintah provinsi, kementerian, lembaga, hingga berbagai perangkat daerah yang memiliki kewenangan, program, dan sumber daya berbeda.

Inilah sebabnya sebuah persoalan tidak selalu harus dipaksakan masuk ke APB Nagari.

Jika sebuah kebutuhan berada di luar kewenangan atau kemampuan nagari, pemerintah nagari perlu mengetahui ke mana persoalan itu harus dibawa dan melalui jalur apa diperjuangkan.

Kemampuan memahami hubungan antara persoalan, kewenangan, dan perencanaan menjadi sangat penting. Sebab seperti pernah dibahas dalam artikel Kesalahan Penyusunan RKP Nagari, perencanaan yang lemah dapat membuat nagari sibuk menyusun daftar kegiatan tanpa cukup kuat membaca persoalan, menentukan prioritas, dan menemukan jalur penyelesaiannya.

Dalam kerangka Octahelix, pemerintah bukan satu-satunya pelaksana pembangunan.

Pemerintah adalah salah satu penggerak dan penghubung dalam ekosistem yang lebih luas.

2. Masyarakat dan Komunitas

Pembangunan yang terlalu bergantung kepada institusi sering melupakan satu kekuatan terbesar yang sebenarnya sudah berada di nagari: masyarakat itu sendiri.

Masyarakat bukan sekadar penerima manfaat.

Mereka memahami persoalan sehari-hari.

Mereka mengetahui kondisi lokal.

Mereka memiliki pengalaman, jaringan sosial, gotong royong, dan dalam banyak kasus, kemampuan untuk menggerakkan perubahan.

Komunitas juga dapat menjadi ruang yang memperkuat energi tersebut.

Kelompok pemuda, kelompok perempuan, kelompok tani, komunitas pendidikan, kelompok lingkungan, kelompok usaha, dan berbagai organisasi warga dapat menjadi kekuatan yang jauh lebih besar ketika diberi ruang untuk mengambil peran.

Di sini, partisipasi tidak cukup dipahami sebagai hadir dalam musyawarah dan menyampaikan usulan.

Partisipasi perlu bergerak lebih jauh:

ikut memahami persoalan, ikut merancang solusi, dan bila memungkinkan ikut mengambil peran dalam pelaksanaannya.

Sebab pembangunan yang sepenuhnya menempatkan masyarakat sebagai penonton akan selalu membebani pemerintah untuk melakukan semuanya sendiri.

3. Perguruan Tinggi

Tidak semua persoalan pembangunan dapat diselesaikan hanya dengan pengalaman dan intuisi.

Ada masalah yang membutuhkan penelitian.

Ada potensi yang perlu dipetakan.

Ada program yang membutuhkan pendampingan.

Ada inovasi yang memerlukan pengetahuan dan pengujian.

Di sinilah perguruan tinggi dapat menjadi kekuatan penting.

Namun hubungan nagari dengan perguruan tinggi juga perlu berubah.

Jangan hanya datang ketika membutuhkan mahasiswa KKN atau sekadar kegiatan seremonial.

Nagari dapat membangun hubungan yang lebih substantif.

Misalnya, persoalan pengembangan produk lokal dapat menjadi bahan riset. Persoalan pendidikan dapat menjadi ruang pengabdian. Potensi ekonomi dapat dipetakan bersama. Kelompok masyarakat dapat memperoleh pelatihan berdasarkan kebutuhan nyata.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan.

Nagari membawa persoalan nyata.

Ketika keduanya bertemu, pengetahuan memiliki ruang untuk diterapkan dan persoalan lokal memiliki peluang mendapatkan pendekatan baru.

4. Dunia Usaha

Salah satu kesalahan yang sering terjadi adalah melihat dunia usaha hanya sebagai pihak yang mungkin memberikan bantuan.

Padahal kontribusi dunia usaha dapat jauh lebih luas.

Dunia usaha memahami pasar.

Mereka memiliki pengalaman dalam manajemen.

Mereka mengetahui jaringan distribusi.

Mereka memahami kebutuhan konsumen dan, dalam banyak bidang, memiliki akses terhadap teknologi serta inovasi.

Karena itu, kolaborasi tidak selalu harus berbentuk permintaan dana atau bantuan sosial.

Nagari dapat belajar membangun kemitraan yang saling memberi manfaat.

Produk masyarakat membutuhkan pasar.

Dunia usaha membutuhkan pemasok atau produk berkualitas.

