Mulai dari Mana? Lima Langkah Membangun Ekosistem Kolaborasi di Nagari

Ilustrasi realis pemerintah nagari, masyarakat, komunitas, dan berbagai mitra berdiskusi membangun ekosistem kolaborasi untuk menyelesaikan persoalan pembangunan nagari
Ekosistem kolaborasi dimulai dari memahami persoalan, memetakan kekuatan, memilih mitra yang tepat, menghubungkan potensi, lalu merawat kerja bersama.

Celoteh Nagari : 
Pembangunan nagari sering terasa berat karena persoalan yang dihadapi terlihat jauh lebih besar daripada sumber daya yang tersedia.

Ada kebutuhan masyarakat yang terus bertambah.

Ada usulan pembangunan yang belum semuanya dapat dibiayai.

Ada persoalan ekonomi, sosial, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan pelayanan yang datang secara bersamaan.

Sementara itu, anggaran memiliki batas.

Aparatur juga memiliki keterbatasan waktu dan kapasitas.

Dalam situasi seperti ini, gagasan tentang kolaborasi sering terdengar menarik. Nagari dapat melibatkan masyarakat, perguruan tinggi, dunia usaha, komunitas, media, profesional, dan berbagai pihak lainnya.

Namun kemudian muncul pertanyaan yang jauh lebih praktis:

Baik, tetapi dari mana harus memulainya?

Jangan sampai kolaborasi hanya menjadi istilah yang terdengar bagus dalam diskusi.

Nagari tidak harus langsung membentuk forum besar.

Tidak perlu terlebih dahulu mengumpulkan delapan unsur sekaligus.

Tidak harus membuat kerja sama yang rumit.

Membangun ekosistem kolaborasi dapat dimulai dari langkah yang jauh lebih sederhana.

Yang penting, ada arah.

Ada persoalan yang jelas.

Ada pihak yang tepat.

Dan ada kemauan untuk mulai menghubungkan kekuatan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Berikut lima langkah yang dapat menjadi titik awal.

1. Mulailah dengan Satu Persoalan yang Benar-Benar Dipahami

Kesalahan paling umum adalah ingin menyelesaikan terlalu banyak hal sekaligus.

Nagari memiliki banyak persoalan. Semua terasa penting. Akhirnya, kolaborasi pun dibayangkan sebagai upaya besar untuk menjawab semuanya.

Padahal, langkah pertama justru sebaiknya lebih sederhana.

Pilih satu persoalan yang benar-benar dipahami.

Persoalan itu harus cukup nyata untuk dirasakan masyarakat.

Harus dapat dijelaskan dengan jelas.

Dan harus diketahui mengapa pemerintah nagari tidak dapat atau tidak seharusnya menyelesaikannya sendirian.

Misalnya, kelompok usaha masyarakat sulit berkembang.

Jangan langsung mengatakan bahwa solusinya adalah pelatihan.

Berhenti sejenak dan baca persoalannya.

Apa yang sebenarnya terjadi?

Apakah produknya belum sesuai pasar?

Apakah kemasan menjadi masalah?

Apakah pemasaran masih terbatas?

Apakah pelaku usaha belum memiliki kemampuan manajemen?

Ataukah persoalan utamanya adalah tidak adanya jaringan pembeli?

Cara membaca persoalan inilah yang menentukan langkah berikutnya.

Seperti telah dibahas dalam Kesalahan Penyusunan RKP Nagari, perencanaan dapat kehilangan arah ketika terlalu cepat berubah menjadi daftar kegiatan. Kita sibuk menentukan apa yang akan dilakukan, sebelum benar-benar memahami apa yang sedang terjadi.

Dalam membangun kolaborasi, kesalahan yang sama juga harus dihindari.

Jangan mencari mitra sebelum memahami masalah.

Karena jika persoalannya keliru dibaca, pihak yang diajak pun mungkin tidak tepat.

Kolaborasi yang baik selalu dimulai dari masalah yang dipahami dengan baik.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

2. Petakan Kekuatan yang Sudah Ada Sebelum Mencari dari Luar

Setelah persoalan mulai jelas, langkah berikutnya bukan langsung mencari bantuan keluar.

Lihat terlebih dahulu ke dalam.

Kekuatan apa yang sebenarnya sudah dimiliki nagari?

Kadang kita terlalu cepat mengatakan bahwa sumber daya terbatas.

Padahal, yang terbatas mungkin bukan sumber dayanya, melainkan pengetahuan kita tentang sumber daya tersebut.

Ada warga yang memiliki keahlian tertentu.

