Celoteh Nagari : Membangun hubungan sebenarnya bukan hal yang sulit bagi nagari.
Pemerintah
nagari mengenal tokoh masyarakat. Tokoh masyarakat mengenal kelompok-kelompok
warga. Ada hubungan dengan pemerintah kecamatan dan kabupaten. Ada warga yang
bekerja sebagai dosen, tenaga kesehatan, pengusaha, guru, maupun profesional di
berbagai bidang. Ada pula perantau yang masih memiliki hubungan emosional
dengan kampung halamannya.
Dalam banyak
nagari, jaringan seperti ini sebenarnya sudah ada.
Masalahnya, mengenal
banyak orang belum tentu berarti mampu bekerja bersama.
Kita mungkin
memiliki banyak nomor telepon, pernah bertemu dalam berbagai kegiatan, bahkan
pernah berdiskusi tentang kemungkinan kerja sama. Namun setelah pertemuan
selesai, hubungan itu sering kembali senyap.
Tidak ada
langkah berikutnya.
Tidak ada
pembagian peran yang jelas.
Tidak ada
pekerjaan bersama yang benar-benar berlanjut.
Di sinilah
kita perlu membedakan antara memiliki hubungan dan membangun
kolaborasi.
Sebuah
nagari bisa saja mengenal banyak pihak. Namun pembangunan baru memperoleh
kekuatan tambahan ketika hubungan-hubungan tersebut berubah menjadi kerja
bersama untuk menyelesaikan persoalan yang nyata.
Inilah tahap
berikutnya setelah kita berbicara tentang keterbatasan sumber daya, kekuatan
Octahelix, dan kemampuan nagari menghubungkan berbagai pihak.
Jika
sebelumnya kita bertanya, siapa yang dapat membantu?, kini pertanyaannya
menjadi lebih penting:
Bagaimana membuat berbagai pihak yang berbeda benar-benar mau dan mampu bekerja bersama?
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tidak Semua Pertemuan Akan Menjadi Kolaborasi
Kita perlu
berhati-hati menggunakan kata kolaborasi.
Sebuah rapat
bersama belum tentu kolaborasi.
Mengundang
banyak lembaga dalam satu kegiatan belum tentu kolaborasi.
Menandatangani
nota kesepahaman juga belum tentu kolaborasi.
Bahkan
sebuah kegiatan yang dilaksanakan bersama belum tentu melahirkan hubungan
jangka panjang.
Sering kali
yang terjadi hanya koordinasi sesaat.
Masing-masing
pihak datang dengan kepentingannya sendiri. Kegiatan selesai. Foto diambil.
Berita dibuat. Lalu semua kembali kepada urusannya masing-masing.
Tidak ada
yang salah dengan koordinasi. Koordinasi memang diperlukan. Tetapi kolaborasi
membutuhkan sesuatu yang lebih dalam.
Ada
persoalan yang dipahami bersama.
Ada tujuan
yang ingin dicapai bersama.
Ada peran
yang saling melengkapi.
Ada komitmen
untuk melakukan bagian masing-masing.
Dan ada
hasil yang sulit dicapai secara optimal jika setiap pihak bekerja sendiri.
Di sinilah
kita dapat melihat perbedaan antara kenalan, koordinasi, kerja sama, dan
kolaborasi.
Kenalan
Kita
mengetahui seseorang atau sebuah lembaga. Kita mungkin memiliki nomor telepon
dan pernah berkomunikasi.
Hubungan
masih bersifat personal atau informal.
Koordinasi
Beberapa
pihak mulai saling memberi informasi agar kegiatan atau pekerjaan tidak saling bertabrakan.
Masing-masing
masih dapat bekerja dengan programnya sendiri.
Kerja sama
Dua atau
lebih pihak mulai melakukan kegiatan tertentu bersama. Sudah ada pembagian
kontribusi, meskipun biasanya masih terbatas pada tujuan atau kegiatan
tertentu.
Kolaborasi
Berbagai
pihak benar-benar menyatukan kekuatan untuk menyelesaikan persoalan yang tidak
dapat ditangani secara optimal oleh satu pihak saja.
Masing-masing
membawa kemampuan yang berbeda, tetapi bergerak menuju tujuan yang sama.
Perbedaan
ini penting karena pembangunan nagari tidak cukup hanya menghasilkan banyak
pertemuan.
Yang kita butuhkan adalah hubungan yang mampu menghasilkan perubahan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kolaborasi Harus Dimulai dari Persoalan, Bukan dari Mencari Mitra
Ini adalah
kesalahan yang cukup sering terjadi.
Kita
terlebih dahulu bertanya:
“Siapa yang bisa diajak bekerja sama?”
Padahal
pertanyaan pertama seharusnya:
“Persoalan apa yang benar-benar ingin kita selesaikan?”
Urutannya
mungkin terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar.
Jika sebuah
nagari hanya mencari mitra, maka hampir semua pihak bisa terlihat menarik untuk
diajak bekerja sama. Namun kerja sama menjadi kabur karena tidak memiliki
persoalan yang cukup jelas sebagai titik tolak.
Sebaliknya,
jika nagari telah mampu membaca persoalannya, pencarian mitra menjadi lebih
terarah.
Pertanyaan
ini penting karena pembangunan sering terlalu cepat berubah menjadi daftar
kegiatan sebelum persoalan utamanya benar-benar dipahami. Pola seperti ini juga
menjadi salah satu persoalan dalam perencanaan, sebagaimana dibahas dalam
artikel Kesalahan Penyusunan RKP Nagari. Ketika masalah belum terbaca
dengan jelas, nagari bukan hanya berisiko memilih kegiatan yang kurang tepat,
tetapi juga dapat salah menentukan pihak yang seharusnya diajak berkolaborasi.
Misalnya,
sebuah kelompok usaha masyarakat mengalami kesulitan berkembang.
Sebelum
mencari mitra, nagari harus memahami terlebih dahulu masalahnya.
Apakah
persoalannya kekurangan modal?
Apakah
produknya belum memenuhi kebutuhan pasar?
Apakah
kualitas kemasan masih rendah?
Apakah
pemasaran digital belum dikuasai?
Apakah belum
memiliki akses terhadap jaringan pembeli?
Atau
sebenarnya usaha tersebut belum memiliki model bisnis yang cukup kuat?
Setiap
persoalan membutuhkan pihak yang berbeda.
Perguruan
tinggi mungkin dapat membantu riset atau peningkatan kapasitas. Pelaku usaha
dapat membantu membuka pemahaman tentang pasar. Profesional dapat memberikan
keahlian tertentu. Pemerintah daerah mungkin memiliki program yang relevan.
Media dapat membantu memperluas informasi. Komunitas dapat membantu membangun
gerakan.
Pendekatan
ini sejalan dengan gagasan Delapan Kekuatan untuk Membangun Nagari: MembacaOctahelix Ala Kemendesa. Tidak semua kekuatan harus dilibatkan sekaligus,
tetapi nagari perlu memahami pihak mana yang paling relevan dengan persoalan
yang sedang dihadapi.
Karena itu,
kemitraan yang baik tidak dimulai dari pertanyaan siapa yang terkenal atau
memiliki sumber daya paling besar.
Kemitraan
dimulai dari kesesuaian antara persoalan dan kekuatan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Temukan Kepentingan Bersama
Salah satu
alasan mengapa banyak kemitraan tidak bertahan lama adalah karena satu pihak
merasa hanya sedang diminta membantu pihak lain.
Pemerintah
nagari membutuhkan sesuatu, lalu mencari lembaga atau pihak yang dianggap mampu
memberikannya.
Hubungan pun
dibangun dengan pola:
Nagari
membutuhkan — pihak lain membantu.
Pola ini
kadang diperlukan, terutama dalam situasi tertentu. Tetapi untuk membangun
kemitraan jangka panjang, hubungan seperti ini sering tidak cukup.
Kolaborasi
akan lebih kuat jika terdapat kepentingan bersama.
Perguruan
tinggi mungkin membutuhkan lokasi dan persoalan nyata untuk penelitian atau
pengabdian. Nagari membutuhkan pengetahuan dan pendampingan.
Dunia usaha
mungkin membutuhkan produk lokal yang berkualitas atau jaringan pemasok.
Masyarakat membutuhkan akses pasar.
Media
membutuhkan cerita dan informasi yang bernilai bagi publik. Nagari membutuhkan
ruang untuk memperkenalkan potensi serta pengalaman baik.
Ketika
setiap pihak melihat alasan mengapa mereka perlu terlibat, kolaborasi menjadi
lebih sehat.
Bukan
hubungan antara pihak yang selalu meminta dengan pihak yang selalu memberi.
Melainkan
hubungan yang dibangun karena setiap pihak membawa sesuatu dan memperoleh
manfaat yang sesuai dengan perannya.
Inilah salah
satu pekerjaan penting nagari sebagai penghubung.
Nagari tidak
hanya perlu mengatakan:
“Kami membutuhkan bantuan.”
Tetapi mampu
menjelaskan:
“Kami memiliki persoalan ini, kami juga memiliki potensi ini. Jika kita bekerja bersama, ada tujuan yang dapat kita capai dan manfaat yang dapat dirasakan bersama.”
Kalimat
kedua membuka percakapan yang jauh lebih setara.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Peran Harus Jelas, Jangan Semua Orang Mengerjakan Hal yang Sama
Setelah
menemukan tujuan bersama, persoalan berikutnya adalah pembagian peran.
Kolaborasi
sering gagal bukan karena para pihak tidak memiliki niat baik.
Kolaborasi
gagal karena semua orang menganggap pihak lain akan melakukan sesuatu.
Pada
akhirnya, tidak ada yang benar-benar bergerak.
Karena itu,
setiap kemitraan membutuhkan jawaban sederhana:
Siapa
melakukan apa?
Pemerintah
nagari mungkin bertugas memfasilitasi dan menghubungkan masyarakat.
Perguruan
tinggi memberikan pendampingan berdasarkan keahlian.
Komunitas
membantu menggerakkan partisipasi.
Pelaku usaha
membuka wawasan pasar.
Profesional
memberikan keahlian teknis.
Media
membantu menyebarkan pembelajaran atau informasi.
Kelompok
masyarakat menjadi pelaku utama perubahan.
Pembagian
seperti ini tidak harus rumit.
Yang
penting, setiap pihak memahami kekuatan yang dibawanya.
Kolaborasi
justru kehilangan makna ketika semua pihak melakukan pekerjaan yang sama.
Kekuatan
utamanya berada pada saling melengkapi.
Menghubungkan
adalah awal. Membuat hubungan itu bekerja adalah pekerjaan berikutnya. Sebab,
seperti dibahas dalam artikel Nagari Tidak Harus Memiliki Semua Kekuatan,Tetapi Harus Mampu Menghubungkannya, kekuatan pembangunan sering kali tidak
berada dalam satu tangan. Tantangan berikutnya adalah memastikan berbagai
potensi, pengetahuan, dan jaringan yang telah dipertemukan benar-benar dapat
bergerak menuju tujuan yang sama.
Di sinilah
peran nagari menjadi semakin penting.
Nagari tidak
harus menguasai seluruh pekerjaan.
Nagari juga
tidak harus menjadi pusat dari semua kegiatan.
Namun nagari
perlu mampu memastikan bahwa pihak-pihak yang telah dipertemukan memahami
tujuan bersama dan mengetahui kontribusi yang harus mereka lakukan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kepercayaan Tidak Bisa Digantikan oleh Surat Kesepakatan
Dokumen
kerja sama tetap penting.
Kesepakatan
tertulis dapat memperjelas tujuan dan tanggung jawab. Dalam hubungan tertentu,
dokumen bahkan menjadi kebutuhan yang tidak dapat diabaikan.
Namun sebuah
kemitraan tidak akan hidup hanya karena memiliki tanda tangan.
Hubungan
tetap membutuhkan kepercayaan.
Masyarakat
harus percaya bahwa mitra yang datang benar-benar memahami kebutuhan mereka.
Mitra harus
percaya bahwa informasi yang diberikan nagari dapat dipertanggungjawabkan.
Pemerintah
harus percaya bahwa setiap pihak akan menjalankan komitmennya.
Kepercayaan
dibangun dari hal-hal yang kadang sangat sederhana.
Menepati
janji.
Tidak
menghilang setelah pertemuan.
Menyampaikan
perkembangan secara terbuka.
Berani
mengatakan jika ada kendala.
Tidak
mengambil seluruh penghargaan atas pekerjaan bersama.