Kelompok usaha membutuhkan peningkatan kapasitas.

Pelaku bisnis dan profesional dapat menjadi sumber pengalaman.

Di sinilah pendekatan kolaboratif dapat membuka hubungan yang lebih sehat daripada sekadar pola “nagari meminta, pihak lain memberi.”

Kolaborasi terbaik justru berusaha menemukan kepentingan bersama.

5. Media

Media sering dianggap hanya diperlukan ketika sebuah kegiatan telah selesai.

Undang wartawan.

Ambil foto.

Buat berita.

Selesai.

Padahal media dapat memiliki peran yang lebih strategis.

Media membantu menyebarkan informasi.

Media dapat memperkenalkan potensi nagari.

Media dapat mengangkat persoalan yang membutuhkan perhatian lebih luas.

Media juga dapat menjadi ruang belajar ketika pengalaman baik satu nagari dibagikan kepada nagari lain.

Bagi Celoteh Nagari sendiri, di sinilah peran media pembangunan menemukan maknanya.

Sebuah peristiwa di lapangan tidak harus berhenti sebagai laporan kegiatan. Ia dapat diolah menjadi pengetahuan, refleksi, dan gagasan yang dapat dipelajari oleh pembaca lain.

Media tidak menyelesaikan jalan yang rusak.

Tetapi media dapat membuat persoalan, gagasan, praktik baik, dan peluang kolaborasi menjadi terlihat oleh lebih banyak orang.

Dalam dunia yang semakin terhubung, sesuatu yang tidak terlihat sering kali sulit menemukan pihak yang dapat membantu.

6. Tokoh dan Pejabat

Setiap nagari memiliki orang-orang yang dipercaya dan didengar.

Mereka mungkin tokoh adat, tokoh masyarakat, tokoh agama, tokoh pendidikan, atau figur yang memiliki pengaruh dalam kehidupan sosial.

Ada pula pejabat dan pemangku kepentingan yang memiliki posisi strategis dalam membuka komunikasi dan mempertemukan kebutuhan dengan kebijakan.

Pengaruh seperti ini tidak selalu dapat diukur dengan anggaran.

Seorang tokoh dapat membantu membangun kepercayaan.

Seorang pemimpin dapat mempertemukan pihak yang sebelumnya tidak pernah duduk bersama.

Seorang pejabat dapat membantu menjelaskan jalur kebijakan.

Namun tentu saja, peran mereka tidak boleh berhenti pada simbol kehadiran.

Pengaruh menjadi kekuatan pembangunan ketika digunakan untuk membuka pintu, membangun kepercayaan, dan mempercepat kerja sama yang memang dibutuhkan masyarakat.

7. Key Opinion Leader dan Profesional

Tidak semua pengetahuan berada di dalam institusi formal.

Banyak profesional memiliki keahlian spesifik yang sangat dibutuhkan masyarakat.

Ada ahli teknologi.

Ada praktisi pemasaran.

Ada tenaga kesehatan.

Ada pengusaha.

Ada pendidik.

Ada konsultan.

Ada kreator yang memahami komunikasi digital.

Ada figur yang dipercaya oleh kelompok tertentu dan mampu memengaruhi cara masyarakat melihat sebuah persoalan.

Dalam konteks Octahelix, kekuatan ini dapat membantu nagari memperoleh akses terhadap keahlian dan jaringan yang mungkin belum tersedia di dalam pemerintah nagari.

Tetapi kuncinya tetap sama.

Nagari harus mampu menjelaskan persoalan secara jelas.

Sulit mengajak profesional terlibat jika kebutuhan yang ingin diselesaikan sendiri masih kabur.

Karena itu, semakin baik sebuah nagari memetakan masalahnya, semakin mudah pula ia menjelaskan bentuk dukungan yang dibutuhkan.

8. Yayasan, Organisasi Masyarakat, dan Lembaga Sosial

Di luar struktur pemerintahan, terdapat banyak organisasi yang bergerak pada bidang-bidang tertentu.

Ada yang fokus pada pendidikan.

Ada yang bekerja di bidang kesehatan.

Ada yang bergerak pada lingkungan.

Ada yang mendampingi kelompok rentan.

Ada yang memiliki perhatian pada pemberdayaan ekonomi.

Mereka memiliki pengalaman, metode kerja, dan dalam beberapa kasus jaringan pembiayaan yang berbeda dengan pemerintah.

Bagi nagari, keberadaan mereka dapat menjadi peluang kolaborasi.

Namun sekali lagi, pendekatannya tidak boleh sekadar:

“Siapa yang bisa memberikan bantuan?”

Nagari perlu bertanya:

“Persoalan apa yang sedang kami hadapi, dan lembaga mana yang memiliki fokus serta pengalaman yang relevan?”

Di situlah hubungan dapat dibangun berdasarkan kesesuaian persoalan dan tujuan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Delapan Kekuatan, Satu Persoalan yang Sama

Agar lebih mudah dipahami, bayangkan sebuah nagari menghadapi persoalan kualitas pendidikan anak usia dini.

Apakah pemerintah nagari dapat menyelesaikannya sendiri?

Pemerintah nagari mungkin dapat membantu pembiayaan tertentu.

Tetapi peningkatan kualitas PAUD membutuhkan lebih dari sekadar anggaran.

Guru membutuhkan peningkatan kapasitas.

Orang tua membutuhkan pemahaman.

Masyarakat perlu terlibat.

Lembaga pendidikan dapat membantu pelatihan.

Perguruan tinggi dapat memberikan pendampingan.

Profesional dapat membantu pengembangan metode.

Komunitas dapat menjadi ruang belajar.

Media dapat membantu membangun kesadaran.

Contoh seperti ini sebenarnya sudah terlihat dalam pembahasan Celoteh Nagari tentang Guru PAUD Desa: Kunci Kualitas Pendidikan Anak Usia Dini. Penguatan guru tidak cukup hanya dibebankan kepada satu pihak. Pelatihan, dukungan pemerintah desa, keterlibatan masyarakat, dan kerja sama dengan lembaga pendidikan dapat saling menguatkan.

Inilah cara sederhana membaca Octahelix.

Bukan delapan pihak harus melakukan delapan pekerjaan yang sama.

Tetapi masing-masing membawa kekuatan yang berbeda untuk membantu menyelesaikan satu persoalan bersama.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Mulailah dari Masalah, Bukan dari Daftar Mitra

Ini mungkin pelajaran paling praktis dari seluruh konsep Octahelix.

Nagari jangan memulai dengan pertanyaan:

“Siapa saja yang bisa kita ajak bekerja sama?”

Pertanyaan itu penting, tetapi sebaiknya bukan titik pertama.

Mulailah dari masalah.

Langkah pertama: rumuskan persoalan

Bukan sekadar:

“Kita membutuhkan bantuan.”

Tetapi:

“Apa sebenarnya persoalan yang sedang terjadi?”

Semakin jelas masalahnya, semakin mudah mencari pihak yang relevan.

Langkah kedua: petakan kebutuhan sumber daya

Apa yang dibutuhkan untuk menyelesaikannya?

Apakah anggaran?

Pengetahuan?

Teknologi?

Akses pasar?

Pelatihan?

Jaringan?

Perubahan perilaku?

Atau kewenangan dari pihak tertentu?

Langkah ketiga: tentukan siapa yang relevan

Setelah kebutuhan terbaca, barulah nagari bertanya:

Siapa yang memiliki sumber daya tersebut?

Mungkin pemerintah.

Mungkin perguruan tinggi.

Mungkin komunitas.

Mungkin dunia usaha.

Mungkin hanya dua atau tiga pihak yang benar-benar dibutuhkan.

Tidak masalah.

Kolaborasi tidak menjadi lebih baik hanya karena semakin banyak logo lembaga terpampang di spanduk.

Langkah keempat: tentukan peran yang jelas

Setiap pihak harus mengetahui:

apa yang dapat dilakukan?

apa yang diharapkan?

siapa yang bertanggung jawab?

Kolaborasi tanpa pembagian peran sering berakhir sebagai kesepakatan yang baik di ruang rapat tetapi tidak bergerak setelah forum selesai.

Langkah kelima: jaga hubungan, bukan hanya kegiatannya

Inilah yang sering terlupakan.

Kerja sama tidak seharusnya selesai ketika satu kegiatan selesai.

Jika hubungan baik terjaga, nagari dapat membangun jaringan yang semakin kuat untuk menghadapi persoalan berikutnya.

Dengan kata lain, kolaborasi bukan sekadar mencari bantuan ketika membutuhkan.

Kolaborasi adalah membangun ekosistem hubungan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Pemerintah Nagari Harus Berubah Menjadi Penghubung

Jika pendekatan Octahelix dijalankan dengan baik, peran pemerintah nagari mengalami perubahan penting.

