Celoteh Nagari : Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan usaha ekonomi nagari: masyarakat tidak selalu harus menjadi penerima manfaat. Dalam kondisi tertentu, masyarakat justru dapat menjadi bagian dari usaha itu sendiri. Mereka memiliki aset, tenaga, pengalaman, dan pengetahuan yang kemudian dapat dihubungkan dengan kelembagaan BUMNag.
Kisah BUMNag
Lumbuang Pintar Nagari Duo Koto memberikan gambaran menarik tentang hal
tersebut melalui usaha penggemukan sapi. Usaha yang telah berjalan selama
beberapa tahun ini berkembang dari jumlah sapi yang pada awalnya masih satuan
menjadi puluhan ekor yang dipersiapkan untuk penjualan pada musim haji atau
Iduladha.
Yang
membuatnya menarik bukan hanya jumlah sapi yang terus bertambah. Ada pola
kemitraan yang membuat masyarakat ikut berada di dalam perjalanan usaha. Warga
yang memiliki kandang dan bersedia memelihara sapi BUMNag dapat mengajukan diri
sebagai mitra. Mereka memelihara sapi di rumah sambil tetap menjalankan
pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.
Dengan cara
seperti ini, sapi tidak hanya menjadi hewan ternak yang dipelihara. Bagi
masyarakat, sapi dapat menjadi semacam tabungan yang hidup di rumah.
Di situlah
cerita BUMNag Lumbuang Pintar menjadi lebih dari sekadar cerita tentang
peternakan.
BUMNag Tidak Harus Mengerjakan Semuanya Sendiri
Salah satu
persoalan yang sering dihadapi BUM Desa atau BUMNag adalah cara menjalankan
usaha dengan sumber daya yang terbatas. Ketika sebuah lembaga ingin
mengembangkan usaha, pertanyaan yang muncul biasanya berkaitan dengan modal,
tenaga kerja, tempat usaha, hingga kemampuan pengelola.
Padahal,
nagari sebenarnya memiliki banyak sumber daya yang sudah tersedia di tengah
masyarakat.
Ada warga
yang memiliki kandang. Ada yang memiliki pengalaman memelihara ternak. Ada yang
memiliki waktu untuk merawat sapi di sela-sela pekerjaan utama. Ada pula
masyarakat yang mungkin selama ini sudah terbiasa dengan kegiatan peternakan
sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.
Persoalannya
adalah bagaimana potensi tersebut dapat dihubungkan dengan sebuah sistem usaha.
BUMNag
Lumbuang Pintar mengambil peran pada titik tersebut. BUMNag tidak harus
membangun seluruh fasilitas peternakan sendiri dan menempatkan semua sapi di
satu lokasi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki kesiapan dapat menjadi bagian
dari sistem melalui pola kemitraan.
Cara pandang
ini cukup penting. BUMNag tidak selalu harus menjadi pelaku tunggal. Dalam
kondisi tertentu, peran yang lebih strategis justru adalah mengorganisasi
potensi yang sudah ada di masyarakat menjadi sebuah kegiatan ekonomi yang
terarah.
Gagasan
tersebut sejalan dengan pembahasan Celoteh Nagari mengenai Membangun EkosistemKolaborasi Nagari. Nagari akan memiliki kekuatan lebih besar ketika
berbagai sumber daya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling dihubungkan
dalam sebuah ekosistem.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Kandang di Rumah Menjadi Bagian dari Usaha Nagari
Konsep
kemitraan yang diterapkan BUMNag Lumbuang Pintar memiliki sisi yang sangat
dekat dengan kehidupan masyarakat.
Warga yang
memiliki kandang dan bersedia memelihara sapi BUMNag dapat mengajukan diri.
Artinya, keterlibatan masyarakat tidak mengharuskan mereka mengubah seluruh
aktivitas kehidupannya. Mereka tetap dapat menjalankan pekerjaan utama,
sementara beberapa ekor sapi dipelihara di kandang yang sudah mereka miliki.
Di sinilah
konsep “tabungan yang hidup di rumah” menjadi menarik.
