Celoteh Nagari : Ada cara lama untuk mengukur kemampuan sebuah nagari.
Kita melihat
besar anggarannya.
Kita melihat
banyaknya aset.
Kita melihat
jumlah program yang dilaksanakan.
Kita melihat
seberapa banyak kegiatan yang berhasil masuk ke dalam APB Nagari.
Semua ukuran
itu tentu penting. Anggaran tetap menentukan kemampuan pemerintah menjalankan
kewenangannya. Aset dapat menjadi modal pembangunan. Program yang baik juga
dibutuhkan untuk menjawab persoalan masyarakat.
Tetapi
perkembangan pembangunan nagari menghadirkan pertanyaan yang lebih besar.
Apakah
sebuah nagari harus memiliki seluruh sumber daya untuk dapat menyelesaikan
persoalan masyarakat?
Jawabannya
tentu tidak.
Tidak ada
nagari yang memiliki semua ahli.
Tidak ada
nagari yang mempunyai anggaran untuk membiayai seluruh kebutuhan sekaligus.
Tidak ada
pemerintah nagari yang menguasai seluruh teknologi, jaringan, pengetahuan,
pasar, maupun sumber daya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap persoalan.
Kalau
demikian, mungkin persoalannya bukan semata-mata apa yang dimiliki nagari.
Melainkan:
Seberapa
baik nagari mengetahui sumber daya yang dimilikinya, sumber daya yang berada di
luar dirinya, dan bagaimana menghubungkan semuanya untuk menyelesaikan
persoalan bersama.
Di sinilah
kapasitas pembangunan nagari perlu mulai dibaca dengan cara yang berbeda.
Nagari tidak
harus menjadi pihak yang mengerjakan semuanya sendiri.
Tetapi
nagari perlu memiliki kemampuan untuk menghubungkan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Pemerintah Terlalu Sibuk Mengerjakan Semuanya Sendiri
Pemerintah
nagari selama ini memang menjadi titik utama pembangunan di tingkat lokal.
Masyarakat
datang membawa persoalan.
Pemerintah
menerima usulan.
Musyawarah
diselenggarakan.
Rencana
disusun.
Anggaran
dialokasikan.
Kegiatan
dilaksanakan.
Laporan
dibuat.
Siklus ini
penting dan akan selalu menjadi bagian dari penyelenggaraan pemerintahan
nagari.
Masalah
muncul ketika seluruh persoalan masyarakat dianggap harus masuk ke dalam satu
jalur yang sama: pemerintah nagari harus menyelesaikannya.
Akibatnya,
setiap persoalan selalu diterjemahkan menjadi kebutuhan anggaran.
Ketika ada
masalah, pertanyaan pertama menjadi:
Berapa
biayanya?
Lalu:
Bisakah
dimasukkan ke APB Nagari?
Jika
jawabannya tidak bisa, persoalan sering kali kehilangan jalannya.
Padahal,
seperti telah kita bahas dalam artikel Ketika Anggaran Terbatas, Apakah Pembangunan Harus Ikut
Terbatas?, kemampuan keuangan memang memiliki batas, tetapi sumber
daya pembangunan tidak selalu hanya berada di dalam APB Nagari.
Ada sumber
daya yang berada di masyarakat.
Ada
pengetahuan di perguruan tinggi.
Ada jaringan
dan pengalaman di dunia usaha.
Ada
kapasitas di komunitas.
Ada
organisasi sosial yang memiliki fokus pada persoalan tertentu.
Ada
profesional yang memiliki keahlian khusus.
Ada program
pemerintah lain yang mungkin relevan.
Ada tokoh
yang mampu membangun kepercayaan dan membuka komunikasi.
Masalahnya,
semua kekuatan itu sering berjalan sendiri-sendiri.
Nagari
memiliki persoalan, tetapi tidak mengetahui siapa yang dapat membantu.
Pihak lain
memiliki program atau kemampuan, tetapi tidak mengetahui kebutuhan nyata di
nagari.
Akibatnya,
sumber daya sebenarnya ada, tetapi tidak pernah bertemu.
Di sinilah
pembangunan membutuhkan seseorang atau sebuah institusi yang mampu melakukan
pekerjaan penting:
menghubungkan
yang selama ini terpisah.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Pelaksana Menjadi Penghubung
Perubahan
ini tidak berarti pemerintah nagari berhenti menjadi pelaksana pembangunan.
Pemerintah
tetap memiliki kewenangan yang harus dijalankan.
Tetap harus
memberikan pelayanan.
Tetap
menyusun perencanaan.
Tetap
mengelola anggaran secara akuntabel.
Tetap
bertanggung jawab terhadap program yang menjadi kewenangannya.
Tetapi di
tengah persoalan pembangunan yang semakin kompleks, pemerintah nagari
membutuhkan satu kapasitas tambahan.
Menjadi
penghubung ekosistem.
Artinya,
pemerintah tidak hanya bertanya:
“Apa yang
dapat kami kerjakan?”
Tetapi juga
mulai bertanya:
“Siapa yang
dapat kami hubungkan?”
Ini adalah
perbedaan kecil dalam kalimat, tetapi besar dalam cara berpikir.
Misalnya,
sebuah kelompok usaha di nagari mengalami kesulitan memasarkan produknya.
Pendekatan
lama mungkin langsung mencari program bantuan.
Pemerintah
nagari memikirkan anggaran pelatihan.
Atau mencari
bantuan peralatan.
Pendekatan
sebagai penghubung dimulai dengan pertanyaan yang lebih luas.
Apakah
masalah utamanya memang peralatan?
Atau
kualitas produk?
Kemasan?
Pemasaran
digital?
Akses pasar?
Manajemen
usaha?
Perizinan?
Jika
persoalannya telah terbaca dengan benar, sumber daya yang dibutuhkan juga akan
lebih mudah ditemukan.
Mungkin
kelompok usaha membutuhkan perguruan tinggi untuk pendampingan.
Mungkin
membutuhkan pelaku usaha untuk membuka akses pasar.
Mungkin
membutuhkan profesional pemasaran digital.
Mungkin
membutuhkan dukungan pemerintah daerah terkait perizinan atau pelatihan.
Mungkin
media lokal dapat membantu memperkenalkan produk.
Dalam
situasi seperti ini, pemerintah nagari tidak harus membiayai seluruh proses.
Tetapi ia
dapat memainkan peran yang sangat penting dengan mempertemukan kebutuhan
dengan pihak yang tepat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Octahelix Memberi Kita Cara Baru Melihat Kekuatan
Inilah
hubungan penting artikel ini dengan pembahasan sebelumnya tentang Delapan Kekuatan untuk Membangun Nagari: Membaca Octahelix
Ala Kemendesa.
Pendekatan
Octahelix membuka cara pandang bahwa pembangunan tidak harus dibebankan kepada
satu institusi saja.
Ada berbagai
kekuatan yang dapat mengambil peran.
Pemerintah.
Masyarakat
dan komunitas.
Perguruan
tinggi.
Dunia usaha.
Media.
Tokoh dan
pejabat.
Profesional
serta pemimpin opini.
Yayasan dan
organisasi sosial.
Namun
mengetahui bahwa delapan kekuatan itu ada belum otomatis menghasilkan
kolaborasi.
Seseorang
harus memulai hubungan.
Seseorang
harus memahami persoalan.
Seseorang
harus mengetahui pihak mana yang relevan.
Seseorang
harus membangun komunikasi.
Dan seseorang
harus menjaga agar kesepakatan tidak berhenti di meja rapat.
Di tingkat
lokal, pemerintah nagari memiliki posisi yang sangat strategis untuk
menjalankan fungsi tersebut.
Bukan karena
pemerintah harus menguasai semuanya.
Justru
karena pemerintah berada dekat dengan persoalan masyarakat.
Pemerintah
nagari dapat mengetahui apa yang sedang terjadi.
