SERIAL MUSRENBANG NAGARI
Artikel ke-2 dari 5
01 / [02]
/ 03 / 04 / 05
Tentang
Serial
Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) Nagari
adalah salah tahapan akhir kegiatan partisipatif yang melibatkan berbagai unsur
masyarakat dalam perencanaan Nagari secara utuh untuk setahun kedepan. Adapun
usulan yang menjadi kebutuhan nagari dan menjadi kewenangan nagari akan dapat
dilaksanakan oleh pemerintah nagari sementara kegiatan yang tidak menjadi
kewenangan nagari akan menjadi Daftar Usulan RKP yang akan dilanjutkan ke pihak
yang memiliki kewenangan.
Pada artikel
pertama dalam serial Membaca Musrenbang Nagari, kita telah melihat bahwa
Musrenbang bukan lagi tempat awal untuk mengumpulkan usulan.
Usulan masyarakat
telah melalui perjalanan sebelumnya.
Ia lahir
dari kebutuhan dan persoalan yang dirasakan masyarakat, disampaikan melalui
musyawarah, kemudian disusun oleh Tim Penyusun RKP dan diverifikasi sebelum
dibawa ke Musrenbang.
Pertanyaan
berikutnya menjadi lebih penting:
Dari sekian banyak kebutuhan masyarakat, bagaimana nagari menentukan mana yang menjadi prioritas dan kemudian masuk ke dalam RKP?
Pertanyaan
ini penting karena pembangunan nagari selalu berhadapan dengan kenyataan
sederhana: kebutuhan lebih banyak daripada kemampuan yang tersedia.
Masyarakat
tentu memiliki banyak kebutuhan.
Ada jalan
yang perlu diperbaiki, sarana pelayanan yang perlu ditingkatkan, kegiatan
ekonomi yang membutuhkan dukungan, kelompok masyarakat yang perlu diberdayakan,
lingkungan yang perlu ditangani, dan berbagai persoalan lainnya.
Semuanya
bisa penting.
Tetapi tidak
semuanya dapat direncanakan dan dilaksanakan pada waktu yang sama.
Di sinilah
perencanaan membutuhkan pilihan.
Dan pilihan
membutuhkan prioritas.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Prioritas Bukan Berarti Usulan Lain Tidak Penting
Ada
kesalahpahaman yang sering muncul ketika berbicara tentang prioritas.
Ketika
sebuah usulan tidak menjadi prioritas, masyarakat bisa merasa kebutuhannya
tidak dianggap penting.
Padahal,
prioritas tidak selalu berarti bahwa yang lain tidak penting.
Prioritas
berarti ada kebutuhan yang harus didahulukan karena tingkat kepentingan,
urgensi, manfaat, kondisi, atau pertimbangan lainnya.
Bayangkan
sebuah nagari memiliki sepuluh kebutuhan pembangunan, sementara kemampuan yang
tersedia hanya memungkinkan sebagian kebutuhan direncanakan dan dilaksanakan.
Apakah
sembilan kebutuhan lainnya menjadi tidak penting?
Tentu tidak.
Tetapi
nagari harus menentukan:
mana yang
harus didahulukan?
Inilah salah
satu inti perencanaan pembangunan.
Karena itu,
kemampuan mengatakan “belum menjadi prioritas” sebenarnya sama
pentingnya dengan kemampuan mengatakan “ini harus kita dahulukan.”
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Daftar Keinginan Menjadi Masalah yang Harus Diselesaikan
Perencanaan
yang baik tidak seharusnya berhenti pada pertanyaan:
“Apa yang ingin dibangun?”
Pertanyaan
yang lebih penting adalah:
“Masalah apa yang ingin diselesaikan?”
Perbedaan
ini terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Misalnya
masyarakat mengusulkan pembangunan sebuah jalan.
Jika kita berhenti
pada usulan, maka yang terlihat hanya sebuah kegiatan: pembangunan jalan.
Tetapi jika
kita bertanya lebih jauh, mungkin ditemukan persoalan yang lebih mendasar.
Jalan
tersebut merupakan akses utama petani membawa hasil produksi.
Jalan itu menghubungkan
permukiman dengan pusat pelayanan.
Jalan
tersebut menjadi akses anak-anak menuju sekolah.
Atau kondisi
jalan telah menghambat kegiatan ekonomi masyarakat.
Dengan
demikian, pembangunan jalan bukan tujuan akhir.
Jalan adalah
instrumen untuk menyelesaikan masalah akses dan mobilitas masyarakat.
Cara
berpikir seperti inilah yang perlu hadir dalam proses penyusunan RKP.
Karena
semakin jelas masalah yang hendak diselesaikan, semakin mudah nagari menentukan
apakah sebuah kegiatan memang layak menjadi prioritas.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Lima Bidang Menjadi Ruang Menyusun Rencana
Setelah
melalui proses penyusunan dan verifikasi, kebutuhan yang menjadi kewenangan
nagari diarahkan ke dalam RKP.
RKP Nagari
disusun dalam lima bidang:
1.
Penyelenggaraan
Pemerintahan Desa
2.
Pelaksanaan Pembangunan
Desa
3.
Pembinaan
Kemasyarakatan Desa
4.
Pemberdayaan
Masyarakat Desa
5.
Penanggulangan
Bencana, Keadaan Darurat dan Mendesak Desa
Pembagian
ini membantu nagari menempatkan berbagai kebutuhan ke dalam struktur rencana
kerja tahunan.
Namun,
pembagian bidang jangan sampai membuat perencanaan hanya menjadi pekerjaan
mengisi kolom.
Sebuah
kegiatan harus tetap dilihat hubungannya dengan persoalan masyarakat.
Misalnya
kegiatan pemberdayaan masyarakat tidak cukup dinilai dari ada atau tidaknya
kegiatan pelatihan.
Yang perlu
dipikirkan adalah:
Apa masalah
yang hendak diatasi?
Siapa yang
membutuhkan?
Apa
perubahan yang diharapkan?
Mengapa
kegiatan tersebut lebih penting dibandingkan kegiatan lainnya?
Pertanyaan
seperti inilah yang membuat RKP menjadi dokumen perencanaan, bukan sekadar
daftar kegiatan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Bagaimana Menentukan Prioritas?
Tidak ada
satu rumus sederhana yang dapat digunakan untuk semua nagari.
Setiap
nagari memiliki karakter, persoalan, sumber daya, dan tantangan yang berbeda.
Namun, ada
beberapa pertanyaan yang dapat membantu melihat sebuah usulan secara lebih
jernih.
Pertama, Seberapa Mendesak Masalahnya?
Masalah yang
jika dibiarkan akan menimbulkan dampak lebih besar tentu perlu mendapatkan
perhatian lebih serius.
Urgensi
penting karena sumber daya terbatas membutuhkan keputusan tentang apa yang
harus dilakukan terlebih dahulu.
Kedua, Siapa yang Paling Terdampak?
Sebuah
kegiatan yang memberikan manfaat kepada kelompok masyarakat yang sangat rentan
atau menghadapi persoalan serius dapat memiliki tingkat prioritas yang berbeda
dibandingkan kegiatan yang manfaatnya relatif terbatas.
Pertanyaan
ini membantu nagari melihat pembangunan bukan hanya dari objek yang dibangun,
tetapi dari orang yang akan menerima manfaatnya.
Ketiga, Seberapa Besar Manfaatnya?
Pembangunan
menggunakan sumber daya.
Karena itu,
penting untuk melihat seberapa luas manfaat yang akan dihasilkan.
Apakah hanya
dirasakan oleh beberapa orang?
Satu
kelompok?
Satu jorong?
Atau
memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat nagari?
Semakin
jelas manfaatnya, semakin mudah masyarakat memahami alasan sebuah kegiatan
ditempatkan sebagai prioritas.
Keempat, Apakah Sesuai dengan Kewenangan Nagari?
Ini
pertanyaan yang tidak boleh dilewatkan.
Sebuah
kebutuhan bisa sangat penting, tetapi jika penyelesaiannya berada di luar
kewenangan nagari, maka ia tidak tepat dipaksakan menjadi kegiatan RKP Nagari.
Bukan
berarti kebutuhannya diabaikan.
Justru
kebutuhan tersebut perlu diarahkan melalui DU RKP agar dapat
diperjuangkan melalui pemerintah yang memiliki kewenangan.
Dengan
demikian, kewenangan bukan alasan untuk menghilangkan kebutuhan, tetapi
dasar untuk menentukan jalur penyelesaiannya.
Kelima, Apakah Nagari Memiliki Kemampuan untuk Melaksanakannya?
Sebuah
rencana juga harus berhadapan dengan kenyataan sumber daya.
Nagari
memiliki pagu dan sumber pendapatan yang terbatas.
Karena itu,
kemampuan pembiayaan menjadi bagian penting dalam menentukan prioritas.
Sebuah
kegiatan mungkin sangat dibutuhkan, tetapi jika membutuhkan sumber daya yang
jauh lebih besar daripada kemampuan nagari, perlu dipikirkan kembali bagaimana
dan melalui sumber mana kebutuhan tersebut dapat dipenuhi.
Di sinilah
perencanaan membutuhkan keseimbangan antara apa yang diinginkan, apa yang
dibutuhkan, dan apa yang mampu dilakukan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Prioritas Tidak Boleh Ditentukan Hanya oleh Siapa yang Paling Banyak
Bicara
Musyawarah
memberi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan pendapat.
Tetapi
kualitas perencanaan tidak boleh bergantung pada siapa yang paling keras
berbicara.
Sebuah
usulan tidak otomatis menjadi prioritas karena disampaikan berulang kali.
Begitu pula
sebuah kebutuhan tidak boleh kehilangan perhatian hanya karena kelompok yang
membutuhkannya tidak memiliki kemampuan menyampaikan aspirasi dengan kuat.
Karena itu,
proses penyusunan dan verifikasi menjadi penting.
Perencanaan
harus berusaha melihat kebutuhan secara lebih objektif.
Suara yang
paling keras belum tentu menunjukkan masalah yang paling mendesak.
Begitu juga
kelompok yang paling aktif belum tentu menjadi kelompok yang paling
membutuhkan.
Inilah
alasan mengapa perencanaan pembangunan membutuhkan data, informasi, verifikasi,
dan pembahasan yang sehat.
Baca Juga : Siapa yang Sebenarnya Menentukan Prioritas?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Data Membantu Musyawarah Menjadi Lebih Rasional
Musyawarah
memang penting.
Tetapi
musyawarah akan lebih kuat ketika didukung oleh informasi yang memadai.
Bayangkan
dua usulan yang sama-sama dianggap penting.
Usulan
pertama didukung oleh pengalaman beberapa orang.
Usulan kedua
didukung oleh data yang menunjukkan bahwa persoalan tersebut dialami oleh
sebagian besar masyarakat atau kelompok yang sangat membutuhkan.
Apakah
keduanya harus diperlakukan sama?
Belum tentu.
Data
membantu masyarakat melihat persoalan secara lebih luas.
Data tidak
menggantikan musyawarah.
Sebaliknya,
data membantu musyawarah menjadi lebih rasional.
Karena itu,
semakin baik nagari mengenali kondisi masyarakatnya, semakin baik pula peluang
nagari menentukan prioritas pembangunan.
Baca juga : Ketika Data Ada, Tetapi Tidak Menjadi Dasar Keputusan
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tim Penyusun RKP Tidak Sekadar Menjadi Penulis Dokumen
Dalam proses
ini, peran Tim Penyusun RKP menjadi sangat strategis.
Tim Penyusun
tidak seharusnya hanya bekerja sebagai pihak yang memindahkan hasil musyawarah
ke dalam dokumen.
Mereka perlu
membantu memastikan bahwa usulan tersebut memiliki hubungan yang jelas dengan
masalah dan kebutuhan masyarakat.
Mereka perlu
melihat kesesuaian bidang.
Mereka perlu
memperhatikan prioritas.
Mereka perlu
melihat kewenangan.
Dan mereka
perlu mempertimbangkan kemampuan pelaksanaan.
Karena itu,
kualitas RKP sebagian besar juga ditentukan oleh kualitas proses berpikir di
balik penyusunannya.
Dokumen yang
rapi belum tentu menunjukkan perencanaan yang baik.
Sebaliknya,
perencanaan yang baik akan terlihat dari logika yang jelas antara masalah,
prioritas, kegiatan, sasaran, dan sumber daya.
Baca Juga : Apa Ciri Musyawarah Nagari yang Berkualitas?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Pilihan Harus Dibuat
Pada
akhirnya, setiap proses perencanaan akan sa mpai pada satu kenyataan:
harus
memilih.
Tidak semua
kegiatan dapat dilakukan.
Tidak semua
kebutuhan dapat dikerjakan dalam satu tahun.
Tidak semua
masalah dapat diselesaikan dengan sumber daya yang sama.
Dan tidak
semua persoalan menjadi kewenangan nagari.
Maka pilihan
yang baik bukanlah pilihan yang membuat semua orang mendapatkan apa yang mereka
inginkan.
Pilihan yang
baik adalah pilihan yang dapat dipertanggungjawabkan karena didasarkan pada
kebutuhan, prioritas, kewenangan, manfaat, dan kemampuan yang tersedia.
Di sinilah
musyawarah memperoleh maknanya.
Musyawarah
bukan berarti semua usulan harus diterima.
Musyawarah
berarti masyarakat bersama-sama mencari pilihan terbaik dalam kondisi yang
nyata.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tetapi Perjalanan Belum Selesai
Ketika
sebuah kegiatan akhirnya masuk RKP, perjalanan perencanaan belum berakhir.
RKP memang
telah menjadi rencana kerja tahunan nagari.
Tetapi
sebuah rencana masih harus berhadapan dengan kenyataan anggaran dan kemampuan
pelaksanaan.
Pagu yang
tersedia mungkin tidak mencukupi seluruh kebutuhan.
Prioritas
dapat berubah karena kondisi tertentu.
Kebutuhan
darurat dapat muncul.
Kebijakan
pemerintah dapat berubah.
Atau
terdapat kendala lain yang membuat sebuah rencana belum dapat dilaksanakan
sesuai harapan.
Karena itu,
kita perlu membedakan dengan jelas:
Direncanakan
tidak selalu berarti terlaksana.
Inilah
persoalan yang akan kita bahas pada artikel berikutnya.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Prioritas Menuju Kenyataan
Sampai di
sini, perjalanan kita dalam serial Membaca Musrenbang Nagari sudah
memasuki tahap kedua.
Pada artikel
pertama kita memahami bahwa Musrenbang bukan tempat awal mengumpulkan usulan.
Pada artikel
ini kita melihat bagaimana kebutuhan masyarakat harus diterjemahkan menjadi
prioritas dan menjadi bagian dari RKP sesuai kewenangan nagari.
Tetapi masih
ada satu pertanyaan besar:
Bagaimana
jika sesuatu yang sudah direncanakan ternyata tidak mampu dilaksanakan?
Di sinilah
kita akan memasuki wilayah yang sering kali kurang dibicarakan dalam proses
perencanaan: jarak antara rencana dan kenyataan.
Sebab RKP
adalah rencana.
Sementara
masyarakat membutuhkan perubahan nyata.
Dan di
antara keduanya ada persoalan kemampuan anggaran, prioritas, kondisi lapangan,
serta berbagai kendala pelaksanaan.
Artikel
berikutnya akan membahasnya:
Masuk RKP Belum Tentu Terlaksana: Ketika Rencana Berhadapan denganKemampuan Nagari
Karena pada
akhirnya, kualitas perencanaan tidak hanya diukur dari kemampuan nagari
menyusun rencana.
Tetapi juga
dari kemampuan nagari membuat rencana yang realistis, prioritas, dan dapat
diperjuangkan menjadi kenyataan.
Celoteh Nagari : Suara Desa, Gagasan Indonesia.