Pemerintah tetap menjadi pelaksana kewenangannya.

Tetap menyusun perencanaan.

Tetap mengelola anggaran.

Tetap memberikan pelayanan.

Tetapi ia juga mulai memainkan peran lain:

penghubung.

Menghubungkan masalah masyarakat dengan data.

Menghubungkan data dengan perencanaan.

Menghubungkan perencanaan dengan pihak yang memiliki kewenangan.

Menghubungkan potensi lokal dengan pasar.

Menghubungkan masyarakat dengan sumber pengetahuan.

Menghubungkan perguruan tinggi dengan persoalan nyata.

Menghubungkan dunia usaha dengan peluang kemitraan.

Inilah salah satu alasan mengapa artikel sebelumnya, Ketika Anggaran Terbatas, Apakah Pembangunan Harus Ikut Terbatas?, memulai pembahasan dari persoalan keterbatasan anggaran.

Sebab ketika kita menyadari bahwa APB Nagari bukan satu-satunya sumber daya pembangunan, pertanyaan berikutnya menjadi tidak terhindarkan:

Siapa saja yang dapat digerakkan?

Octahelix memberikan satu kerangka untuk membaca kemungkinan itu.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Jangan Jadikan Octahelix Sekadar Istilah Baru

Tentu ada risiko lain.

Seperti banyak konsep pembangunan, Octahelix dapat kehilangan makna jika hanya menjadi istilah baru dalam presentasi.

Kita membuat bagan delapan pihak.

Mengadakan rapat koordinasi.

Mengundang banyak orang.

Lalu merasa kolaborasi sudah terjadi.

Padahal, masyarakat belum merasakan perubahan apa pun.

Karena itu, ukuran keberhasilan Octahelix seharusnya tidak berhenti pada:

berapa banyak pihak yang hadir.

Ukuran yang lebih penting adalah:

persoalan apa yang berhasil diselesaikan?

Apakah akses masyarakat membaik?

Apakah kapasitas warga meningkat?

Apakah ada sumber daya baru yang berhasil digerakkan?

Apakah program menjadi lebih efektif?

Apakah nagari memiliki mitra yang dapat terus bekerja bersama?

Jika jawabannya belum ada, mungkin yang terjadi baru koordinasi, belum kolaborasi.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Nagari Tidak Harus Memiliki Semua Kekuatan

Inilah inti terpenting dari pendekatan Octahelix.

Sebuah nagari tidak harus memiliki semua ahli.

Tidak harus memiliki semua uang.

Tidak harus mempunyai seluruh teknologi.

Tidak harus mampu mengerjakan seluruh persoalan sendirian.

Tetapi nagari perlu mengetahui:

apa masalahnya.

sumber daya apa yang dibutuhkan.

siapa yang memiliki sumber daya tersebut.

bagaimana mereka dapat dihubungkan.

Di masa depan, mungkin ukuran kapasitas sebuah nagari tidak hanya dilihat dari seberapa baik ia membelanjakan anggaran.

Tetapi juga dari seberapa baik ia membangun jaringan, kepercayaan, kemitraan, dan kemampuan untuk menggerakkan kekuatan bersama.

Di situlah Octahelix menemukan maknanya.

Bukan sebagai gambar delapan lingkaran.

Bukan sebagai delapan nama dalam satu daftar.

Tetapi sebagai cara baru melihat pembangunan:

Satu persoalan tidak harus dipikul sendiri oleh satu pihak.

Ketika pemerintah memahami kewenangannya, masyarakat mengambil peran, perguruan tinggi membawa pengetahuan, dunia usaha membuka peluang, media memperluas jangkauan, tokoh membangun kepercayaan, profesional menghadirkan keahlian, dan organisasi sosial memperkuat kerja lapangan, nagari memiliki kemungkinan untuk bergerak melampaui keterbatasan yang selama ini terlihat.

Dan mungkin, dari sinilah pembangunan nagari perlu memulai langkah berikutnya.

Bukan dengan bertanya:

“Siapa yang akan membangun nagari ini?”

Tetapi:

“Kekuatan apa yang sudah kita miliki, dan siapa yang belum kita hubungkan?”

Karena pada akhirnya, delapan kekuatan itu mungkin sudah ada di sekitar kita. Tantangan sebenarnya adalah apakah nagari telah memiliki kemampuan untuk mempertemukan mereka menjadi kekuatan pembangunan yang bergerak bersama.


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama