Celoteh Nagari

Catatan desa, data, dan refleksi lapangan tentang pendampingan, stunting, BUMDes, dan pembangunan nagari.

Jelajahi Celoteh Nagari

Apakah Musyawarah Nagari Sudah Berbasis Data?

 

apakah musyawarah nagari sudah berbasis data
Apakah Musyawarah Nagari Sudah Berbasis Data 
Serial Musim Perencanaan |RKP - 3

Refleksi dari Musim Perencanaan Nagari tentang Data yang digunakan dalam perencanaan Nagari

📚 Serial Musim Perencanaan Nagari

Artikel ke-3 dari 10 artikel dalam serial yang membahas praktik musyawarah, partisipasi warga, dan penyusunan arah pembangunan desa.

➡️ Lihat seluruh serial


Celoteh Nagari : Musyawarah Nagari seharusnya menjadi ruang paling penting dalam menentukan arah pembangunan nagari. Di forum inilah masyarakat, pemerintah nagari, Bamus, lembaga kemasyarakatan, hingga kelompok rentan menyampaikan kebutuhan dan harapan mereka. Namun, sebuah pertanyaan mendasar patut kita renungkan bersama: apakah Musyawarah Nagari sudah benar-benar berbasis data?

Dalam berbagai kegiatan pendampingan yang dilakukan dan terdokumentasi dalam TPP Agam, saya menemukan kenyataan yang menarik. Musyawarah Nagari memang berlangsung dengan baik, peserta hadir, usulan mengalir, diskusi berjalan cukup dinamis. Akan tetapi, ketika ditelusuri lebih dalam, sebagian besar usulan masih lahir dari ingatan, pengalaman pribadi, atau persepsi, bukan dari data yang benar-benar menggambarkan kondisi nagari.

Padahal, pembangunan yang baik selalu dimulai dari data yang baik. Tanpa data, Musyawarah Nagari berisiko hanya menjadi ajang mengumpulkan daftar keinginan, bukan merumuskan solusi atas persoalan nyata yang dihadapi masyarakat. Oleh karena itu, pertanyaan tentang Musyawarah Nagari berbasis data bukan sekadar isu teknis, melainkan menyangkut kualitas tata kelola pemerintahan nagari itu sendiri.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Mengapa Musyawarah Nagari Harus Berbasis Data?

Musyawarah Nagari bukan hanya memenuhi kewajiban regulasi. Lebih dari itu, forum ini merupakan proses pengambilan keputusan publik yang menentukan penggunaan dana miliaran rupiah setiap tahun.

Karena itu, setiap keputusan idealnya memiliki dasar yang kuat. Data menjadi fondasi agar pembangunan tidak sekadar mengikuti usulan yang paling keras suaranya, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Misalnya, ketika muncul usulan pembangunan jalan lingkungan, seharusnya forum tidak berhenti pada pertanyaan apakah jalan tersebut dibutuhkan. Musyawarah juga perlu mengetahui berapa jumlah warga yang terdampak, bagaimana kondisi akses saat ini, apakah lokasi tersebut mendukung kegiatan ekonomi, dan apakah pembangunan jalan menjadi prioritas dibandingkan persoalan lain.

Begitu pula ketika membahas stunting, kemiskinan, ketahanan pangan, sanitasi, pendidikan, hingga pengembangan BUMNag. Semua membutuhkan data yang akurat agar intervensi pemerintah tepat sasaran.

Dengan demikian, Musyawarah Nagari berbasis data bukan berarti mengurangi ruang aspirasi masyarakat, melainkan memastikan bahwa setiap aspirasi diperkuat oleh fakta.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Pengalaman Lapangan: Ketika Data Belum Menjadi Bahasa Bersama

Selama mendampingi berbagai Musyawarah Nagari penyusunan RKP Nagari, saya melihat pola yang hampir serupa.

Presentasi kondisi nagari biasanya masih didominasi laporan singkat dari pemerintah nagari. Data hanya ditampilkan sekilas, bahkan kadang hanya berupa angka jumlah penduduk dan besaran anggaran.

Ketika sesi usulan dimulai, peserta langsung menyampaikan berbagai kebutuhan.

"Pengecoran Jalan."

"Drainase."

“Perbaikan jalan usaha tani.”

"Irigasi."

"Gedung serbaguna."

Semua usulan memang penting. Namun ketika ditanya mengapa menjadi prioritas, jawabannya sering kali sederhana.

"Karena sudah lama diusulkan."

"Karena masyarakat menginginkan."

"Karena belum pernah dibangun."

Jawaban tersebut tentu tidak salah. Namun akan jauh lebih kuat apabila dilengkapi data.

Misalnya:

  • berapa panjang jalan yang rusak,
  • berapa rumah yang terdampak,
  • berapa luas lahan pertanian yang bergantung pada akses tersebut,
  • berapa potensi peningkatan ekonomi jika jalan diperbaiki.

Data semacam inilah yang mengubah usulan menjadi argumentasi yang kuat.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Data Nagari Sebenarnya Sudah Sangat Banyak

Ironisnya, sebagian besar nagari sebenarnya tidak kekurangan data.

Saat ini tersedia berbagai sumber data yang dapat digunakan dalam Musyawarah Nagari, antara lain:

  • Data Indeks Desa.
  • Data SDGs Desa.
  • Profil Nagari.
  • Data kependudukan.
  • Data kemiskinan.
  • Data stunting.
  • Data Posyandu.
  • Data eHDW.
  • Data BUMNag.
  • Data ketahanan pangan.
  • Data RPJM Nagari.
  • Data capaian RKP tahun sebelumnya.
  • Data APB Nagari.
  • Data pelayanan dasar.
  • Data infrastruktur.
  • Data pendidikan.
  • Data kesehatan.
  • Data kelompok rentan.
  • Data lingkungan.

Masalahnya bukan pada ketersediaan data.

Masalah utamanya adalah data tersebut masih tersimpan di komputer, map arsip, atau aplikasi, tetapi belum menjadi bahan diskusi publik.

Akibatnya, Musyawarah Nagari lebih banyak berbicara berdasarkan persepsi dibandingkan bukti.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Ketika Data Tidak Dipakai, Risiko Salah Prioritas Semakin Besar

Pembangunan tanpa data memiliki banyak konsekuensi.

Pertama, anggaran berpotensi tidak tepat sasaran.

Kedua, program yang dipilih tidak selalu menyelesaikan akar persoalan.

Ketiga, kelompok rentan bisa terabaikan karena tidak memiliki suara yang kuat dalam forum.

Keempat, evaluasi pembangunan menjadi sulit dilakukan karena tidak memiliki indikator awal.

Padahal salah satu prinsip pembangunan modern adalah evidence-based planning, yaitu perencanaan yang dibangun di atas bukti.

Prinsip ini juga sejalan dengan semangat Undang-Undang Desa yang menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Musyawarah Nagari Berbasis Data Tidak Berarti Rumit

Sebagian orang menganggap penggunaan data akan membuat musyawarah menjadi terlalu teknis.

Pengalaman di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.

Data dapat disajikan secara sederhana.

Misalnya menggunakan:

  • grafik sederhana,
  • peta nagari,
  • infografik,
  • foto kondisi lapangan,
  • perbandingan antarjorong,
  • tren lima tahun terakhir.

Ketika masyarakat melihat visual tersebut, diskusi menjadi jauh lebih hidup.

Masyarakat tidak lagi berdebat berdasarkan perasaan, tetapi mulai berdiskusi berdasarkan kondisi nyata.

Pendampingan yang kami lakukan di berbagai nagari menunjukkan bahwa penyajian data sederhana mampu mengubah kualitas musyawarah secara signifikan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Peran Pendamping dalam Menguatkan Musyawarah Nagari Berbasis Data

Pendamping desa bukan pengambil keputusan.

Namun pendamping memiliki posisi strategis untuk memastikan proses berjalan lebih berkualitas.

Pendamping dapat membantu pemerintah nagari : 

  • mengidentifikasi data yang tersedia,
  • memverifikasi kualitas data,
  • menyajikan data dalam bentuk yang mudah dipahami,
  • menghubungkan data dengan regulasi,
  • menghubungkan data dengan prioritas pembangunan,
  • memastikan kelompok rentan ikut membaca data,
  • mendorong keputusan berbasis bukti.

Dalam praktik pendampingan, peran ini sering kali menjadi pembeda antara musyawarah yang hanya formalitas dengan musyawarah yang benar-benar menghasilkan prioritas pembangunan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Dari Daftar Keinginan Menjadi Daftar Prioritas

Perubahan terbesar yang perlu terjadi sebenarnya bukan pada dokumen, melainkan pada cara berpikir.

Musyawarah Nagari seharusnya tidak lagi menghasilkan daftar keinginan.

Musyawarah harus menghasilkan daftar prioritas.

Prioritas lahir ketika usulan diuji menggunakan data.

Pertanyaan sederhana seperti berikut dapat membantu:

  • Masalah apa yang paling mendesak?
  • Berapa jumlah warga yang terdampak?
  • Apa penyebab utamanya?
  • Apakah persoalan tersebut sudah pernah ditangani?
  • Seberapa besar dampak jika diselesaikan?
  • Apakah sesuai RPJM Nagari?
  • Apakah sesuai arah kebijakan pemerintah?

Jika semua pertanyaan tersebut dijawab menggunakan data, maka kualitas keputusan akan meningkat secara alami.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Membangun Budaya Data di Nagari

Musyawarah berbasis data bukan pekerjaan satu kali.

Ia merupakan budaya yang harus dibangun secara bertahap.

Budaya tersebut dimulai dari kebiasaan kecil:

setiap rapat membawa data.

Setiap usulan menunjukkan fakta.

Setiap program memiliki indikator.

Setiap evaluasi menggunakan capaian.

Ketika budaya ini tumbuh, pemerintah nagari tidak lagi bergantung pada siapa yang paling banyak berbicara.

Sebaliknya, keputusan diambil berdasarkan kebutuhan masyarakat yang benar-benar terukur.

Inilah wajah tata kelola nagari yang profesional, transparan, dan akuntabel.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Penutup: Data Harus Menjadi Bahasa Pembangunan Nagari

Musyawarah Nagari akan selalu menjadi jantung pembangunan desa. Namun jantung tersebut hanya akan memompa pembangunan yang sehat apabila bekerja berdasarkan data.

Pengalaman pendampingan di berbagai nagari mengajarkan satu hal sederhana. Persoalan kita bukan kekurangan data, melainkan belum membiasakan diri menggunakan data sebagai dasar berpikir dan dasar mengambil keputusan.

Karena itu, sudah saatnya Musyawarah Nagari bertransformasi dari forum penyampaian aspirasi menjadi forum pengambilan keputusan berbasis bukti. Ketika data hadir di tengah musyawarah, diskusi menjadi lebih objektif, prioritas lebih tepat, penggunaan anggaran lebih efektif, dan manfaat pembangunan lebih dirasakan masyarakat.

Pada akhirnya, pembangunan nagari bukan ditentukan oleh siapa yang paling lantang berbicara, melainkan oleh siapa yang mampu menghadirkan fakta sebagai dasar keputusan. Data bukan sekadar angka dalam laporan, melainkan kompas yang mengarahkan pembangunan menuju tujuan yang benar.

Mari mulai setiap Musyawarah Nagari dengan membuka data sebelum membuka daftar usulan. Sebab nagari yang membangun berdasarkan data adalah nagari yang lebih siap menghadapi masa depan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Lanjut Membaca

Jika Anda tertarik dengan tema Musim Perencanaan Nagari, Anda juga dapat membaca:

Sementara praktik pendampingan yang menjadi latar belakang tulisan ini dapat dibaca pada artikel TPP Agam :

·       MusyawarahNagari Lambah Susun RKP 2027 dan DU RKP 2028, Menjemput Kemandirian di Tengah Keterbatasan Anggaran

·       Musyawarah Nagari Balai Gurah Bahas Prioritas RKP 2027 dan DU RKP 2028 di TengahKeterbatasan Anggaran

·       Dari Aspirasi Jorong hingga Jam Malam Anak Sekolah: Pembelajaran Musyawarah NagariPenyusunan RKP 2027 dan DU RKP 2028 Nagari Pasia

·       MusyawarahNagari Penyusunan RKP 2027 dan DU RKP 2028 Nagari Ampang Gadang: BelajarMenetapkan Prioritas Pembangunan di Tengah Keterbatasan Anggaran

·       Belajardari Musyawarah Nagari Panampuang: Menyusun RKP 2027 dan DU RKP 2028 BerbasisPersoalan Nyata Masyarakat

·       MusyawarahNagari Batu Taba Bahas RKP 2027 dan DU RKP 2028, Menyusun Masa Depan Nagaridari Aspirasi Warga

·       Musyawarah Nagari Penyusunan RKP 2027 Nagari Biaro Gadang: Menyatukan Harapan di TengahKeterbatasan Anggaran

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Ad 2

Tentang Celoteh Nagari

Ruang berbagi cerita desa, data SDGs, stunting, BUMDes, dan dinamika pembangunan nagari.

Stunting Bukan Sekadar Angka

Di balik data stunting, ada cerita keluarga, layanan yang belum utuh, dan tanggung jawab bersama nagari.

Baca catatan stunting di Celoteh Nagari →