Dapat
membaca kebutuhan.
Dapat
mengidentifikasi potensi.
Dapat
mempertemukan warga dengan pihak lain.
Dapat
membuka komunikasi dengan pemerintah di tingkat yang lebih tinggi.
Dapat
menjadi titik temu berbagai kepentingan.
Dengan kata
lain, dalam ekosistem pembangunan, pemerintah nagari dapat menjadi simpul
penghubung.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Menghubungkan Harus Dimulai dari Kemampuan Membaca Masalah
Tentu, tidak
mungkin menghubungkan sebuah persoalan jika kita sendiri belum memahami
persoalan tersebut.
Karena itu,
kapasitas pertama yang dibutuhkan nagari bukan langsung kemampuan membangun
jaringan.
Tetapi kemampuan
membaca masalah dengan benar.
Ini sangat
berkaitan dengan kualitas perencanaan.
Sering kali
sebuah dokumen perencanaan sudah penuh dengan daftar kegiatan, tetapi kita
masih sulit menjawab pertanyaan paling sederhana:
Masalah apa
yang sebenarnya ingin diselesaikan oleh kegiatan-kegiatan tersebut?
Contohnya,
sebuah nagari mengusulkan pelatihan.
Tetapi
pelatihan untuk menyelesaikan masalah apa?
Mengapa
pelatihan diperlukan?
Siapa yang
membutuhkan?
Apa
perubahan yang diharapkan setelah pelatihan?
Apakah
pelatihan benar-benar menjadi solusi?
Atau masalah
sebenarnya adalah akses pasar?
Pertanyaan
seperti inilah yang membedakan perencanaan berbasis kegiatan dengan perencanaan
yang berangkat dari persoalan.
Karena itu,
kita tidak dapat memisahkan kemampuan membangun kolaborasi dari kualitas
perencanaan. Seperti dibahas dalam artikel Kesalahan Penyusunan RKP Nagari, perencanaan
dapat kehilangan arah ketika terlalu cepat berubah menjadi daftar kegiatan
tanpa proses yang cukup kuat dalam membaca kebutuhan dan menentukan prioritas.
Nagari yang
ingin menjadi penghubung harus terlebih dahulu mampu menjelaskan persoalan
secara sederhana dan jelas.
Bukan:
“Kami
membutuhkan bantuan.”
Tetapi:
“Kami
menghadapi persoalan ini. Dampaknya seperti ini. Kami sudah memiliki kekuatan
ini. Namun kami masih membutuhkan dukungan pada bagian ini.”
Kalimat
kedua jauh lebih mudah membuka pintu kolaborasi.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tidak Semua Masalah Membutuhkan Delapan Pihak
Ada
kesalahpahaman yang perlu dihindari.
Setelah
mengenal Octahelix, jangan sampai nagari merasa bahwa setiap persoalan harus
melibatkan delapan unsur.
Itu justru
dapat membuat kolaborasi menjadi rumit.
Sebuah
persoalan mungkin hanya membutuhkan dua pihak.
Persoalan
lain membutuhkan tiga.
Ada yang
cukup diselesaikan antara masyarakat dan pemerintah nagari.
Ada pula
persoalan yang memang membutuhkan jejaring lebih luas.
Kuncinya
adalah kesesuaian peran.
Bayangkan
persoalan stunting.
Pemerintah
nagari tentu memiliki peran.
Tetapi
penyelesaian persoalan tidak mungkin hanya dilakukan melalui satu kegiatan
pemerintah.
Keluarga
memiliki peran penting.
Tenaga
kesehatan membawa pengetahuan dan layanan.
Kader berada
dekat dengan masyarakat.
Pemerintah
daerah memiliki program dan kewenangan.
Perguruan
tinggi dapat membantu penelitian atau penguatan kapasitas.
Komunitas
dapat mendukung perubahan perilaku.
Media dapat
memperluas edukasi.
Tidak semua
pihak harus melakukan pekerjaan yang sama.
Justru
kekuatan kolaborasi terletak pada kemampuan membagi peran.
Karena itu,
fungsi nagari sebagai penghubung bukan berarti harus mengumpulkan sebanyak
mungkin lembaga.
Fungsi itu
berarti memilih hubungan yang paling relevan dengan persoalan yang ingin
diselesaikan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Menghubungkan Potensi yang Ada di Dalam Nagari
Sering kali
kita terlalu jauh mencari mitra pembangunan.
Padahal,
sebagian kekuatan mungkin sudah ada di dalam nagari sendiri.
Ada warga
yang bekerja sebagai dosen.
Ada pelaku
usaha yang telah berhasil.
Ada tenaga
kesehatan.
Ada guru.
Ada
profesional teknologi.
Ada tokoh
masyarakat dengan jaringan luas.
Ada perantau
yang memiliki pengalaman dan hubungan di berbagai tempat.
Ada
komunitas anak muda yang memahami media digital.
Ada kelompok
perempuan yang memiliki pengalaman mengorganisasi kegiatan.
Ada kelompok
tani yang memahami persoalan pertanian jauh lebih baik daripada siapa pun.
Semua ini
adalah modal sosial dan pengetahuan.
Masalahnya,
nagari belum tentu memiliki peta tentang siapa memiliki kemampuan apa.
Akibatnya,
ketika membutuhkan bantuan, kita selalu mulai dari nol.
Padahal,
salah satu langkah sederhana untuk membangun kapasitas penghubung adalah mulai
memetakan:
siapa yang
ada di sekitar kita?
keahlian apa
yang mereka miliki?
jaringan apa
yang mungkin dapat dibuka?
persoalan
apa yang menjadi perhatian mereka?
Pemetaan
seperti ini tidak harus langsung menjadi dokumen besar.
Yang
penting, nagari mulai menyadari bahwa sumber daya manusia bukan hanya aparatur
yang tercatat dalam struktur organisasi.
Ada kekuatan
besar yang tersebar di tengah masyarakat.
Tugas
berikutnya adalah membangun hubungan agar kekuatan itu dapat bergerak ketika
memang dibutuhkan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kolaborasi Tidak Bisa Dibangun Saat Nagari Sedang Terdesak
Ada
kebiasaan lain yang perlu diubah.
Kita baru
mencari mitra ketika sedang membutuhkan bantuan.
Ketika ada
masalah mendesak, baru mencari nomor telepon.
Ketika
program sudah berjalan, baru mencari pihak yang dapat diajak bekerja sama.
Ketika
anggaran sudah tidak cukup, baru mencoba membangun jaringan.
Cara seperti
ini sering membuat kolaborasi terasa sebagai hubungan sesaat.
Padahal,
hubungan membutuhkan waktu.
Kepercayaan
tidak lahir dalam satu rapat.
Kemitraan
tidak otomatis terbentuk hanya karena ada surat undangan.
Karena itu,
nagari perlu mulai membangun jaringan sebelum berada dalam keadaan
membutuhkan.
Perguruan
tinggi dapat diajak berdiskusi sejak awal.
Hubungan
dengan pelaku usaha dapat dibangun melalui komunikasi yang rutin.
Komunitas
lokal dapat dilibatkan dalam pembacaan persoalan.
Perantau
dapat tetap terhubung dengan perkembangan nagari.
Profesional
dapat dikenalkan dengan potensi yang dimiliki masyarakat.
Dengan cara
ini, ketika persoalan muncul, nagari tidak memulai dari ruang kosong.
Sudah ada
hubungan.
Sudah ada
komunikasi.
Sudah ada
tingkat kepercayaan tertentu.
Inilah
perbedaan antara mencari bantuan dan membangun ekosistem.
Yang pertama
bersifat sesaat.
Yang kedua
menjadi kekuatan jangka panjang.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Menjadi Penghubung Bukan Berarti Menjadi Pusat Segala Sesuatu
Ada satu hal
yang juga harus dijaga.
Ketika
pemerintah nagari menjadi penghubung, bukan berarti semua hubungan harus selalu
melewati pemerintah.
Tujuan
akhirnya bukan menciptakan pemerintah sebagai satu-satunya pusat dari seluruh
aktivitas.
Justru
kolaborasi yang sehat harus mampu melahirkan hubungan-hubungan baru.
Perguruan
tinggi dapat berhubungan langsung dengan kelompok masyarakat.
Pelaku usaha
dapat membangun kemitraan dengan produsen lokal.
Komunitas
dapat bekerja sama dengan organisasi sosial.
Kelompok
pemuda dapat berjejaring dengan profesional.
Pemerintah
nagari cukup memastikan hubungan tersebut tumbuh dalam arah yang baik dan tetap
berkaitan dengan kebutuhan pembangunan masyarakat.
Di sini,
peran penghubung lebih mirip membuka jalan, bukan menguasai seluruh
jalan.
Semakin
banyak hubungan produktif yang lahir, semakin kuat ekosistem pembangunan
nagari.
Pada
akhirnya, pemerintah juga tidak harus terus-menerus menjadi pelaksana utama.
Ia dapat
lebih fokus pada fungsi yang memang menjadi kewenangannya, sementara kekuatan
masyarakat dan mitra berkembang dengan perannya masing-masing.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kapasitas Baru: Dari Mengelola Anggaran ke Mengelola Hubungan
Selama ini,
kita banyak berbicara tentang kapasitas aparatur nagari.
Kemampuan
administrasi.
Kemampuan
pengelolaan keuangan.
Kemampuan
menyusun perencanaan.
Kemampuan
menggunakan aplikasi.
Semua itu
tetap sangat penting.
Namun masa
depan pembangunan lokal membutuhkan kapasitas lain:
kemampuan
mengelola hubungan.
Mengelola
hubungan berarti mampu berkomunikasi dengan baik.
Mampu
menjelaskan persoalan.
Mampu
membangun kepercayaan.
Mampu
menemukan kepentingan bersama.
Mampu
membagi peran.
Mampu
menjaga komitmen.
Mampu
menyelesaikan perbedaan.
Dan yang
paling penting, mampu memastikan bahwa kerja sama tetap menghasilkan manfaat
bagi masyarakat.
Kemampuan
ini mungkin tidak selalu tertulis secara rinci dalam dokumen perencanaan.
Tetapi
sering kali menentukan apakah sebuah peluang pembangunan dapat benar-benar
diwujudkan.
Dua nagari
mungkin memiliki persoalan yang hampir sama.
Keduanya
memiliki anggaran yang terbatas.
Keduanya
memiliki potensi yang serupa.
Tetapi salah
satunya mampu membangun jaringan dan menggerakkan banyak pihak.
Nagari
lainnya bekerja sendiri.
Dalam jangka
panjang, kemungkinan perkembangan keduanya bisa sangat berbeda.
Bukan
semata-mata karena satu nagari lebih kaya.
Tetapi
karena salah satunya memiliki modal hubungan yang lebih kuat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Musyawarah Menjadi Ruang Memulai Hubungan
Pemikiran
ini juga dapat mengubah cara kita memandang forum-forum pembangunan.
Musyawarah
tidak hanya berfungsi untuk mengumpulkan usulan.
Forum
perencanaan dapat menjadi ruang untuk mengenali persoalan bersama.
Memetakan
kekuatan.
Mencari
pihak yang dapat mengambil peran.
Dan bahkan
memulai percakapan tentang bentuk kerja sama yang mungkin dibangun.
Dengan
begitu, hasil musyawarah tidak hanya berupa daftar:
apa yang
akan dibiayai.
Tetapi juga
dapat menghasilkan pemahaman:
siapa yang
akan dihubungkan untuk menangani persoalan yang belum dapat diselesaikan
sendiri.
Ini tentu
membutuhkan kualitas partisipasi yang lebih baik.
Masyarakat
tidak hanya hadir untuk menyampaikan kebutuhan.
Mereka juga
dapat membawa pengetahuan tentang siapa yang memiliki kemampuan.
Tentang
jaringan yang dapat dibuka.
Tentang
potensi lokal yang belum digunakan.
Tentang
pengalaman baik yang pernah terjadi.
Di sinilah
pembangunan mulai menjadi benar-benar milik bersama.
Bukan karena
semua orang harus mengerjakan semuanya.
Tetapi
karena setiap orang memiliki kesempatan membawa kekuatan yang dimilikinya.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Nagari Masa Depan Mungkin Tidak Diukur dari Seberapa Banyak yang
Dimilikinya
Kita perlu
mulai membayangkan ukuran baru tentang nagari yang kuat.
Bukan hanya
nagari dengan anggaran besar.
Bukan hanya
nagari dengan gedung yang banyak.
Bukan hanya
nagari dengan program yang panjang.
Tetapi
nagari yang tahu persoalannya.
Memahami
potensinya.
Mampu
menentukan prioritas.
Mengenali
keterbatasannya.
Tidak malu
meminta bantuan ketika memang diperlukan.
Memiliki
jaringan.
Mampu
membangun kepercayaan.
Dan dapat
menghubungkan berbagai kekuatan untuk mencapai tujuan bersama.
Inilah salah
satu pelajaran penting dari rangkaian pembahasan tentang keterbatasan anggaran
dan Octahelix.
Pertama, kita
menyadari bahwa keterbatasan anggaran tidak harus menjadi batas bagi
pembangunan.
Kemudian
kita melihat bahwa berbagai kekuatan sebenarnya dapat terlibat dalam
menyelesaikan persoalan nagari.
Sekarang,
muncul pertanyaan berikutnya:
bagaimana
semua kekuatan itu dapat mulai bergerak?
Jawabannya
sering kali dimulai dari kemampuan untuk menghubungkan.
Seseorang
menghubungkan masalah dengan data.
Data dengan
perencanaan.
Perencanaan
dengan prioritas.
Prioritas
dengan kewenangan.
Kebutuhan
dengan sumber daya.
Masyarakat
dengan pengetahuan.
Potensi
lokal dengan pasar.
Dan berbagai
pihak yang selama ini berjalan sendiri-sendiri dengan tujuan bersama yang lebih
besar.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Nagari Tidak Perlu Menjadi Paling Kuat untuk Mulai Bergerak
Sebuah
nagari mungkin belum memiliki seluruh sumber daya yang dibutuhkan.
Itu bukan
alasan untuk berhenti.
Nagari dapat
memulai dengan apa yang dimiliki.
Membaca
persoalan secara jujur.
Mengenali
kekuatan yang sudah ada.
Menentukan
kebutuhan yang belum terpenuhi.
Lalu mencari
pihak yang relevan.
Membangun
komunikasi.
Menciptakan
kepercayaan.
Dan mulai
menghubungkan.
Karena pada
akhirnya, kekuatan pembangunan tidak selalu berada pada siapa yang memiliki
sumber daya paling banyak.
Kadang
kekuatan terbesar berada pada kemampuan untuk membuat sumber daya yang tersebar
saling menemukan dan bekerja bersama.
Mungkin
inilah salah satu kapasitas paling penting bagi nagari di masa depan.
Bukan harus
menjadi pihak yang memiliki semuanya.
Bukan harus
mengerjakan semuanya sendiri.
Tetapi
menjadi nagari yang mampu berkata:
“Kami
memahami persoalan kami. Kami tahu kekuatan yang kami miliki. Kami tahu apa
yang masih kami butuhkan. Dan kami siap menghubungkan mereka yang dapat
bergerak bersama.”
Sebab
pembangunan yang kuat tidak selalu dimulai dari sumber daya yang besar.
Sering kali, pembangunan dimulai ketika kekuatan-kekuatan yang selama ini terpisah akhirnya menemukan alasan untuk saling terhubung.