Masyarakat
tidak harus menyisihkan uang dalam jumlah tertentu setiap bulan untuk membangun
aset. Dalam pola ini, sapi yang dipelihara menjadi aset yang memiliki nilai
ekonomi. Selama dipelihara dengan baik dan berkembang sesuai harapan, aset
tersebut akan memiliki nilai pada saat penjualan.
Tentu saja,
istilah “tabungan” di sini bukan berarti sapi bebas dari risiko seperti
tabungan di lembaga keuangan. Sapi adalah aset hidup yang membutuhkan pakan,
perawatan, perhatian, dan pengawasan. Nilainya juga dapat dipengaruhi kondisi
kesehatan ternak dan situasi pasar.
Namun,
justru di situlah nilai ekonominya.
Masyarakat
diberi kesempatan untuk mengelola aset produktif tanpa harus meninggalkan
pekerjaan utamanya. BUMNag memiliki mitra yang membantu menjalankan proses
pemeliharaan. Dan usaha dapat berkembang melalui jaringan kandang yang berada
di tengah masyarakat.
Model
semacam ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi BUMNag dapat dirancang agar lebih
dekat dengan kehidupan warga, bukan justru membuat warga harus menyesuaikan
diri sepenuhnya dengan sebuah sistem yang jauh dari keseharian mereka.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Kemitraan Bukan Berarti Menyerahkan Sapi Lalu Selesai
Ada satu hal
yang penting dari model ini. Setelah sapi berada di tangan masyarakat, BUMNag
tidak kemudian melepaskan tanggung jawab.
Pengurus
tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan sapi secara rutin. Kondisi
ternak diperhatikan, termasuk ketika ada sapi yang sakit atau muncul persoalan
lain yang dapat mengganggu usaha.
Jika masalah
ditemukan, tindakan perlu segera dilakukan.
Hal ini
terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan bagian penting dari tata kelola
usaha. Aset BUMNag tetap harus dijaga meskipun secara fisik berada di kandang
milik masyarakat.
Di sinilah
kemitraan membutuhkan kepercayaan sekaligus pengawasan.
BUMNag harus
percaya kepada masyarakat yang menjadi mitra. Sebaliknya, masyarakat juga perlu
merasa bahwa BUMNag hadir mendampingi dan tidak hanya datang ketika waktunya
pembagian hasil.
Hubungan
seperti ini tentu berbeda dengan pola hubungan antara pemilik modal dan pekerja
biasa. Dalam kemitraan, kedua pihak memiliki kepentingan terhadap keberhasilan
usaha.
Jika sapi
tumbuh sehat dan dapat dijual dengan baik, usaha mendapatkan hasil. Mitra juga
memperoleh manfaat sesuai mekanisme bagi hasil yang telah disepakati.
Sebaliknya,
apabila sapi sakit dan tidak segera ditangani, risiko kerugian dapat
memengaruhi usaha secara keseluruhan.
Karena itu,
pemantauan bukan sekadar kegiatan administratif. Ia menjadi bagian dari upaya
menjaga kepercayaan dan melindungi aset bersama.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Masyarakat Tidak Hanya Menerima Manfaat
Ada
perubahan cara pandang yang cukup penting dalam model seperti ini.
Masyarakat
tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat dari BUMNag. Mereka ikut
mengambil bagian dalam proses produksi.
Warga
menyediakan tempat dan melakukan pemeliharaan. BUMNag mengelola usaha dan
melakukan pengawasan. Keduanya memiliki kepentingan agar sapi dapat tumbuh
dengan baik hingga waktu penjualan.
Pola seperti
ini membuat hubungan antara BUMNag dan masyarakat menjadi lebih produktif.
BUMNag bukan
sekadar lembaga yang menjalankan kegiatan ekonomi atas nama nagari. Ia dapat
menjadi penghubung antara modal dan potensi masyarakat.
Sementara
itu, masyarakat tidak hanya menunggu program datang. Mereka dapat ikut
mengambil peran melalui sumber daya yang telah mereka miliki.
Hal tersebut
sebenarnya merupakan salah satu gagasan penting dalam pembangunan ekonomi
nagari. Ketika masyarakat memiliki posisi sebagai pelaku, rasa memiliki
terhadap kegiatan ekonomi juga berpotensi menjadi lebih kuat.
Kisah ini
juga dapat dikaitkan dengan pembahasan Delapan Kekuatan untuk MembangunNagari, bahwa kekuatan pembangunan tidak hanya berada
pada anggaran pemerintah. Masyarakat sendiri merupakan salah satu kekuatan yang
dapat menjadi modal pembangunan apabila dikelola dan dihubungkan dengan baik.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Mengapa Pola Bagi Hasil Menjadi Penting?
Dalam sebuah
kemitraan, pembagian hasil bukan sekadar persoalan siapa mendapatkan berapa. Ia
merupakan bagian dari mekanisme yang membuat masing-masing pihak memiliki
kepentingan terhadap keberhasilan usaha.
BUMNag
memiliki kepentingan agar aset yang dikelola berkembang. Masyarakat mitra juga
memiliki kepentingan agar sapi yang dipelihara tumbuh sehat dan dapat
memberikan hasil yang baik.
Ketika hasil
usaha diperoleh, pembagian dilakukan berdasarkan pola yang telah disepakati.
Pada titik
ini, keterbukaan menjadi sangat penting. Para pihak harus memahami sejak awal
bagaimana mekanisme kerja sama berlangsung, apa tanggung jawab masing-masing,
bagaimana risiko ditangani, dan bagaimana hasil usaha dihitung.
Tanpa
kejelasan, kemitraan dapat mudah menimbulkan persoalan. Sebaliknya, apabila
aturan dipahami dan dijalankan secara konsisten, hubungan kerja sama dapat
berkembang menjadi kepercayaan jangka panjang.
Dalam
konteks BUMNag Lumbuang Pintar, perjalanan usaha selama beberapa tahun
menunjukkan bahwa pola tersebut telah menjadi bagian dari proses pengembangan
usaha. Pertumbuhan dari jumlah sapi yang awalnya masih satuan hingga kini
mencapai puluhan ekor tidak terjadi hanya karena penambahan aset, tetapi juga
karena adanya masyarakat yang bersedia terlibat dalam sistem tersebut.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ada Pengawasan di Balik Setiap Ekor Sapi
Ketika
jumlah sapi masih sedikit, pengawasan mungkin relatif mudah dilakukan. Namun,
ketika jumlahnya bertambah menjadi puluhan dan tersebar di beberapa kandang
masyarakat, pekerjaan pengurus tentu menjadi lebih kompleks.
Setiap sapi
memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang tumbuh lebih cepat, ada yang
membutuhkan perhatian lebih, dan ada kemungkinan muncul masalah kesehatan.
Karena itu,
pengurus perlu mengetahui perkembangan usaha secara berkala.
Sapi yang
sakit harus segera mendapatkan perhatian. Persoalan pemeliharaan perlu
dikomunikasikan dengan mitra. Kondisi ternak harus menjadi bagian dari informasi
yang diketahui oleh pengelola BUMNag.
Dari sini
kita dapat melihat bahwa pertumbuhan usaha juga membawa konsekuensi terhadap
tata kelola.
Semakin
besar usaha, semakin kuat kebutuhan akan sistem.
Semakin
banyak mitra, semakin penting komunikasi.
Semakin
banyak aset, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan pengawasan.
Hal ini
menjadi pelajaran penting bagi BUM Desa lainnya. Jangan sampai lembaga terlalu
bersemangat menambah jumlah unit usaha atau aset, tetapi belum memiliki
kemampuan untuk mengawasinya.
Pertumbuhan
yang sehat bukan hanya tentang bertambahnya jumlah aset. Pertumbuhan juga harus
diikuti dengan meningkatnya kemampuan mengelola.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Kandang Warga Menuju Pasar Kurban
Usaha
penggemukan sapi BUMNag Lumbuang Pintar memiliki momentum pasar yang cukup
jelas. Sapi dipersiapkan untuk dijual pada musim haji atau Iduladha, ketika
kebutuhan hewan kurban meningkat.