Ada perantau yang bekerja di berbagai bidang.

Ada pelaku usaha berpengalaman.

Ada guru, dosen, tenaga kesehatan, dan profesional.

Ada kelompok pemuda yang memahami teknologi.

Ada kelompok perempuan yang memiliki pengalaman mengorganisasi masyarakat.

Ada komunitas yang telah lama bergerak.

Ada tokoh yang memiliki kemampuan membangun kepercayaan.

Ada kelompok tani atau kelompok usaha yang memahami persoalan lapangan.

Semua ini adalah kekuatan.

Tidak semuanya harus langsung dilibatkan. Tetapi nagari perlu mulai mengetahui bahwa pembangunan tidak hanya memiliki sumber daya yang tercatat dalam APB Nagari.

Inilah salah satu pelajaran penting dari pertanyaan Ketika Anggaran Terbatas, Apakah Pembangunan Harus Ikut Terbatas?. Keterbatasan anggaran memang nyata, tetapi pembangunan tidak hanya digerakkan oleh uang.

Ada pengetahuan.

Ada jaringan.

Ada keahlian.

Ada pengalaman.

Ada kepercayaan.

Ada kepedulian.

Ada hubungan sosial.

Semua dapat menjadi modal pembangunan jika diketahui dan dihubungkan dengan persoalan yang tepat.

Karena itu, salah satu pekerjaan awal yang dapat dilakukan nagari adalah membuat peta kekuatan sederhana.

Tidak perlu langsung menjadi dokumen yang rumit.

Cukup mulai dengan pertanyaan:

  • Siapa yang memiliki kemampuan relevan?
  • Kelompok apa yang sudah aktif?
  • Jaringan apa yang telah dimiliki masyarakat?
  • Siapa yang mungkin memahami persoalan ini?
  • Kekuatan apa yang sudah ada, tetapi belum pernah dihubungkan?

Sering kali, langkah pertama kolaborasi ternyata dimulai dari menemukan kembali kekuatan yang selama ini sudah berada di sekitar kita.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

3. Tentukan Siapa yang Benar-Benar Perlu Diajak

Setelah masalah dan kekuatan awal dipetakan, barulah nagari melihat ke luar.

Siapa yang perlu diajak?

Di sinilah pendekatan Delapan Kekuatan untuk Membangun Nagari: Membaca Octahelix Ala Kemendesa menjadi berguna.

Octahelix membantu kita memahami bahwa sumber daya pembangunan dapat berasal dari berbagai unsur.

Pemerintah bukan satu-satunya kekuatan.

Masyarakat dan komunitas memiliki peran.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan.

Dunia usaha dapat membuka pengalaman dan akses pasar.

Media dapat memperluas informasi.

Tokoh dan pemimpin opini dapat membangun pengaruh.

Profesional membawa keahlian.

Yayasan dan organisasi sosial dapat menjadi bagian dari gerakan.

Tetapi memahami delapan kekuatan bukan berarti setiap persoalan harus melibatkan delapan pihak.

Justru langkah pentingnya adalah memilih pihak yang paling relevan.

Jika persoalannya pemasaran produk lokal, mungkin dunia usaha dan profesional pemasaran lebih dibutuhkan.

Jika persoalannya membutuhkan penelitian atau penguatan kapasitas, perguruan tinggi mungkin menjadi mitra penting.

Jika persoalannya berkaitan dengan perubahan perilaku masyarakat, komunitas dan tokoh lokal mungkin memiliki peran yang lebih besar.

Pertanyaannya bukan:

“Siapa saja yang bisa kita kumpulkan?”

Melainkan:

“Siapa yang memiliki kekuatan yang benar-benar dibutuhkan untuk membantu menyelesaikan persoalan ini?”

Semakin jelas persoalan, semakin mudah menentukan mitra.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

4. Hubungkan Kekuatan, Jangan Berusaha Memiliki Semuanya

Setelah pihak yang relevan ditemukan, pekerjaan berikutnya adalah membangun hubungan.

Di sinilah nagari memainkan peran penting.

Nagari tidak harus menjadi pihak yang paling ahli.

Tidak harus memiliki semua sumber daya.

Tidak harus mengerjakan seluruh pekerjaan.

Tetapi harus mampu menghubungkan.

Seperti dibahas dalam artikel Nagari Tidak Harus Memiliki Semua Kekuatan, Tetapi Harus Mampu Menghubungkannya, pembangunan sering kali memiliki sumber daya yang tersebar.

Pengetahuan ada di satu tempat.

