Celoteh Nagari : Ketika sebuah usaha BUMNag mulai menghasilkan, pertanyaan yang sering muncul adalah bagaimana meningkatkan keuntungan. Pertanyaan itu memang penting, karena sebuah badan usaha harus mampu bertahan dan berkembang. Namun, ada pertanyaan lain yang tidak kalah penting untuk dijawab: seberapa banyak masyarakat yang dapat ikut tumbuh bersama usaha tersebut?
Pertanyaan
inilah yang menarik dari perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar Nagari Duo Koto.
Beberapa tahun lalu, lembaga ini mulai mengembangkan usaha penggemukan sapi
melalui pola kemitraan dengan masyarakat. Jumlah sapi yang awalnya masih dalam
skala satuan kemudian berkembang menjadi puluhan ekor yang dipersiapkan untuk
penjualan pada musim haji atau Iduladha.
Pada tahun
2025, usaha tersebut mencatat laba sebesar Rp32,7 juta. Angka ini tentu
menjadi capaian penting bagi sebuah usaha nagari yang dibangun secara bertahap.
Namun, cerita BUMNag Lumbuang Pintar ternyata tidak berhenti pada sapi.
Saat ini,
BUMNag mulai mengembangkan pembibitan ikan nila dan itik petelur, tetap
dengan semangat kemitraan bersama masyarakat. Langkah tersebut membuka cerita
baru. Jika usaha sapi hanya dapat dijalankan oleh warga yang memiliki kondisi
tertentu, maka usaha lain diharapkan mampu menjangkau masyarakat yang lebih
luas.
Di sinilah
pelajaran penting dari Duo Koto mulai terlihat. Yang perlu dipelajari bukan
semata-mata bagaimana beternak sapi, tetapi bagaimana sebuah BUMNag mencari
cara agar semakin banyak warga memiliki kesempatan untuk terlibat dalam
kegiatan ekonomi.
Sapi Menjadi Awal, Bukan Akhir Perjalanan
Usaha
penggemukan sapi menjadi salah satu pintu awal BUMNag Lumbuang Pintar dalam membangun
kemitraan dengan masyarakat. Warga yang memiliki kandang dan bersedia
memelihara sapi BUMNag dapat mengajukan diri menjadi mitra.
Pola
tersebut memiliki kelebihan karena masyarakat tidak harus meninggalkan
pekerjaan utamanya. Mereka dapat memelihara beberapa ekor sapi di rumah sambil
tetap menjalankan kegiatan sehari-hari. BUMNag kemudian mengelola usaha dan
melakukan pemantauan terhadap perkembangan ternak.
Dalam
artikel sebelumnya, Celoteh Nagari telah menceritakan perjalanan tersebut
melalui Dari Satu Dua Sapi Menjadi Puluhan: Kisah BUMNag Lumbuang PintarMembangun Usaha BersamaWarga.
Dari sana terlihat bahwa pertumbuhan usaha tidak berlangsung secara instan.
BUMNag memulai dari skala yang dapat dikelola, kemudian belajar dari setiap
perjalanan usaha hingga jumlah sapi berkembang menjadi puluhan.
Bagi warga,
pola tersebut memberikan pengalaman yang menarik. Mereka dapat memanfaatkan
kandang yang sudah dimiliki dan menjadikan pemeliharaan sapi sebagai kegiatan
ekonomi tambahan. Dalam bahasa sederhana, sapi tersebut dapat dipandang sebagai
semacam tabungan yang hidup di rumah.
Namun, tidak
semua warga memiliki kandang sapi. Tidak semua orang memiliki pengalaman
memelihara sapi. Bahkan bagi sebagian keluarga, kondisi rumah dan pekerjaan
sehari-hari mungkin tidak memungkinkan mereka mengambil bagian dalam pola
tersebut.
Karena
itulah, perkembangan usaha BUMNag tidak cukup jika hanya berhenti pada
keberhasilan satu model.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tidak Semua Warga Bisa Memelihara Sapi
Setiap
masyarakat memiliki kondisi yang berbeda. Ada warga yang memiliki kandang dan
pengalaman beternak, tetapi ada pula yang lebih dekat dengan usaha perikanan
atau pemeliharaan unggas.
BUMNag yang
ingin memperluas manfaat ekonominya perlu memahami perbedaan tersebut. Jangan
sampai sebuah lembaga hanya menyediakan satu pintu, kemudian berharap seluruh
masyarakat bisa masuk melalui pintu yang sama.
Di sinilah
pengembangan usaha pembibitan ikan nila dan itik petelur menjadi menarik.
Usaha baru
tersebut memberikan kemungkinan kepada kelompok masyarakat yang sebelumnya
belum tentu dapat mengikuti pola usaha sapi. Warga yang tidak memiliki kandang
sapi mungkin memiliki ruang atau kemampuan yang sesuai untuk kegiatan
perikanan. Warga lainnya mungkin lebih cocok mengembangkan usaha itik petelur.
Dengan
membuka beberapa pilihan, BUMNag sebenarnya sedang memperluas ruang partisipasi
ekonomi masyarakat.
Ini bukan sekadar
menambah daftar unit usaha. BUMNag sedang mencoba memperbanyak pintu agar
masyarakat dapat menemukan bentuk keterlibatan yang sesuai dengan kemampuan
mereka.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Diversifikasi Membuka Kesempatan Baru
Dalam dunia usaha,
diversifikasi biasanya dilakukan untuk mengembangkan sumber pendapatan dan
mengurangi ketergantungan pada satu jenis usaha. Bagi BUMNag, pemikiran
tersebut tentu penting. Namun, diversifikasi dapat memiliki makna yang lebih
luas ketika lembaga menghubungkannya dengan kebutuhan masyarakat.
BUMNag
Lumbuang Pintar memberikan contoh sederhana. Setelah mengembangkan usaha sapi
melalui pola kemitraan, lembaga tersebut mulai masuk ke pembibitan ikan nila
dan itik petelur dengan konsep yang sama.
Langkah ini
menunjukkan bahwa pengembangan usaha dapat berjalan seiring dengan upaya
memperluas keterlibatan masyarakat. BUMNag tidak hanya mencari jenis usaha
baru, tetapi juga mencari bentuk kegiatan ekonomi yang dapat menjangkau warga
dengan kemampuan yang berbeda.
Tentu, tidak
berarti setiap usaha baru pasti berhasil. Setiap unit usaha tetap membutuhkan
perencanaan, modal, pengelolaan, pengawasan, serta pasar yang jelas. BUMNag
harus memastikan bahwa keinginan memperbanyak kesempatan tidak membuat lembaga
membuka usaha tanpa perhitungan.
Artikel 5 Jenis Usaha yang Berhasil DikelolaBUMDes,
memberikan pelajaran penting bahwa tidak ada satu jenis usaha yang otomatis
cocok untuk semua desa atau nagari. Potensi lokal, kemampuan pengelola,
kebutuhan masyarakat, dan pasar harus menjadi pertimbangan sebelum sebuah usaha
dikembangkan.
Karena itu,
yang menarik dari Lumbuang Pintar bukan sekadar pilihan sapinya, ikannya, atau
itiknya. Yang menarik adalah kemauan untuk terus mencari bentuk usaha yang
sesuai dengan kondisi masyarakat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
BUMNag Perlu Membaca Potensi Masyarakat
Membangun
usaha nagari sebenarnya tidak selalu berarti menciptakan sesuatu yang sama sekali
baru. Sering kali, potensi yang dibutuhkan sudah ada di tengah masyarakat,
tetapi belum terhubung dengan sebuah sistem usaha.
Masyarakat
mungkin sudah memiliki keterampilan. Sebagian sudah memiliki kandang. Sebagian
memiliki lahan atau kolam. Ada yang memiliki pengalaman memelihara ternak,
sementara yang lain memiliki pengetahuan tentang perikanan.
BUMNag dapat
mengambil posisi sebagai penghubung.
Lembaga
menyediakan kerangka usaha, mengelola kemitraan, menjaga perputaran modal, dan
memastikan kegiatan tetap berjalan. Masyarakat kemudian mengambil peran sesuai
kemampuan yang mereka miliki.
Cara
berpikir seperti ini membuat BUMNag tidak perlu mengerjakan semuanya sendiri.
Justru dengan menghubungkan berbagai potensi yang tersebar di masyarakat,
lembaga dapat membangun ekosistem usaha yang lebih luas.
Gagasan
tersebut sejalan dengan Delapan Kekuatan untuk MembangunNagari.
Nagari memiliki banyak kekuatan yang dapat menjadi modal pembangunan.
Persoalannya sering kali bukan ketiadaan potensi, tetapi bagaimana berbagai
kekuatan tersebut dapat dihubungkan dan dikelola.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kemitraan Membuat Masyarakat Tidak Hanya Menunggu
Pola
kemitraan juga mengubah posisi masyarakat dalam kegiatan ekonomi. Warga tidak
hanya menunggu bantuan atau program dari nagari. Mereka dapat mengambil peran
sebagai mitra dan ikut menjalankan proses produksi.
Pada usaha
sapi, misalnya, masyarakat yang memenuhi syarat dapat memelihara sapi BUMNag di
kandang mereka. Mereka tetap bekerja seperti biasa, tetapi pada saat yang sama
memiliki kegiatan ekonomi tambahan melalui ternak yang dipelihara.
BUMNag
kemudian tetap menjalankan fungsi pengelolaan dan pengawasan. Pengurus memantau
perkembangan sapi secara rutin. Jika ada ternak yang sakit atau muncul masalah
lain, pengurus dan mitra perlu segera mengambil tindakan agar persoalan tidak
berkembang menjadi kerugian.
Pola seperti
ini menunjukkan bahwa kemitraan membutuhkan dua hal sekaligus: kepercayaan
dan tanggung jawab.
BUMNag harus
percaya kepada masyarakat yang menjadi mitra. Masyarakat juga perlu percaya
bahwa BUMNag menjalankan pengelolaan secara baik dan terbuka. Di antara
keduanya terdapat tanggung jawab yang harus dijalankan secara konsisten.
Hal tersebut
menjadi semakin penting ketika BUMNag mengembangkan pola kemitraan pada usaha
ikan nila dan itik petelur. Setiap jenis usaha memiliki karakter dan risiko
yang berbeda, sehingga mekanisme pengelolaan harus terus disesuaikan.
Dalam
konteks yang lebih luas, prinsip tersebut juga dapat dipelajari melalui Cara Membangun KemitraanNagari.
Kemitraan yang sehat membutuhkan pembagian peran yang jelas, komunikasi,
pengawasan, dan kesepakatan yang dipahami oleh semua pihak.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Menambah Usaha Tidak Sama dengan Menambah Manfaat
Di sinilah
BUMNag perlu berhati-hati.
Ketika
sebuah lembaga memiliki satu usaha yang mulai berjalan, muncul keinginan untuk
membuka usaha kedua, ketiga, dan seterusnya. Keinginan tersebut sebenarnya
wajar. Namun, banyaknya unit usaha tidak otomatis menunjukkan bahwa sebuah
BUMNag semakin sehat.
BUMNag harus
memastikan setiap usaha memiliki alasan yang kuat.
Apakah
masyarakat membutuhkannya?
Apakah
pasarnya tersedia?
Apakah
pengelola mampu menjalankannya?
Apakah
modalnya cukup?
Apakah
risikonya dapat dikendalikan?
Dan yang
tidak kalah penting, apakah masyarakat dapat ikut memperoleh manfaat dari
usaha tersebut?
Pertanyaan
terakhir menjadi penting dalam membaca perkembangan BUMNag Lumbuang Pintar.
Pengembangan ikan nila dan itik petelur bukan hanya menarik dari sisi
diversifikasi usaha, tetapi juga karena membuka kemungkinan keterlibatan
masyarakat yang lebih luas.
Dengan
demikian, pertumbuhan BUMNag dapat dilihat dari dua sisi. Ada pertumbuhan
bisnis dan ada pertumbuhan manfaat sosial ekonomi.
Keduanya
seharusnya berjalan bersama.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Kandang Sapi ke Kolam dan Kandang Itik
Perjalanan
usaha BUMNag Lumbuang Pintar menunjukkan bahwa pengalaman dari satu usaha dapat
menjadi modal untuk mengembangkan usaha berikutnya.
Usaha sapi
memberikan pengalaman tentang kemitraan. Pengurus belajar memantau aset yang
berada di tangan masyarakat. Mereka belajar menghadapi risiko kesehatan ternak
dan menjaga agar persoalan segera mendapatkan penanganan.
Masyarakat
juga mendapatkan pengalaman menjadi bagian dari sebuah kegiatan usaha yang
dikelola melalui BUMNag.
Pengalaman
tersebut tidak hilang ketika lembaga mulai mengembangkan usaha lain. Ia menjadi
pengetahuan yang dapat dibawa ke pembibitan ikan nila dan itik petelur.
Tentu,
setiap usaha tetap memiliki karakter masing-masing. Cara memelihara sapi tidak
sama dengan mengelola ikan. Pengelolaan itik petelur juga memiliki tantangan
tersendiri. Namun, prinsip dasarnya tetap dapat digunakan: BUMNag mengelola
usaha, masyarakat menjadi mitra, aset dipantau, risiko diantisipasi, dan hasil
usaha dibangun melalui mekanisme yang jelas.
Di sinilah
pengalaman menjadi aset yang sangat berharga bagi sebuah BUMNag.
Lembaga
tidak lagi belajar dari titik nol setiap kali mengembangkan usaha baru. Ada
pengalaman yang telah terkumpul dari perjalanan sebelumnya.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pemimpin BUMNag Harus Mampu Melihat Lebih Jauh
Pada artikel
kedua dalam serial ini, kita telah melihat perjalanan Sudirman Datuak Marajo
Nan Kuniang, Direktur BUMNag Lumbuang Pintar yang dipercaya memimpin
lembaga tersebut sejak awal hingga sekarang. Pada masa awal merintis, beliau
tidak menerima gaji tetap setiap bulan. Penghasilan berkaitan dengan persentase
bagi hasil ketika usaha menghasilkan penjualan.
Kisah
tersebut memperlihatkan bagaimana kepemimpinan BUMNag pada masa awal
membutuhkan kesediaan untuk menjalani proses sebelum hasil benar-benar
terlihat. Anda dapat membaca kembali Ketika Jabatan Tidak Digaji Bulanan : Kisah Sudirman Merintis Kepercayaan di BUMNag Lumbuang Pintar untuk melihat sisi kepemimpinan tersebut.
Kini
tantangannya berkembang.
Seorang
pemimpin BUMNag tidak cukup hanya mempertahankan usaha yang sudah berjalan. Ia
juga harus mampu melihat peluang berikutnya tanpa mengabaikan kemampuan lembaga.
Ketika masyarakat memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda, pengelola perlu
mencari cara agar semakin banyak warga dapat terhubung dengan kegiatan ekonomi
BUMNag.
Di sinilah
kepemimpinan bertemu dengan kemampuan membaca masyarakat.
Pemimpin
tidak hanya bertanya tentang keuntungan usaha. Ia juga perlu bertanya siapa
yang dapat terlibat, bagaimana masyarakat dapat memperoleh manfaat, dan
bagaimana lembaga dapat membangun hubungan ekonomi yang sehat dalam jangka
panjang.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Jangan Mengejar Banyak Unit Usaha
Pengalaman
banyak BUM Desa menunjukkan bahwa membuka usaha jauh lebih mudah daripada
menjaga usaha agar tetap hidup.
Karena itu,
BUMNag Lumbuang Pintar juga perlu memastikan bahwa setiap langkah pengembangan
tetap melalui perhitungan yang matang. Pembibitan ikan nila dan itik petelur
harus memiliki pasar, sistem pengelolaan, pola kemitraan, dan mekanisme
pengawasan yang jelas.
Semangat
memperluas manfaat tidak boleh membuat BUMNag mengabaikan prinsip dasar bisnis.
Usaha tetap
harus menghasilkan.
Aset tetap
harus dijaga.
Keuangan
harus dicatat.
Risiko harus
dikendalikan.
Dan
pengelola harus mampu mengevaluasi hasil secara berkala.
Artikel Laporan Keuangan BUMDes: Panduan Praktis menjadi relevan dalam konteks ini. BUMNag perlu mengetahui kondisi usahanya
secara nyata melalui pencatatan dan laporan keuangan yang tertib. Laba harus
dapat diketahui, biaya harus dapat ditelusuri, dan keputusan pengembangan usaha
perlu berdasarkan informasi yang memadai.
Dengan cara
itu, ekspansi tidak sekadar menjadi tanda bahwa BUMNag memiliki banyak
kegiatan, tetapi menjadi bagian dari pertumbuhan usaha yang sehat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ukuran Keberhasilan Tidak Hanya Laba
Laba Rp32,7
juta yang dicatat BUMNag Lumbuang Pintar pada tahun 2025 merupakan capaian yang
patut diperhatikan. Namun, perjalanan lembaga tersebut memberi alasan bagi kita
untuk melihat ukuran keberhasilan secara lebih luas.
Ada
pertumbuhan usaha dari jumlah sapi yang awalnya masih satuan menjadi puluhan
ekor. Ada masyarakat yang terlibat sebagai mitra. Ada pengurus yang terus
memantau perkembangan ternak. Ada pengalaman yang bertambah dari satu siklus
usaha ke siklus berikutnya.
Sekarang
muncul pula usaha pembibitan ikan nila dan itik petelur yang menggunakan konsep
kemitraan dengan masyarakat.
Semua itu
memperlihatkan bahwa sebuah BUMNag dapat memiliki dua tujuan yang berjalan
bersama: membangun usaha yang sehat dan membuka kesempatan ekonomi bagi
masyarakat.
Jika hanya
mengejar laba, BUMNag mungkin akan memilih usaha yang menghasilkan keuntungan
paling besar. Tetapi jika lembaga juga memperhatikan dampak ekonomi masyarakat,
maka pertanyaan yang muncul menjadi lebih luas.
Berapa
banyak warga yang dapat ikut?
Berapa
banyak rumah tangga yang dapat memperoleh tambahan pendapatan?
Apakah
masyarakat dapat menggunakan aset yang sudah mereka miliki?
Apakah usaha
tersebut dapat berjalan tanpa mengganggu pekerjaan utama warga?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti inilah yang dapat membantu BUMNag menemukan arah pengembangan yang
lebih sesuai dengan karakter nagari.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Duo Koto, Bukan Sapinya yang Harus Ditiru
Nagari lain
yang membaca kisah BUMNag Lumbuang Pintar tidak harus langsung berpikir untuk
membeli sapi.
Belum tentu
sapi cocok dengan kondisi nagari tersebut.
Mungkin
masyarakatnya lebih kuat di bidang pertanian. Mungkin ada potensi perikanan.
Bisa jadi ada kelompok yang memiliki keterampilan mengolah makanan. Ada pula
nagari yang memiliki potensi wisata atau jasa yang jauh lebih besar.
Yang perlu
ditiru adalah cara berpikirnya.
Mulailah
dari potensi yang benar-benar ada.
Lihat
kemampuan masyarakat.
Cari pasar
yang nyata.
Bangun
kemitraan yang adil.
Mulai dari
skala yang dapat dikelola.
Pantau usaha
secara rutin.
Evaluasi
hasilnya.
Kemudian,
jika usaha berjalan baik, cari peluang untuk memperluas manfaatnya.
Inilah yang
membuat perjalanan Lumbuang Pintar relevan untuk nagari lain. Usaha sapi hanya
menjadi salah satu contoh. Pembibitan ikan nila dan itik petelur kemudian
menunjukkan bahwa sebuah BUMNag dapat terus mencari bentuk usaha yang lebih
sesuai dengan kondisi masyarakat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Semakin Banyak Warga, Semakin Besar Makna Ekonomi Nagari
Pada
akhirnya, keberadaan BUMNag akan menjadi semakin berarti ketika masyarakat
merasakan bahwa lembaga tersebut benar-benar membuka kesempatan ekonomi.
Bukan
berarti setiap warga harus menjadi mitra BUMNag. Tidak semua orang memiliki
minat dan kemampuan yang sama. Namun, semakin banyak pilihan usaha yang sehat
dan terkelola, semakin besar peluang masyarakat menemukan ruang yang sesuai
dengan dirinya.
Sapi dapat
menjadi pilihan bagi warga yang memiliki kandang dan kemampuan memelihara
ternak.
Ikan nila
dapat menjadi pilihan bagi warga yang memiliki potensi di bidang perikanan.
Itik petelur
dapat membuka ruang bagi masyarakat dengan kemampuan dan kondisi yang berbeda.
Dari sana,
BUMNag tidak sekadar memiliki beberapa unit usaha. Ia mulai membangun jaringan
kesempatan ekonomi di tengah masyarakat.
Inilah yang
sebenarnya menarik dari perkembangan Lumbuang Pintar.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
BUMNag Bukan Sekadar Mencari Usaha yang Menguntungkan
Perjalanan
BUMNag Lumbuang Pintar mengajarkan bahwa mencari usaha yang menguntungkan
memang penting. Namun, ada pertanyaan yang seharusnya selalu menyertai
keputusan tersebut: siapa yang bisa tumbuh bersama usaha itu?
Usaha
penggemukan sapi memberikan satu jawaban. Model tersebut mampu menghubungkan
BUMNag dengan masyarakat yang memiliki kandang dan bersedia memelihara sapi.
Dari usaha yang awalnya masih kecil, jumlah sapi kemudian berkembang menjadi
puluhan ekor.
Namun,
pengalaman tersebut juga memperlihatkan keterbatasannya. Tidak semua warga
dapat masuk ke pola usaha sapi.
Karena itu,
BUMNag mulai membuka jalan melalui pembibitan ikan nila dan itik petelur.
Langkah ini
menunjukkan bahwa diversifikasi usaha tidak harus dimaknai sekadar sebagai cara
menambah pendapatan lembaga. Diversifikasi juga dapat menjadi cara
memperluas manfaat dan kesempatan masyarakat.
Di sinilah
pembangunan ekonomi nagari menemukan maknanya yang lebih luas.
BUMNag tidak
hanya menjadi tempat berkumpulnya modal. BUMNag dapat menjadi penghubung antara
modal, potensi, keterampilan, masyarakat, dan pasar.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Satu Kandang Menuju Banyak Kesempatan
Jika kita
kembali melihat perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar dari awal, ceritanya
sebenarnya cukup sederhana.
Usaha
dimulai dari skala kecil.
Masyarakat
kemudian dilibatkan melalui kemitraan.
Pengurus
memantau perkembangan usaha.
Risiko
ditangani ketika muncul.
Sapi berkembang
menjadi puluhan ekor.
Usaha
menghasilkan laba Rp32,7 juta pada tahun 2025.
Kemudian
BUMNag mulai mengembangkan pembibitan ikan nila dan itik petelur dengan konsep
kemitraan yang sama.
Namun, di
balik rangkaian tersebut terdapat satu gagasan yang lebih besar: usaha
nagari seharusnya tidak hanya tumbuh di dalam lembaga, tetapi juga dapat
membawa masyarakat ikut tumbuh bersamanya.
Karena itu,
ukuran keberhasilan BUMNag tidak cukup berhenti pada pertanyaan tentang berapa
besar laba yang dihasilkan. Kita juga perlu melihat berapa banyak masyarakat
yang memperoleh kesempatan, berapa banyak aset lokal yang menjadi produktif,
dan seberapa kuat hubungan ekonomi yang terbentuk antara lembaga dengan warga.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pelajaran Terbesar dari BUMNag Lumbuang Pintar
Pada
akhirnya, BUMNag Lumbuang Pintar tidak sedang memberikan satu resep yang harus
diterapkan oleh semua nagari.
Duo Koto
memiliki kondisi sendiri. Masyarakatnya memiliki potensi sendiri. Pengelolanya
memiliki pengalaman sendiri. Karena itu, nagari lain tidak perlu menyalin
bentuk usahanya secara mentah.
Yang jauh
lebih penting adalah belajar dari prosesnya.
Mulailah
dari apa yang tersedia di masyarakat. Kelola secara bertahap. Bangun kemitraan.
Jaga aset. Pantau risiko. Pelajari pengalaman. Kemudian kembangkan usaha yang
dapat membuka semakin banyak kesempatan bagi masyarakat.
Jika sapi
cocok, kembangkan sapi.
Jika ikan
lebih sesuai, kembangkan ikan.
Jika itik
memiliki peluang, kembangkan itik.
Dan jika
suatu saat ditemukan potensi lain yang lebih menjanjikan, BUMNag dapat kembali
mengevaluasi dan mengambil keputusan berdasarkan kebutuhan masyarakat serta
kemampuan lembaga.
Dengan cara
seperti itu, BUMNag tidak terjebak pada satu jenis usaha.
Ia juga
tidak terjebak pada ambisi memperbanyak unit usaha.
Yang
dibangun adalah ekosistem ekonomi nagari yang memberi ruang kepada lebih
banyak warga untuk bergerak.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Bukan Tentang Sapi, tetapi Tentang Kesempatan
Mungkin
inilah kesimpulan paling sederhana dari perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar.
Kisah ini
memang dimulai dari sapi. Tetapi pelajarannya bukan tentang sapi.
Pelajarannya
tentang bagaimana sebuah lembaga ekonomi nagari membaca potensi masyarakat dan
kemudian mencoba memperluas kesempatan melalui berbagai bentuk usaha.
Sapi menjadi
pintu pertama.
Ikan nila
membuka pintu berikutnya.
Itik petelur
menambah pilihan lainnya.
Dan mungkin
masih akan ada pintu-pintu baru yang dibuka pada masa mendatang.
Semakin
banyak pintu yang sehat dan dapat dikelola, semakin banyak pula kemungkinan
masyarakat menemukan ruang untuk terlibat sesuai dengan kemampuan mereka.
Itulah
sebabnya BUMNag yang baik tidak cukup hanya bertanya, “Usaha apa yang bisa
menghasilkan keuntungan?”
Ia juga
perlu bertanya, “Usaha apa yang memungkinkan semakin banyak masyarakat ikut
tumbuh?”
Dari Nagari
Duo Koto, kita mendapatkan sebuah pelajaran yang sederhana tetapi penting. Kemandirian
ekonomi nagari tidak harus dibangun melalui satu usaha besar. Ia dapat tumbuh
dari berbagai usaha yang dikelola dengan baik, dibangun melalui kemitraan, dan
memberi ruang bagi masyarakat untuk menjadi bagian dari prosesnya.
Dan ketika
BUMNag mampu menjalankan peran tersebut, lembaga itu tidak lagi sekadar menjadi
badan usaha milik nagari.
Ia menjadi jembatan
antara potensi masyarakat dan kesempatan ekonomi.
Itulah
inspirasi yang sesungguhnya dari perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar.
Celoteh Nagari — Suara Desa, Gagasan Indonesia
