Celoteh Nagari

Catatan desa, data, dan refleksi lapangan tentang pendampingan, stunting, BUMDes, dan pembangunan nagari.

Jelajahi Celoteh Nagari

Ketika Warga Hadir Tapi Tidak Bersuara


Ketika Warga Hadir Tanpa Suara
Ketika Warga Hadir Tapi Tidak Bersuara #2

Refleksi dari Musim Perencanaan Nagari tentang Makna Partisipasi yang Sesungguhnya


📚 Serial Musim Perencanaan Nagari


Artikel ke-2 dari 10 artikel dalam serial yang membahas praktik musyawarah, partisipasi warga, dan penyusunan arah pembangunan desa.


➡️ Lihat seluruh serial


Musim perencanaan kembali tiba.


Undangan musyawarah nagari mulai disebarkan. Aula nagari kembali ramai. Wali jorong datang membawa daftar usulan dari wilayahnya. Anggota Bamus hadir. Perangkat nagari sibuk menyiapkan bahan perencanaan. Tokoh masyarakat, kader, pemuda, dan berbagai unsur lainnya memenuhi kursi yang telah disediakan.


Dari sisi kehadiran, semuanya tampak menggembirakan.


Namun, ada satu pemandangan yang hampir selalu saya temui dalam berbagai musyawarah perencanaan. Setelah acara dibuka dan sesi diskusi dimulai, suasana justru menjadi lebih tenang. Beberapa peserta hanya mendengarkan. Sebagian mengangguk ketika suatu usulan disampaikan. Ada yang sesekali berbicara dengan peserta di sampingnya. Namun hanya sedikit yang benar-benar menyampaikan pendapat di depan forum.


Musyawarah berjalan lancar. Tidak ada perdebatan berarti. Tidak ada perbedaan pandangan yang mencolok. Semua terlihat baik-baik saja.


Tetapi di balik ketenangan itu, muncul sebuah pertanyaan yang menarik untuk direnungkan.


Ketika warga hadir tetapi tidak bersuara, apakah mereka benar-benar berpartisipasi?


Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun sesungguhnya ia menyimpan persoalan yang jauh lebih dalam tentang bagaimana kita memahami partisipasi masyarakat dalam pembangunan nagari.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Catatan Lapangan


Tulisan ini berangkat dari pengalaman pendampingan dalam Musim Perencanaan Nagari yang berlangsung di berbagai nagari.


Salah satu praktik yang menjadi bahan refleksi adalah Musyawarah Nagari Penyusunan RKP yang menunjukkan tingginya kehadiran masyarakat dalam forum perencanaan. Namun di balik ramainya peserta, muncul pertanyaan yang menarik: mengapa tidak semua warga yang hadir memilih menyampaikan pendapat?


Pengalaman praktik tersebut telah ditulis dalam TPP Agam sebagai dokumentasi pendampingan. Sementara tulisan ini mencoba melihat makna yang lebih dalam di balik fenomena tersebut.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Apa yang Terjadi di Lapangan?


Dalam banyak laporan kegiatan, partisipasi masyarakat sering diukur dari jumlah kehadiran.


Semakin banyak warga yang datang, semakin tinggi tingkat partisipasi yang dianggap terjadi. Ukuran ini memang penting karena menunjukkan adanya keterlibatan masyarakat dalam proses pembangunan.


Namun kehadiran fisik tidak selalu mencerminkan keterlibatan yang sesungguhnya.


Tidak sedikit forum perencanaan yang dipenuhi peserta tetapi minim gagasan dari masyarakat. Sebaliknya, ada pula musyawarah yang pesertanya tidak terlalu banyak namun menghasilkan diskusi yang hidup dan berbagai usulan yang berkualitas.


Fenomena ini menunjukkan bahwa partisipasi tidak hanya soal hadir atau tidak hadir. Partisipasi juga berkaitan dengan sejauh mana masyarakat merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pandangan, mengajukan usulan, dan ikut memengaruhi arah pembangunan nagari.


Karena itu, ketika warga memilih diam dalam forum, kita perlu melihat lebih jauh daripada sekadar menyimpulkan bahwa mereka tidak peduli.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Diam Tidak Selalu Berarti Tidak Peduli


Salah satu kekeliruan yang sering terjadi adalah menganggap bahwa masyarakat yang tidak berbicara berarti tidak memiliki pendapat.


Padahal kenyataan di lapangan sering kali berbeda.


Banyak warga yang sangat aktif berdiskusi sebelum musyawarah dilaksanakan. Mereka berbicara di warung kopi, di surau, di pos ronda, atau saat menghadiri kegiatan kemasyarakatan. Mereka memahami persoalan yang terjadi di lingkungannya. Mereka mengetahui jalan mana yang rusak, saluran mana yang tersumbat, keluarga mana yang membutuhkan bantuan, dan potensi apa yang dapat dikembangkan.


Namun ketika memasuki ruang musyawarah, suara-suara tersebut tidak selalu muncul.


Ada warga yang merasa cukup menyampaikan aspirasi melalui wali jorong atau anggota Bamus. Ada yang lebih nyaman berbicara dalam kelompok kecil daripada forum resmi. Ada pula yang memilih menjadi pendengar karena merasa orang lain sudah menyampaikan hal yang sama.


Dalam konteks ini, diam bukan selalu tanda ketidakpedulian.


Terkadang diam adalah bentuk kepercayaan kepada mekanisme perwakilan yang ada. Terkadang pula diam adalah pilihan cara berpartisipasi yang berbeda.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Ketika Musyawarah Menjadi Formalitas


Meski demikian, tidak semua diam memiliki makna yang positif.


Dalam beberapa kasus, masyarakat memilih diam karena merasa forum yang dihadiri tidak lagi menentukan hasil akhir.


Mereka datang karena diundang. Mereka hadir karena menghormati pemerintah nagari. Namun mereka tidak yakin bahwa pendapat yang disampaikan akan membawa perubahan yang berarti.


Perasaan seperti ini biasanya tidak muncul secara tiba-tiba.


Ia terbentuk dari pengalaman yang berulang. Usulan yang sama diajukan setiap tahun tetapi belum terealisasi. Aspirasi disampaikan tetapi tindak lanjutnya tidak pernah diketahui. Hasil musyawarah tidak pernah dijelaskan kembali kepada masyarakat.


Ketika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, kepercayaan terhadap proses perlahan menurun.


Masyarakat tetap hadir, tetapi keterlibatan mereka mulai berkurang.


Di sinilah musyawarah berisiko berubah menjadi formalitas administratif. Forum tetap berjalan. Daftar hadir tetap terisi. Berita acara tetap dibuat. Namun ruh partisipasi perlahan menghilang.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Apakah Warga Merasa Suaranya Terlalu Kecil?


Ada faktor lain yang juga perlu dipertimbangkan.


Tidak semua warga merasa memiliki posisi yang setara untuk berbicara di ruang publik.


Dalam budaya masyarakat desa dan nagari, rasa hormat kepada tokoh adat, tokoh masyarakat, atau pejabat pemerintahan merupakan hal yang sangat penting. Namun terkadang budaya hormat tersebut membuat sebagian warga merasa sungkan menyampaikan pandangan yang berbeda.


Mereka khawatir dianggap menentang.


Mereka takut pendapatnya tidak cukup penting.


Mereka merasa orang lain lebih memahami persoalan yang dibahas.


Akibatnya, forum musyawarah lebih banyak diisi oleh suara dari orang-orang yang memang terbiasa berbicara. Sementara suara kelompok lain tetap berada di balik keheningan.


Jika kondisi ini terus terjadi, maka musyawarah berisiko hanya mendengar sebagian suara masyarakat, bukan keseluruhannya.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Ketika Warga Mulai Memahami Realitas Anggaran


Dalam beberapa tahun terakhir, saya juga menemukan fenomena lain yang menarik.


Sebagian masyarakat mulai memahami bahwa kemampuan keuangan nagari tidak selalu mampu mengakomodasi seluruh kebutuhan pembangunan yang ada.


Mereka mengetahui bahwa anggaran nagari memiliki berbagai prioritas dan keterbatasan. Mereka memahami bahwa banyak kebutuhan pembangunan memerlukan dukungan dari pemerintah kabupaten, provinsi, kementerian, maupun sumber pendanaan lainnya.


Kesadaran ini membuat sebagian warga menjadi lebih realistis.


Mereka tetap hadir dalam musyawarah, tetapi tidak lagi terlalu agresif memperjuangkan usulan tertentu karena memahami bahwa realisasi pembangunan tidak hanya bergantung pada APB Nagari.


Fenomena ini menarik karena menunjukkan bahwa diamnya warga tidak selalu lahir dari kekecewaan. Dalam beberapa kasus, diam justru lahir dari pemahaman terhadap realitas yang dihadapi nagari.


Namun kondisi ini sekaligus menjadi tantangan baru.


Jika masyarakat memahami keterbatasan anggaran, maka pemerintah nagari perlu menjelaskan bagaimana setiap usulan akan diperjuangkan melalui berbagai jalur perencanaan dan pendanaan yang tersedia. Dengan demikian, masyarakat tetap melihat adanya harapan dan arah yang jelas bagi usulan yang mereka sampaikan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Mengapa Hal Ini Penting?


Pembangunan yang baik tidak hanya menghasilkan kegiatan dan infrastruktur.


Pembangunan yang baik juga membangun kepercayaan.


Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat merasa didengar. Kepercayaan tumbuh ketika masyarakat memahami bagaimana keputusan diambil. Kepercayaan tumbuh ketika ada hubungan yang jelas antara aspirasi yang disampaikan dengan kebijakan yang dihasilkan.


Karena itu, kualitas musyawarah tidak dapat diukur hanya dari jumlah peserta yang hadir.


Kualitas musyawarah justru terlihat dari sejauh mana masyarakat merasa menjadi bagian dari proses tersebut.


Semakin kuat rasa memiliki terhadap proses perencanaan, semakin besar peluang masyarakat untuk mendukung dan mengawal pembangunan yang dilaksanakan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Pelajaran yang Bisa Dipetik


Ada satu pelajaran penting yang dapat kita ambil dari fenomena ini.


Partisipasi masyarakat tidak boleh dipahami secara sempit.


Partisipasi bukan sekadar duduk di ruangan yang sama. Partisipasi juga bukan sekadar berbicara paling banyak dalam forum.


Partisipasi adalah ketika masyarakat memiliki kesempatan yang setara untuk menyampaikan pandangan, memahami proses pengambilan keputusan, dan melihat bahwa aspirasi mereka memperoleh perhatian yang layak.


Dengan kata lain, partisipasi bukan hanya tentang suara yang terdengar, tetapi juga tentang keyakinan bahwa suara tersebut memiliki arti.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Gagasan dan Solusi


Untuk memperkuat partisipasi masyarakat dalam musim perencanaan nagari, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan.


Pertama, ciptakan ruang dialog yang lebih nyaman dan inklusif sehingga masyarakat tidak merasa sungkan untuk berbicara.


Kedua, perkuat mekanisme penyerapan aspirasi melalui jorong, Bamus, dan berbagai kelompok masyarakat agar suara yang tidak muncul dalam forum tetap dapat terwakili.


Ketiga, sampaikan hasil dan tindak lanjut musyawarah secara terbuka sehingga masyarakat mengetahui perkembangan dari usulan yang telah disampaikan.


Keempat, jelaskan jalur pendanaan setiap usulan. Masyarakat perlu memahami bahwa pembangunan tidak hanya bergantung pada APB Nagari, tetapi juga dapat diperjuangkan melalui berbagai program dan kolaborasi lintas sektor.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Refleksi Penutup


Musyawarah yang baik bukanlah musyawarah yang paling ramai.


Musyawarah yang baik adalah musyawarah yang membuat masyarakat merasa menjadi bagian dari keputusan yang lahir di dalamnya.


Sebab pembangunan nagari tidak dimulai ketika daftar usulan selesai disusun atau ketika anggaran ditetapkan. Pembangunan sesungguhnya dimulai ketika warga percaya bahwa suara mereka memiliki arti.


Maka dalam setiap musim perencanaan yang kita jalani, mungkin pertanyaan yang paling penting bukanlah berapa banyak warga yang hadir.


Melainkan, sudahkah masyarakat benar-benar merasa menjadi pemilik pembangunan di nagarinya?

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━


Lanjut Membaca

Jika Anda tertarik dengan tema Musim Perencanaan Nagari, Anda juga dapat membaca:


Sementara praktik pendampingan yang menjadi latar belakang tulisan ini dapat dibaca pada artikel TPP Agam :

·       MusyawarahNagari Lambah Susun RKP 2027 dan DU RKP 2028, Menjemput Kemandirian di TengahKeterbatasan Anggaran

·       MusyawarahNagari Balai Gurah Bahas Prioritas RKP 2027 dan DU RKP 2028 di TengahKeterbatasan Anggaran

·       DariAspirasi Jorong hingga Jam Malam Anak Sekolah: Pembelajaran Musyawarah NagariPenyusunan RKP 2027 dan DU RKP 2028 Nagari Pasia

·       MusyawarahNagari Penyusunan RKP 2027 dan DU RKP 2028 Nagari Ampang Gadang: BelajarMenetapkan Prioritas Pembangunan di Tengah Keterbatasan Anggaran

·       Belajardari Musyawarah Nagari Panampuang: Menyusun RKP 2027 dan DU RKP 2028 BerbasisPersoalan Nyata Masyarakat

·       MusyawarahNagari Batu Taba Bahas RKP 2027 dan DU RKP 2028, Menyusun Masa Depan Nagaridari Aspirasi Warga

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Ad 2

Tentang Celoteh Nagari

Ruang berbagi cerita desa, data SDGs, stunting, BUMDes, dan dinamika pembangunan nagari.

Stunting Bukan Sekadar Angka

Di balik data stunting, ada cerita keluarga, layanan yang belum utuh, dan tanggung jawab bersama nagari.

Baca catatan stunting di Celoteh Nagari →