Jaringan ada di tempat lain.

Pengalaman berada pada pihak yang berbeda.

Masyarakat memiliki persoalan nyata.

Pemerintah memiliki kemampuan untuk memfasilitasi dan membuka ruang pertemuan.

Kekuatan baru muncul ketika semuanya dapat saling menemukan.

Karena itu, tugas awal nagari bukan selalu menyusun program besar.

Kadang cukup dengan memulai percakapan yang tepat.

Mempertemukan kelompok masyarakat dengan orang yang memahami persoalannya.

Menghubungkan pelaku usaha lokal dengan jaringan pasar.

Membuka komunikasi dengan perguruan tinggi.

Mempertemukan komunitas dengan pihak yang memiliki sumber daya pendukung.

Namun menghubungkan bukan berarti sekadar memberikan nomor telepon.

Nagari perlu membantu memastikan setiap pihak memahami:

persoalan apa yang sedang dibicarakan,

tujuan apa yang ingin dicapai,

dan mengapa mereka perlu bergerak bersama.

Hubungan yang jelas memiliki peluang lebih besar untuk berkembang menjadi kerja sama.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

5. Mulai dari Kerja Bersama yang Kecil, Lalu Rawat Hubungannya

Tidak semua kolaborasi harus dimulai dengan kesepakatan besar.

Bahkan, sering kali lebih baik memulai dari sesuatu yang kecil dan dapat dibuktikan.

Pilih satu persoalan.

Tentukan satu tujuan.

Libatkan pihak yang relevan.

Bagi peran secara sederhana.

Lalu mulai bekerja.

Pengalaman kecil ini sangat penting karena kolaborasi membutuhkan kepercayaan.

Kepercayaan tidak lahir dari rencana yang indah.

Kepercayaan tumbuh ketika orang melihat bahwa pihak lain benar-benar menjalankan komitmennya.

Karena itu, setelah hubungan berhasil dibangun, tantangan berikutnya adalah membuatnya benar-benar bekerja.

Pembahasan ini telah dijelaskan lebih jauh dalam artikel Dari Kenalan Menjadi Kolaborasi: Bagaimana Nagari Membangun Kemitraan yang Benar-Benar Bekerja?. Pertemuan hanyalah awal. Kemitraan membutuhkan tujuan bersama, pembagian peran, komunikasi, kepercayaan, dan komitmen untuk tetap bergerak setelah pertemuan selesai.

Mulailah dari sesuatu yang memungkinkan.

Jangan menunggu semua kondisi sempurna.

Tidak perlu menunggu seluruh jaringan terbentuk.

Satu keberhasilan kecil dapat menjadi modal untuk membangun hubungan berikutnya.

Masyarakat mulai percaya.

Mitra memahami bahwa nagari serius.

Pemerintah belajar mengelola kerja sama.

Pihak-pihak yang sebelumnya belum saling mengenal mulai menemukan manfaat bekerja bersama.

Dari sinilah ekosistem tumbuh.

Bukan melalui satu keputusan besar.

Tetapi melalui hubungan yang terus dirawat dan pengalaman kerja bersama yang semakin bertambah.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Lima Langkah Bukan Rumus yang Kaku

Lima langkah ini bukan tahapan yang harus selalu berjalan secara lurus.

Dalam praktiknya, proses bisa bergerak maju dan mundur.

Ketika berdiskusi dengan mitra, nagari mungkin menemukan bahwa pemahamannya tentang masalah belum lengkap.

Saat memetakan kekuatan, muncul informasi baru.

Ketika mulai bekerja, pembagian peran mungkin perlu diperbaiki.

Itulah hal yang wajar.

Kolaborasi bukan proyek dengan semua jawaban tersedia sejak awal.

Kolaborasi adalah proses belajar bersama.

Yang terpenting, nagari memiliki cara berpikir yang tepat.

Mulai dari persoalan.

Bukan dari proyek.

Lihat kekuatan yang sudah ada.

Bukan langsung fokus pada apa yang tidak dimiliki.

Pilih pihak yang relevan.

Bukan sebanyak mungkin pihak.

Hubungkan kekuatan.

Bukan berusaha menguasai semuanya.

Mulai bekerja.

Bukan berhenti pada pertemuan.

Dan setelah itu:

Rawat hubungan.

Karena pembangunan membutuhkan waktu, sementara hubungan yang baik tidak dapat dibangun secara instan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Kolaborasi Harus Menjadi Kebiasaan, Bukan Program Sesaat

Pada akhirnya, tujuan pembangunan ekosistem kolaborasi bukan sekadar menyelesaikan satu persoalan.