Dan tidak
menjadikan kolaborasi sebagai panggung satu pihak.
Kepercayaan
seperti ini tidak lahir dalam sehari.
Ia tumbuh
melalui pengalaman.
Sekali kerja
sama berhasil dilaksanakan dengan baik, kemungkinan kerja sama berikutnya akan
lebih mudah dibangun.
Sebaliknya,
satu pengalaman buruk dapat membuat hubungan yang seharusnya berkembang justru
berhenti.
Karena itu,
nagari tidak harus terburu-buru memiliki puluhan mitra.
Lebih baik memulai dari sedikit hubungan yang sehat dan benar-benar bekerja.
Dari sanalah
jejaring dapat berkembang secara alami.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Jangan Menunggu Anggaran Habis untuk Mulai Berkolaborasi
Ada
kebiasaan lain yang perlu kita ubah.
Kolaborasi
sering baru dicari ketika anggaran tidak lagi mencukupi.
Seolah-olah
kemitraan hanya menjadi jalan darurat.
Padahal,
membangun hubungan membutuhkan waktu.
Kita tidak
bisa baru mencari perguruan tinggi ketika program sudah harus dilaksanakan
bulan depan.
Kita tidak
bisa baru mencari mitra usaha ketika produk masyarakat sudah menumpuk tanpa
pasar.
Kita tidak
bisa baru menghubungi komunitas ketika partisipasi warga sudah telanjur rendah.
Hubungan
yang baik perlu dibangun sebelum keadaan mendesak.
Kolaborasi
sering baru dicari ketika anggaran tidak lagi mencukupi. Padahal, seperti telah
dibahas dalam artikel Ketika Anggaran Terbatas, Apakah Pembangunan HarusIkut Terbatas?, keterbatasan APB Nagari tidak selalu berarti keterbatasan
seluruh sumber daya pembangunan. Pengetahuan, jaringan, keahlian, teknologi,
dan dukungan dari berbagai pihak dapat menjadi kekuatan tambahan ketika nagari
mampu membangun hubungan yang tepat.
Tetapi
menyadari adanya sumber daya lain belum cukup.
Nagari harus
memiliki hubungan dengan sumber-sumber tersebut.
Hubungan
itulah yang perlu dirawat.
Membangun
komunikasi dengan perguruan tinggi tidak harus menunggu adanya proposal.
Menjaga
hubungan dengan perantau tidak harus menunggu ada kebutuhan dana.
Berkomunikasi
dengan dunia usaha tidak harus selalu dimulai dengan permintaan bantuan.
Kolaborasi
yang sehat justru tumbuh dari hubungan yang tidak selalu transaksional.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Mulai dari Kolaborasi Kecil yang Bisa Dibuktikan
Salah satu
kesalahan dalam membangun kemitraan adalah ingin langsung menciptakan kerja
sama besar.
Banyak pihak
dilibatkan.
Tujuannya
panjang.
Kegiatannya
kompleks.
Namun karena
terlalu besar, semua orang justru bingung dari mana harus memulai.
Tidak ada
salahnya memulai dari hal kecil.
Sebuah
persoalan yang cukup jelas.
Mitra yang
tepat.
Tujuan yang
dapat diukur.
Pembagian
peran yang sederhana.
Misalnya,
sebuah nagari ingin membantu kelompok usaha lokal meningkatkan pemasaran.
Tidak perlu
langsung membuat program besar.
Bisa dimulai
dengan mempertemukan beberapa pelaku usaha dengan pihak yang memahami pasar.
Melakukan pemetaan kebutuhan. Mencoba perbaikan pada beberapa produk. Kemudian
mengevaluasi hasilnya.
Jika
berhasil, pengalaman tersebut dapat dikembangkan.
Kolaborasi
kecil memiliki satu keuntungan penting:
Ia
memberikan kesempatan untuk membangun kepercayaan.
Setiap pihak
dapat melihat cara pihak lain bekerja.
Masyarakat
dapat merasakan manfaatnya.
Nagari dapat
belajar mengelola kemitraan.
Mitra juga
dapat memahami kondisi nyata di lapangan.
Dari satu
keberhasilan kecil, kerja sama yang lebih besar dapat tumbuh.
Pembangunan
tidak selalu harus dimulai dengan proyek besar.
Kadang ia
dimulai dari satu persoalan yang berhasil diselesaikan bersama.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Komunikasi Harus Terus Berjalan Setelah Foto Bersama
Ada satu
momen yang sering menjadi akhir dari banyak kegiatan: foto bersama.
Setelah itu,
semua kembali pulang.
Padahal,
dalam kolaborasi, seharusnya justru pekerjaan baru dimulai setelah pertemuan.
Siapa
menghubungi siapa?
Apa tindak
lanjutnya?
Kapan
pekerjaan dimulai?
Apa kendala
yang muncul?
Apakah ada
perubahan kondisi?
Apakah
tujuan masih relevan?
Tanpa
komunikasi, kesepakatan akan cepat kehilangan energi.
Karena itu,
setiap kolaborasi sebaiknya memiliki mekanisme sederhana untuk menjaga
hubungan.
Tidak perlu
selalu rapat besar.
Komunikasi
dapat dilakukan sesuai kebutuhan.
Yang
penting, setiap pihak mengetahui perkembangan.
Jika ada
masalah, dibicarakan.
Jika ada
perubahan, disampaikan.
Jika satu
pihak belum dapat menjalankan komitmennya, pihak lain tidak dibiarkan menunggu
tanpa kepastian.
Komunikasi
yang baik juga mencegah satu masalah lain: kesalahpahaman tentang harapan.
Kadang
pemerintah mengira mitra akan menyediakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah
dijanjikan.
Mitra
mengira nagari sudah menyiapkan masyarakat, padahal belum.
Masyarakat
menunggu kegiatan yang ternyata belum memiliki kepastian.
Karena itu,
semakin terbuka komunikasi, semakin kecil kemungkinan kolaborasi berhenti
akibat asumsi.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ukur Kolaborasi dari Perubahan, Bukan Banyaknya Mitra
Nagari bisa
memiliki banyak mitra dan tetap tidak menghasilkan perubahan berarti.
Karena itu,
jumlah kerja sama bukan ukuran utama.
Yang perlu
ditanyakan adalah:
Persoalan
apa yang berubah?
Apakah
kapasitas masyarakat meningkat?
Apakah akses
terhadap layanan menjadi lebih baik?
Apakah ada
peluang ekonomi baru?
Apakah
masyarakat memiliki kemampuan yang sebelumnya belum dimiliki?
Apakah satu
persoalan dapat ditangani lebih baik dibanding ketika pemerintah bekerja
sendiri?
Apakah
hubungan tersebut menghasilkan sesuatu yang dapat terus berjalan?
Pertanyaan
ini penting agar kolaborasi tidak berubah menjadi tujuan itu sendiri.
Tujuan
akhirnya bukan:
Memiliki
banyak mitra.
Tujuan
akhirnya adalah:
Menciptakan perubahan yang lebih baik bagi masyarakat.
Jika sebuah
kerja sama tidak lagi relevan, tidak perlu dipertahankan hanya untuk menjaga
angka atau citra.
Sebaliknya,
jika hubungan menghasilkan dampak nyata, nagari perlu memikirkan bagaimana
pembelajaran tersebut dapat diperkuat dan diteruskan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kemitraan yang Baik Membuat Semua Pihak Bertumbuh
Kolaborasi
yang sehat tidak membuat satu pihak menjadi semakin kuat sementara pihak lain
hanya menjadi pelaksana.
Kemitraan
yang baik seharusnya menghasilkan pertumbuhan bersama.
Masyarakat
memperoleh pengetahuan dan kesempatan.
Pemerintah
nagari belajar mengelola persoalan yang lebih kompleks.
Perguruan
tinggi memperoleh ruang untuk menerapkan pengetahuan.
Dunia usaha
menemukan peluang dan jaringan baru.
Komunitas
memperluas dampaknya.
Mitra
memahami kondisi lokal dengan lebih baik.
Media
mendapatkan pengalaman dan cerita yang bermakna bagi publik.
Inilah
alasan mengapa kolaborasi dapat menjadi kekuatan pembangunan jangka panjang.
Ia bukan
sekadar cara untuk mengatasi kekurangan dana.
Kolaborasi
juga menjadi cara untuk memperluas kemampuan.
Nagari
belajar bahwa tidak semua jawaban harus berasal dari dalam kantor pemerintahan.
Masyarakat
belajar bahwa pembangunan bukan hanya pekerjaan pemerintah.
Mitra
belajar bahwa solusi yang baik harus berangkat dari kondisi nyata.
Semua pihak
dapat berubah karena hubungan tersebut.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Hubungan Menjadi Ekosistem
Pada
akhirnya, tujuan jangka panjang bukan hanya membangun satu kerja sama.
Yang lebih
penting adalah membangun ekosistem kolaborasi.
Dalam
ekosistem yang sehat, orang-orang sudah mulai terbiasa bekerja bersama.
Perguruan
tinggi mengetahui persoalan yang sedang berkembang.
Komunitas
memahami arah pembangunan.
Pemerintah
mengenali kekuatan masyarakat.
Pelaku usaha
mengetahui potensi lokal.
Profesional
memiliki saluran untuk berbagi keahlian.
Masyarakat
tidak selalu menunggu pemerintah memulai semuanya.
Hubungan-hubungan
produktif mulai tumbuh.
Di titik
ini, nagari tidak lagi harus mencari bantuan dari nol setiap kali menghadapi
persoalan.
Sudah ada
kepercayaan.
Sudah ada
pengalaman.
Sudah ada
jaringan.
Dan yang
paling penting, sudah ada kebiasaan untuk bertanya:
“Siapa yang dapat bergerak bersama?”
Inilah
perkembangan yang perlu kita dorong.
Karena
persoalan pembangunan akan semakin kompleks, sementara kemampuan satu institusi
selalu memiliki batas.
Tidak ada
pemerintah yang dapat mengerjakan semuanya sendiri.
Tidak ada
masyarakat yang harus menunggu semua jawaban datang dari pemerintah.
Tidak ada
perguruan tinggi yang dapat menghasilkan dampak luas jika pengetahuannya tidak
bertemu dengan persoalan nyata.
Tidak ada dunia
usaha yang berkembang sendiri tanpa ekosistem yang mendukung.
Dan tidak
ada kolaborasi yang hidup jika semua pihak hanya bertemu ketika membutuhkan
sesuatu.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kolaborasi Dimulai Ketika Kita Berhenti Bertanya Siapa yang Paling Kuat
Mungkin
selama ini kita terlalu sering mencari pihak yang paling kuat.
Siapa yang
memiliki dana?
Siapa yang
memiliki kewenangan?
Siapa yang
memiliki jaringan terbesar?
Padahal,
pembangunan tidak selalu membutuhkan satu pihak yang paling kuat.
Yang
dibutuhkan sering kali adalah kemampuan untuk mempertemukan kekuatan yang
berbeda.
Satu pihak
membawa data.
Pihak lain
membawa pengetahuan.
Yang lain
membawa jaringan.
Masyarakat
membawa pengalaman nyata.
Pemerintah
membawa kemampuan menghubungkan dan mengarahkan.
Ketika
semuanya memiliki tujuan yang jelas dan peran yang saling melengkapi, kekuatan
kecil pun dapat menghasilkan dampak yang jauh lebih besar.
Karena itu,
nagari tidak perlu terburu-buru mencari sebanyak mungkin mitra.
Mulailah
dengan satu persoalan yang nyata.
Pahami
masalahnya.
Cari
kepentingan bersama.
Temukan
pihak yang tepat.
Bagi peran
dengan jelas.
Bangun
kepercayaan.
Jaga
komunikasi.
Dan ukur
perubahan yang berhasil diciptakan.
Dari sanalah
kenalan mulai berubah menjadi hubungan.
Hubungan
berubah menjadi kerja sama.
Dan kerja
sama, ketika dibangun dengan tujuan, kepercayaan, serta peran yang jelas, dapat
berkembang menjadi kolaborasi.
Sebab kemitraan bukan lahir ketika banyak pihak duduk dalam satu ruangan. Kemitraan lahir ketika pihak-pihak yang berbeda menemukan alasan untuk bekerja bersama dan tetap bergerak setelah ruangan itu ditinggalkan.
Bagi nagari,
mungkin itulah salah satu kekuatan pembangunan yang paling penting untuk
dibangun hari ini.
Bukan
sekadar kemampuan mencari mitra.
Tetapi kemampuan
membuat kemitraan benar-benar bekerja.