Momentum
tersebut tentu tidak bisa dikejar hanya beberapa minggu sebelum penjualan. Sapi
membutuhkan waktu untuk dipelihara dan digemukkan.
Artinya,
kegiatan ekonomi ini sebenarnya mengajarkan satu hal sederhana tentang bisnis: hasil
hari ini sering kali merupakan buah dari keputusan yang dibuat jauh sebelumnya.
Ketika
masyarakat mulai memelihara sapi, hasil penjualannya belum langsung terlihat.
Ada waktu yang harus dilalui. Ada biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan. Ada
risiko kesehatan yang harus dijaga. Baru setelah sapi mencapai kondisi yang
sesuai dan momentum pasar datang, proses penjualan dapat dilakukan.
Karena itu,
pengelolaan usaha membutuhkan kesabaran.
Model usaha
seperti ini tidak cocok bagi pola pikir yang mengharapkan keuntungan dalam
waktu sangat singkat. Ia membutuhkan siklus. Ada masa investasi, masa
pemeliharaan, masa pertumbuhan, kemudian masa penjualan.
BUMNag yang
mampu memahami siklus tersebut memiliki peluang lebih baik untuk mengelola
usaha secara realistis.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pelajaran yang Tidak Harus Ditiru dalam Bentuk Sapi
Ketika
melihat usaha BUMNag Lumbuang Pintar berkembang, nagari lain mungkin tergoda
untuk mengatakan bahwa penggemukan sapi adalah jenis usaha yang layak ditiru.
Belum tentu.
Nagari lain
tidak harus memelihara sapi.
Yang lebih
penting untuk dipelajari adalah cara berpikir di balik usaha tersebut.
Apakah di
nagari kita ada potensi masyarakat yang belum terhubung dengan kelembagaan
ekonomi? Apakah ada aset yang dapat dimanfaatkan? Apakah masyarakat memiliki
keterampilan tertentu? Apakah BUMNag dapat berperan sebagai penghubung? Apakah
ada pasar yang jelas? Dan apakah usaha tersebut dapat dijalankan tanpa
mengganggu mata pencaharian utama masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan
seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menyalin jenis usaha.
Artikel 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, menunjukkan bahwa tidak ada satu model usaha yang
pasti berhasil di semua desa. Potensi lokal, kemampuan pengelola, kebutuhan
pasar, dan karakter masyarakat sangat menentukan.
Karena itu,
pelajaran dari Duo Koto bukan “semua nagari harus beternak sapi”.
Pelajarannya
adalah: lihat potensi yang ada, bangun kemitraan, kelola dengan serius, dan
pastikan ada pasar untuk produk yang dihasilkan.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Kemitraan Menuju Ekonomi Nagari
Jika pola
seperti ini dapat terus dijaga, dampaknya sebenarnya dapat berkembang lebih
jauh daripada sekadar keuntungan dari penjualan sapi.
Masyarakat
memperoleh kesempatan terlibat dalam kegiatan ekonomi. BUMNag memiliki ruang
untuk mengembangkan usaha. Aset yang berada di tengah masyarakat menjadi lebih
produktif. Dan hubungan antara lembaga dengan warga dapat berkembang melalui
pengalaman kerja bersama.
Inilah yang
membuat kemitraan menjadi penting dalam pembangunan ekonomi nagari.
Ekonomi
tidak hanya bergerak dari kantor BUMNag. Ia bergerak dari kandang warga, dari
aktivitas pemeliharaan, dari komunikasi antara pengurus dan mitra, kemudian
bertemu dengan pasar pada waktu yang tepat.
Dengan
demikian, BUMNag bukan hanya sebuah lembaga yang memiliki unit usaha. Ia dapat
menjadi simpul yang menghubungkan berbagai kekuatan ekonomi masyarakat.
Gagasan ini
juga sejalan dengan pembahasan Pendapatan Asli Desa: Kunci Kemandirian. Kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dari
sumber pendapatan yang besar. Ia dapat dibangun secara bertahap melalui usaha
yang nyata, dikelola dengan baik, dan memiliki hubungan dengan potensi
masyarakat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Tokoh Kali Ini Bukan Hanya Direktur
Pada artikel
sebelumnya, kita telah mengenal Sudirman Datuak Marajo Nan Kuniang sebagai
tokoh yang dipercaya menjadi Direktur BUMNag Lumbuang Pintar sejak awal hingga
sekarang. Kisah kepemimpinannya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga
dirintis ketika penghasilan tetap belum menjadi kepastian.
Namun,
artikel kali ini ingin melihat tokoh yang berbeda.
Tokohnya
adalah masyarakat Nagari Duo Koto yang bersedia menjadi mitra.
Mereka
mungkin tidak muncul dalam struktur organisasi BUMNag. Nama mereka mungkin
tidak tercantum dalam setiap berita tentang lembaga. Tetapi tanpa masyarakat
yang bersedia menyediakan kandang dan memelihara sapi, pola usaha ini tidak
akan berjalan dengan cara yang sama.
Mereka
adalah bagian dari cerita.
Ada warga
yang membuka kandangnya. Ada yang menyediakan waktu untuk merawat sapi. Ada
yang melaporkan ketika ternak mengalami masalah. Ada yang ikut menjaga agar
aset yang dipercayakan kepadanya dapat berkembang.
Di sinilah
makna rubrik Tokoh & Inspirasi Nagari menjadi lebih luas.
Tokoh tidak
selalu harus seseorang yang namanya terkenal. Kadang-kadang, tokoh inspiratif
adalah sekelompok warga yang bersedia mengambil bagian dalam sebuah gagasan dan
menjalankannya secara konsisten.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Sapi sebagai Aset, Kemitraan sebagai Kekuatan
Kisah BUMNag
Lumbuang Pintar memperlihatkan bahwa sebuah aset akan memiliki nilai lebih
besar ketika dikelola dalam sistem yang tepat.
Sapi adalah
aset.
Kandang
adalah aset.
Kemampuan
masyarakat adalah aset.
Modal BUMNag
adalah aset.
Tetapi semua
itu membutuhkan penghubung.
Kemitraan
menjadi salah satu penghubungnya.
Dengan
kemitraan, BUMNag tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Masyarakat juga
tidak harus menunggu bantuan untuk bisa ikut dalam kegiatan ekonomi. Keduanya
dapat bertemu melalui pola usaha yang memiliki tujuan dan mekanisme yang jelas.
Di situlah
sebuah lembaga ekonomi nagari mulai bergerak dari sekadar memiliki usaha
menuju membangun ekosistem usaha.
Perbedaannya
mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.
Memiliki
usaha berarti lembaga memiliki kegiatan ekonomi.
Membangun
ekosistem berarti lembaga mampu menghubungkan usaha tersebut dengan
orang-orang, aset, kemampuan, dan pasar di sekitarnya.
Perjalanan
Lumbuang Pintar menunjukkan salah satu contoh bagaimana proses tersebut dapat
berlangsung secara bertahap.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Dari Duo Koto untuk Nagari Lain
Setiap
nagari tentu memiliki cerita sendiri. Ada yang memiliki peternakan, pertanian,
perkebunan, kuliner, kerajinan, wisata, atau potensi jasa. Tidak semuanya cocok
dikembangkan melalui BUMNag, dan tidak semuanya harus dipaksakan menjadi unit
usaha.
Yang penting
adalah menemukan titik temu antara potensi, kemampuan, kebutuhan, dan pasar.
BUMNag
Lumbuang Pintar menemukan salah satu titik temu itu melalui usaha penggemukan
sapi dan kemitraan masyarakat.
Yang awalnya
hanya beberapa ekor kemudian berkembang menjadi puluhan sapi. Pada tahun 2025,
usaha tersebut mencatatkan laba sebesar Rp32,7 juta. Angka itu tentu menjadi
bagian penting dari perjalanan, tetapi yang lebih menarik adalah proses yang
menghasilkannya.
Ada warga
yang terlibat.
Ada pengurus
yang memantau.
Ada risiko
yang harus dikelola.
Ada sistem
bagi hasil.
Ada pasar
yang dituju.
Dan ada
waktu yang harus dihormati dalam proses pemeliharaan.
Semua itu
menunjukkan bahwa usaha ekonomi nagari tidak selalu harus dimulai dengan
sesuatu yang spektakuler.
Kadang-kadang,
usaha yang sederhana justru memiliki peluang tumbuh ketika dibangun di atas
potensi yang benar-benar ada di masyarakat.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Ketika Warga Memiliki “Tabungan” di Rumah
Pada
akhirnya, mungkin kalimat paling sederhana untuk menggambarkan model ini
adalah: warga memiliki tabungan yang hidup di rumah mereka.
Sapi
dipelihara sebagai aset produktif. Warga tetap menjalankan aktivitas utama.
BUMNag tetap mengelola sistem usaha dan melakukan pemantauan. Ketika waktu
penjualan tiba, hasil usaha menjadi bagian dari mekanisme bagi hasil.
Konsep ini
memperlihatkan bahwa ekonomi nagari dapat dibangun dengan cara yang dekat
dengan kehidupan masyarakat.
Tidak selalu
membutuhkan gedung baru.
Tidak selalu
membutuhkan banyak pekerja.
Tidak selalu
harus memindahkan masyarakat dari pekerjaan utama mereka.
Yang
dibutuhkan adalah kemampuan melihat potensi, membangun kepercayaan, menyusun
pola kerja sama, dan menjaga usaha secara konsisten.
Tentu, pola
seperti ini bukan tanpa tantangan. Sapi tetap merupakan aset hidup yang
memiliki risiko. Kemitraan tetap membutuhkan aturan yang jelas. Pengawasan
tetap harus dilakukan. Pencatatan keuangan tetap harus tertib. Dan usaha tetap
harus terus dievaluasi.
Tetapi
justru karena itulah kisah ini layak dipelajari.
━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━
Pelajaran Terbesarnya Adalah Cara Berjalan Bersama
Kisah BUMNag
Lumbuang Pintar pada akhirnya bukan hanya tentang sapi. Bukan pula sekadar
tentang bagi hasil.
Pelajaran
terbesarnya adalah tentang cara berjalan bersama.
BUMNag tidak
berdiri sendiri. Pengurus tidak bekerja sendirian. Masyarakat tidak hanya
menunggu manfaat. Masing-masing mengambil bagian dalam proses yang sama.
Dari sisi
lembaga, ada tanggung jawab mengelola aset dan memastikan usaha berjalan. Dari
sisi masyarakat, ada tanggung jawab memelihara sapi dengan baik. Di antara
keduanya terdapat kepercayaan yang harus terus dijaga.
Perjalanan
beberapa tahun hingga jumlah sapi berkembang dari satuan menjadi puluhan
menunjukkan bahwa model seperti ini membutuhkan waktu. Ia tidak dibangun dalam
satu musim.
Dan mungkin,
justru itulah inspirasi yang paling penting.
Nagari tidak
selalu membutuhkan usaha yang besar untuk mulai bergerak. Nagari membutuhkan
keberanian untuk melihat kekuatan yang sudah ada, mempertemukannya melalui
kemitraan, lalu menjaganya agar terus tumbuh.
Di Nagari
Duo Koto, sebagian dari proses itu terlihat melalui sapi-sapi yang dipelihara
di kandang warga.
Bagi BUMNag,
sapi tersebut adalah bagian dari aset usaha.
Bagi
masyarakat, ia dapat menjadi tabungan yang hidup.
Dan bagi
nagari, perjalanan itu memberi satu pelajaran penting: ketika lembaga dan
masyarakat saling percaya serta bersedia berbagi peran, kegiatan ekonomi yang
sederhana pun dapat tumbuh menjadi kekuatan bersama.
Celoteh Nagari — Suara Desa, Gagasan Indonesia