Tujuannya adalah membangun kebiasaan baru.

Ketika menghadapi masalah, nagari tidak langsung bertanya:

“Apakah anggaran kita cukup?”

Tetapi juga bertanya:

“Siapa yang sudah memiliki kekuatan untuk membantu menyelesaikan persoalan ini?”

Ketika menyusun rencana, kita tidak hanya memikirkan kegiatan.

Kita juga memikirkan jaringan.

Ketika melihat potensi masyarakat, kita tidak hanya mencatatnya.

Kita memikirkan bagaimana potensi itu dapat dihubungkan.

Ketika ada mitra yang datang, kita tidak hanya melihat apa yang bisa mereka berikan.

Kita juga bertanya apa yang dapat dibangun bersama.

Perubahan cara berpikir inilah yang paling penting.

Karena pembangunan yang hanya bergantung pada anggaran akan selalu berhadapan dengan batas.

Sementara pembangunan yang mampu menghubungkan pengetahuan, jaringan, pengalaman, keahlian, kepercayaan, dan sumber daya dari berbagai pihak memiliki ruang yang jauh lebih luas untuk bergerak.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Dari Musyawarah ke Gerakan Bersama

Mungkin selama ini kita terlalu sering menganggap forum pembangunan sebagai tempat untuk mengumpulkan daftar kebutuhan.

Masyarakat datang membawa usulan.

Usulan dicatat.

Prioritas ditentukan.

Kemudian kita menunggu anggaran.

Pola ini tentu tetap penting dalam sistem perencanaan.

Tetapi pembangunan tidak harus berhenti pada apa yang dapat dibiayai.

Dari setiap persoalan yang muncul dalam musyawarah, nagari sebenarnya dapat mulai bertanya:

Apakah persoalan ini hanya membutuhkan anggaran?

Atau ada pihak lain yang dapat mengambil peran?

Apakah ada masyarakat yang memiliki pengetahuan?

Apakah ada komunitas yang telah bergerak?

Apakah ada perguruan tinggi yang memiliki keahlian relevan?

Apakah dunia usaha dapat menjadi bagian dari solusi?

Apakah jaringan perantau dapat membuka peluang?

Dengan pertanyaan seperti ini, musyawarah tidak hanya menghasilkan daftar kegiatan.

Musyawarah dapat menjadi tempat awal untuk membaca persoalan dan menemukan kekuatan yang dapat digerakkan bersama.

Inilah perubahan yang mungkin perlu mulai kita bangun.

Dari perencanaan yang hanya bertanya apa yang akan dikerjakan pemerintah, menuju pembangunan yang juga bertanya:

“Apa yang dapat kita kerjakan bersama?”

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Nagari Tidak Perlu Menunggu Menjadi Sempurna

Tidak ada nagari yang memiliki seluruh kapasitas.

Tidak ada aparatur yang mengetahui semua jawaban.

Tidak ada anggaran yang mampu menjangkau seluruh persoalan.

Tetapi nagari tidak perlu menunggu menjadi sempurna untuk mulai membangun kolaborasi.

Mulailah dengan memahami satu persoalan.

Kenali kekuatan yang sudah ada.

Cari pihak yang paling relevan.

Hubungkan mereka.

Lakukan kerja bersama dalam skala yang memungkinkan.

Kemudian pelajari hasilnya.

Perbaiki yang belum berhasil.

Dan rawat hubungan yang telah tumbuh.

Lima langkah ini mungkin terdengar sederhana.

Namun perubahan besar sering kali memang dimulai dari langkah yang sederhana dan dilakukan secara konsisten.

Pembangunan nagari tidak akan menjadi lebih kuat hanya karena kita memiliki daftar mitra yang panjang.

Ia menjadi lebih kuat ketika hubungan-hubungan tersebut mampu bergerak, saling melengkapi, dan menghasilkan perubahan nyata.

Nagari tidak harus memiliki semua jawaban. Tetapi nagari harus mulai belajar mengajukan pertanyaan yang tepat, menemukan kekuatan yang tepat, dan mempertemukan mereka untuk mencari jawaban bersama.

Mungkin di situlah ekosistem kolaborasi benar-benar dimulai.

Bukan ketika delapan pihak duduk dalam satu ruangan.

Bukan ketika sebuah dokumen kerja sama ditandatangani.

Tetapi ketika satu persoalan nyata berhasil membuat berbagai kekuatan yang berbeda memilih untuk bergerak bersama.

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama