Kesalahan yang Sering Terjadi dalam Penyusunan RKP Nagari

 

Ilustrasi rapat penyusunan RKP Nagari yang menampilkan diskusi perangkat nagari mengenai kesalahan umum dalam perencanaan, bagian dari Serial Musim Perencanaan Nagari #6 oleh Celoteh Nagari
Penyusunan RKP Nagari bukan sekadar menyusun daftar kegiatan, tetapi memastikan setiap program lahir dari data yang valid, kebutuhan masyarakat, dan prioritas pembangunan

SERIAL MUSIM PERENCANAAN NAGARI

Artikel ke-7 dari 10

01 / 02 / 03 / 04 / 05 / 06 / [07] / 08 / 09 / 10

Tentang Serial

Musim Perencanaan Nagari merupakan rangkaian sepuluh artikel yang mengulas praktik penyusunan RKP Nagari, dinamika musyawarah, partisipasi masyarakat, dan praktik baik pembangunan nagari berdasarkan pengalaman lapangan.

Lihat Daftar Lengkap Serial

"Mengapa usulan tahun ini masih sama seperti tahun lalu?"

Seorang anggota tim penyusun RKP Nagari pernah melontarkan pertanyaan itu di tengah rapat yang mulai berjalan lambat. Semua orang saling melihat. Beberapa membuka dokumen RKP tahun sebelumnya. Sebagian lain mulai membandingkan daftar usulan yang baru dikumpulkan dari jorong.

Ternyata isinya hampir sama.

Pembangunan jalan, drainase, irigasi, pagar kantor, lampu jalan, pelatihan yang berulang, hingga beberapa kegiatan yang bahkan pernah direncanakan tetapi tidak pernah dilaksanakan.

Dokumen lama menjadi rujukan utama. Tinggal mengganti tahun, menyesuaikan sedikit anggaran, lalu sebagian besar isi kembali dipindahkan ke dokumen baru.

Pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang langka. Di banyak nagari, penyusunan RKP masih dipahami sebagai pekerjaan administratif yang harus selesai tepat waktu, bukan sebagai proses merancang perubahan yang benar-benar dibutuhkan masyarakat.

Akibatnya, RKP memang selesai disusun. Namun kualitasnya belum tentu mampu menjawab persoalan pembangunan yang sedang dihadapi nagari.

Padahal, RKP Nagari bukan sekadar daftar kegiatan tahunan. Ia adalah jembatan yang menghubungkan visi jangka panjang dengan tindakan nyata yang akan dilakukan dalam satu tahun ke depan.

Lalu, di mana sebenarnya letak kesalahan yang paling sering terjadi?

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

RKP Bukan Dokumen Baru, Tetapi Juga Bukan Salinan Lama

Banyak orang menganggap bahwa menyusun RKP berarti memperbarui dokumen tahun sebelumnya.

Cara berpikir inilah yang sering menjadi awal berbagai persoalan.

Padahal setiap tahun kondisi nagari selalu berubah. Ada jalan yang sudah selesai dibangun. Ada kelompok masyarakat yang mulai berkembang. Ada persoalan baru akibat perubahan ekonomi, lingkungan, maupun kebijakan pemerintah.

Kalau kondisi berubah, mengapa isi dokumen tetap sama?

RKP seharusnya menjadi respons terhadap perubahan tersebut.

Karena itu, dokumen tahun sebelumnya memang penting sebagai bahan evaluasi, tetapi tidak boleh menjadi sumber utama penyusunan program.

Di sinilah praktik copy paste sering muncul. Bukan sekadar menyalin kalimat, tetapi menyalin cara berpikir.

Program lama dianggap tetap relevan tanpa pernah diuji kembali apakah masalah yang melatarbelakanginya masih ada atau justru sudah berubah.

Kesalahan Pertama: Copy Paste Program Tanpa Evaluasi

Kesalahan paling mudah dikenali adalah munculnya kegiatan yang terus berulang dari tahun ke tahun.

Bahkan kadang urutan kegiatannya pun sama.

Hal ini biasanya terjadi karena penyusun lebih fokus menyelesaikan dokumen daripada menyusun perencanaan.

Padahal setiap kegiatan seharusnya diawali oleh satu pertanyaan sederhana:

Masalah apa yang ingin diselesaikan?

Jika pertanyaan ini tidak pernah diajukan, maka kegiatan hanya menjadi rutinitas tahunan.

Akibatnya, nagari terus mengerjakan hal yang sama, tetapi perubahan yang diharapkan tidak pernah benar-benar terjadi.

Kesalahan Kedua: Tidak Sinkron dengan RPJM Nagari

Kesalahan berikutnya sering tidak terlihat secara kasat mata.

RKP disusun dengan baik, tetapi ketika dibandingkan dengan RPJM Nagari, ternyata arah pembangunannya tidak lagi sejalan.

Ada program yang muncul tiba-tiba.

Ada kegiatan prioritas RPJM yang justru hilang.

Ada target delapan tahunan yang tidak pernah diterjemahkan menjadi kegiatan tahunan.

Padahal RKP merupakan penjabaran tahunan dari RPJM Nagari.

Artinya, setiap kegiatan dalam RKP seharusnya memiliki hubungan yang jelas dengan tujuan pembangunan jangka menengah nagari.

Jika hubungan ini putus, maka pembangunan kehilangan arah.

Nagari mungkin tampak sibuk setiap tahun, tetapi bergerak tanpa peta yang jelas.

Kesalahan Ketiga: Tidak Berbasis Data

Data sering tersedia.

Namun tidak selalu digunakan.

Inilah ironi yang sering ditemukan di lapangan.

Nagari memiliki data kependudukan, data kemiskinan, data stunting, data Indeks Desa, data layanan dasar, bahkan hasil pemetaan berbagai persoalan masyarakat.

Sayangnya, ketika musyawarah dimulai, data hanya menjadi lampiran.

Keputusan tetap lebih banyak dipengaruhi oleh kebiasaan, persepsi, atau siapa yang paling aktif menyampaikan usulan.

Akibatnya, kegiatan yang dipilih belum tentu menjawab masalah yang paling mendesak.

Padahal data bukan dimaksudkan untuk menggantikan musyawarah.

Data justru membantu agar musyawarah menghasilkan keputusan yang lebih objektif.

Karena itu, pada artikel sebelumnya "Ketika Data Ada, Tetapi Tidak Menjadi Dasar Keputusan", kita telah melihat bahwa kualitas musyawarah sangat ditentukan oleh kemampuan peserta membaca dan menggunakan data, bukan sekadar memilikinya.

Kesalahan Keempat: Proposal Kegiatan Tidak Menjelaskan Dampak yang Ingin Dicapai

Kesalahan lain yang sering luput diperhatikan adalah kualitas proposal kegiatan yang diajukan oleh pelaksana kegiatan.

Dalam praktiknya, penyusunan RKP tidak berhenti pada munculnya usulan saat musyawarah. Setiap usulan prioritas seharusnya diterjemahkan menjadi proposal kegiatan yang memuat penjelasan lebih rinci mengenai masalah yang ingin diselesaikan, sasaran kegiatan, rencana pelaksanaan, kebutuhan anggaran, hingga indikator keberhasilannya.

Sayangnya, masih banyak proposal yang hanya menjelaskan apa yang akan dikerjakan, tetapi belum mampu menjelaskan mengapa kegiatan itu perlu dilakukan dan perubahan apa yang ingin dicapai.

Akibatnya, tim verifikasi kesulitan menilai apakah sebuah kegiatan benar-benar layak menjadi prioritas pembangunan atau hanya sekadar mengulang kegiatan yang sama setiap tahun.

Padahal, proposal kegiatan bukan sekadar persyaratan administrasi. Proposal merupakan alat untuk membuktikan bahwa suatu kegiatan memang menjadi solusi terhadap persoalan yang telah disepakati dalam musyawarah.

Semakin baik kualitas proposal, semakin mudah pula pemerintah nagari menentukan prioritas yang benar-benar berdampak.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Indikator Tidak Cukup Berhenti pada Output

Dalam banyak proposal kegiatan, indikator yang disampaikan masih sebatas output.

Misalnya:

  • terselenggaranya satu kali pelatihan;
  • terbangunnya 300 meter jalan usaha tani;
  • terlaksananya sosialisasi kepada 50 peserta.

Semua itu memang penting karena menunjukkan kegiatan telah dilaksanakan. Namun, indikator tersebut belum menjawab pertanyaan yang paling mendasar:

Apakah masalah yang ingin diselesaikan benar-benar berkurang?

Di sinilah pentingnya menyusun indikator outcome.

Jika output menjelaskan apa yang dihasilkan dari kegiatan, maka outcome menjelaskan perubahan yang terjadi setelah kegiatan tersebut dilaksanakan.

Sebagai contoh, pembangunan jalan usaha tani bukan hanya diukur dari panjang jalan yang selesai dibangun, tetapi juga apakah biaya angkut hasil pertanian menurun, akses petani menjadi lebih mudah, atau pendapatan petani meningkat.

Demikian pula pelatihan tidak cukup diukur dari jumlah peserta yang hadir, tetapi apakah peserta benar-benar menerapkan pengetahuan yang diperoleh sehingga memberikan manfaat bagi usahanya atau bagi pelayanan kepada masyarakat.

Dengan kata lain, keberhasilan pembangunan nagari tidak diukur dari banyaknya kegiatan yang selesai, melainkan dari seberapa besar kegiatan tersebut mampu menyelesaikan persoalan yang menjadi alasan mengapa kegiatan itu dipilih.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Tim Verifikasi Menilai Lebih dari Sekadar Kelengkapan Dokumen

Pada artikel "Siapa yang Sebenarnya Menentukan Prioritas?", kita telah membahas bahwa tim verifikasi RKP memiliki peran penting dalam menjaga kualitas perencanaan.

Tugas tim verifikasi bukan sekadar memeriksa apakah proposal sudah ditandatangani atau apakah anggarannya sesuai format.

Lebih dari itu, mereka perlu memastikan bahwa setiap proposal mampu menjawab beberapa pertanyaan penting.

  • Apakah kegiatan ini benar-benar berasal dari persoalan yang telah dibahas dalam musyawarah?
  • Apakah kegiatan ini selaras dengan arah RPJM Nagari?
  • Apakah didukung oleh data yang memadai?
  • Apakah indikator output dan outcome telah dirumuskan secara jelas?
  • Apakah kegiatan ini memiliki peluang nyata untuk menyelesaikan masalah yang menjadi prioritas?

Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut dijawab dengan baik, proses verifikasi tidak lagi dipandang sebagai tahapan administratif, melainkan sebagai mekanisme pengendalian mutu perencanaan pembangunan nagari.

Dengan demikian, kegiatan yang akhirnya masuk ke dalam RKP bukan hanya kegiatan yang mudah dilaksanakan, tetapi juga kegiatan yang paling berpeluang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Mengapa Kesalahan Ini Terus Berulang?

Jika diamati lebih jauh, akar persoalannya bukan semata-mata kemampuan teknis menyusun dokumen.

Persoalannya lebih dalam.

Masih banyak yang memandang RKP sebagai kewajiban administratif.

Orientasi akhirnya bergeser.

Yang penting dokumen selesai.

Yang penting sesuai format.

Yang penting dapat diverifikasi.

Padahal esensi perencanaan bukan menghasilkan dokumen.

Esensinya adalah membantu nagari mengambil keputusan terbaik berdasarkan kondisi nyata yang sedang dihadapi.

Ketika orientasi berubah menjadi administrasi semata, kualitas substansi ikut menurun.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Apa yang Dapat Dipelajari?

Pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa RKP yang baik hampir selalu memiliki beberapa karakter yang sama.

Pertama, penyusun memulai dari evaluasi, bukan dari dokumen lama.

Mereka melihat apa yang sudah berhasil, apa yang belum selesai, dan apa yang berubah selama satu tahun terakhir.

Kedua, setiap usulan selalu dikaitkan dengan tujuan RPJM Nagari.

Dengan cara ini, pembangunan tahunan tetap berada pada jalur yang sama menuju cita-cita lima tahunan.

Ketiga, data benar-benar digunakan untuk memvalidasi persoalan.

Musyawarah tidak lagi sekadar mengumpulkan usulan, tetapi mendiskusikan fakta.

Keempat, setiap kegiatan memiliki indikator yang sederhana tetapi terukur.

Bukan sekadar mudah dilaksanakan, melainkan juga mudah dievaluasi.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Lima Langkah Agar Penyusunan RKP Lebih Berkualitas

Ada beberapa langkah sederhana yang dapat diterapkan oleh pemerintah nagari maupun tim penyusun RKP.

Pertama, mulai dengan mengevaluasi RKP tahun sebelumnya, bukan langsung membuka dokumen untuk disalin.

Kedua, cocokkan setiap kegiatan dengan tujuan dan sasaran dalam RPJM Nagari.

Jika tidak memiliki hubungan yang jelas, kegiatan tersebut perlu dikaji ulang.

Ketiga, gunakan data sebagai bahan diskusi sejak awal musyawarah.

Jangan menunggu data muncul ketika dokumen hampir selesai.

Keempat, rumuskan indikator yang mudah dipahami dan dapat diukur.

Indikator yang baik membantu semua pihak mengetahui apakah pembangunan benar-benar berhasil.

Kelima, fokus pada penyelesaian masalah, bukan pada banyaknya kegiatan.

Sering kali satu kegiatan yang tepat jauh lebih bermanfaat daripada sepuluh kegiatan yang tidak menyentuh akar persoalan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

RKP Adalah Cerita Tentang Masa Depan

Pada akhirnya, RKP bukan sekadar kumpulan tabel, kode rekening, dan daftar kegiatan.

Ia adalah cerita tentang masa depan yang ingin dibangun oleh sebuah nagari.

Karena itu, kualitas RKP tidak ditentukan oleh tebalnya dokumen, tetapi oleh ketepatan cara berpikir di balik penyusunannya.

Dokumen yang disusun melalui copy paste, tidak sinkron dengan RPJM, tidak berbasis data, dan tanpa indikator yang jelas mungkin akan selesai tepat waktu. Namun besar kemungkinan ia hanya menjadi arsip baru di lemari kantor.

Sebaliknya, RKP yang lahir dari evaluasi, data, dan diskusi yang jujur akan menjadi peta perjalanan pembangunan yang benar-benar membantu nagari bergerak menuju perubahan.

Mungkin inilah pertanyaan yang layak kita renungkan menjelang setiap musim penyusunan RKP:

Apakah kita sedang menyusun dokumen tahunan, atau sedang merancang masa depan nagari?

<< Artikel Sebelumnya

Daftar Serial

Artikel Berikutnya >>


Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama