Ketika Warga Menjadi Mitra: Belajar dari Pola Bagi Hasil BUMNag Lumbuang Pintar

Kemitraan warga dan BUMNag Lumbuang Pintar dalam usaha penggemukan sapi di Nagari Duo Koto
Warga bersama pengurus BUMNag Lumbuang Pintar mengembangkan usaha penggemukan sapi melalui pola kemitraan dan bagi hasil di Nagari Duo Koto

Celoteh Nagari :
Ada satu hal yang sering terlupakan ketika kita membicarakan usaha ekonomi nagari: masyarakat tidak selalu harus menjadi penerima manfaat. Dalam kondisi tertentu, masyarakat justru dapat menjadi bagian dari usaha itu sendiri. Mereka memiliki aset, tenaga, pengalaman, dan pengetahuan yang kemudian dapat dihubungkan dengan kelembagaan BUMNag.

Kisah BUMNag Lumbuang Pintar Nagari Duo Koto memberikan gambaran menarik tentang hal tersebut melalui usaha penggemukan sapi. Usaha yang telah berjalan selama beberapa tahun ini berkembang dari jumlah sapi yang pada awalnya masih satuan menjadi puluhan ekor yang dipersiapkan untuk penjualan pada musim haji atau Iduladha.

Yang membuatnya menarik bukan hanya jumlah sapi yang terus bertambah. Ada pola kemitraan yang membuat masyarakat ikut berada di dalam perjalanan usaha. Warga yang memiliki kandang dan bersedia memelihara sapi BUMNag dapat mengajukan diri sebagai mitra. Mereka memelihara sapi di rumah sambil tetap menjalankan pekerjaan dan aktivitas sehari-hari.

Dengan cara seperti ini, sapi tidak hanya menjadi hewan ternak yang dipelihara. Bagi masyarakat, sapi dapat menjadi semacam tabungan yang hidup di rumah.

Di situlah cerita BUMNag Lumbuang Pintar menjadi lebih dari sekadar cerita tentang peternakan.

BUMNag Tidak Harus Mengerjakan Semuanya Sendiri

Salah satu persoalan yang sering dihadapi BUM Desa atau BUMNag adalah cara menjalankan usaha dengan sumber daya yang terbatas. Ketika sebuah lembaga ingin mengembangkan usaha, pertanyaan yang muncul biasanya berkaitan dengan modal, tenaga kerja, tempat usaha, hingga kemampuan pengelola.

Padahal, nagari sebenarnya memiliki banyak sumber daya yang sudah tersedia di tengah masyarakat.

Ada warga yang memiliki kandang. Ada yang memiliki pengalaman memelihara ternak. Ada yang memiliki waktu untuk merawat sapi di sela-sela pekerjaan utama. Ada pula masyarakat yang mungkin selama ini sudah terbiasa dengan kegiatan peternakan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Persoalannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat dihubungkan dengan sebuah sistem usaha.

BUMNag Lumbuang Pintar mengambil peran pada titik tersebut. BUMNag tidak harus membangun seluruh fasilitas peternakan sendiri dan menempatkan semua sapi di satu lokasi. Sebaliknya, masyarakat yang memiliki kesiapan dapat menjadi bagian dari sistem melalui pola kemitraan.

Cara pandang ini cukup penting. BUMNag tidak selalu harus menjadi pelaku tunggal. Dalam kondisi tertentu, peran yang lebih strategis justru adalah mengorganisasi potensi yang sudah ada di masyarakat menjadi sebuah kegiatan ekonomi yang terarah.

Gagasan tersebut sejalan dengan pembahasan Celoteh Nagari mengenai Membangun EkosistemKolaborasi Nagari. Nagari akan memiliki kekuatan lebih besar ketika berbagai sumber daya tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling dihubungkan dalam sebuah ekosistem.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Ketika Kandang di Rumah Menjadi Bagian dari Usaha Nagari

Konsep kemitraan yang diterapkan BUMNag Lumbuang Pintar memiliki sisi yang sangat dekat dengan kehidupan masyarakat.

Warga yang memiliki kandang dan bersedia memelihara sapi BUMNag dapat mengajukan diri. Artinya, keterlibatan masyarakat tidak mengharuskan mereka mengubah seluruh aktivitas kehidupannya. Mereka tetap dapat menjalankan pekerjaan utama, sementara beberapa ekor sapi dipelihara di kandang yang sudah mereka miliki.

Di sinilah konsep “tabungan yang hidup di rumah” menjadi menarik.

Masyarakat tidak harus menyisihkan uang dalam jumlah tertentu setiap bulan untuk membangun aset. Dalam pola ini, sapi yang dipelihara menjadi aset yang memiliki nilai ekonomi. Selama dipelihara dengan baik dan berkembang sesuai harapan, aset tersebut akan memiliki nilai pada saat penjualan.

Tentu saja, istilah “tabungan” di sini bukan berarti sapi bebas dari risiko seperti tabungan di lembaga keuangan. Sapi adalah aset hidup yang membutuhkan pakan, perawatan, perhatian, dan pengawasan. Nilainya juga dapat dipengaruhi kondisi kesehatan ternak dan situasi pasar.

Namun, justru di situlah nilai ekonominya.

Masyarakat diberi kesempatan untuk mengelola aset produktif tanpa harus meninggalkan pekerjaan utamanya. BUMNag memiliki mitra yang membantu menjalankan proses pemeliharaan. Dan usaha dapat berkembang melalui jaringan kandang yang berada di tengah masyarakat.

Model semacam ini menunjukkan bahwa kegiatan ekonomi BUMNag dapat dirancang agar lebih dekat dengan kehidupan warga, bukan justru membuat warga harus menyesuaikan diri sepenuhnya dengan sebuah sistem yang jauh dari keseharian mereka.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Kemitraan Bukan Berarti Menyerahkan Sapi Lalu Selesai

Ada satu hal yang penting dari model ini. Setelah sapi berada di tangan masyarakat, BUMNag tidak kemudian melepaskan tanggung jawab.

Pengurus tetap melakukan pemantauan terhadap perkembangan sapi secara rutin. Kondisi ternak diperhatikan, termasuk ketika ada sapi yang sakit atau muncul persoalan lain yang dapat mengganggu usaha.

Jika masalah ditemukan, tindakan perlu segera dilakukan.

Hal ini terlihat sederhana, tetapi sebenarnya merupakan bagian penting dari tata kelola usaha. Aset BUMNag tetap harus dijaga meskipun secara fisik berada di kandang milik masyarakat.

Di sinilah kemitraan membutuhkan kepercayaan sekaligus pengawasan.

BUMNag harus percaya kepada masyarakat yang menjadi mitra. Sebaliknya, masyarakat juga perlu merasa bahwa BUMNag hadir mendampingi dan tidak hanya datang ketika waktunya pembagian hasil.

Hubungan seperti ini tentu berbeda dengan pola hubungan antara pemilik modal dan pekerja biasa. Dalam kemitraan, kedua pihak memiliki kepentingan terhadap keberhasilan usaha.

Jika sapi tumbuh sehat dan dapat dijual dengan baik, usaha mendapatkan hasil. Mitra juga memperoleh manfaat sesuai mekanisme bagi hasil yang telah disepakati.

Sebaliknya, apabila sapi sakit dan tidak segera ditangani, risiko kerugian dapat memengaruhi usaha secara keseluruhan.

Karena itu, pemantauan bukan sekadar kegiatan administratif. Ia menjadi bagian dari upaya menjaga kepercayaan dan melindungi aset bersama.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Masyarakat Tidak Hanya Menerima Manfaat

Ada perubahan cara pandang yang cukup penting dalam model seperti ini.

Masyarakat tidak ditempatkan semata-mata sebagai penerima manfaat dari BUMNag. Mereka ikut mengambil bagian dalam proses produksi.

Warga menyediakan tempat dan melakukan pemeliharaan. BUMNag mengelola usaha dan melakukan pengawasan. Keduanya memiliki kepentingan agar sapi dapat tumbuh dengan baik hingga waktu penjualan.

Pola seperti ini membuat hubungan antara BUMNag dan masyarakat menjadi lebih produktif.

BUMNag bukan sekadar lembaga yang menjalankan kegiatan ekonomi atas nama nagari. Ia dapat menjadi penghubung antara modal dan potensi masyarakat.

Sementara itu, masyarakat tidak hanya menunggu program datang. Mereka dapat ikut mengambil peran melalui sumber daya yang telah mereka miliki.

Hal tersebut sebenarnya merupakan salah satu gagasan penting dalam pembangunan ekonomi nagari. Ketika masyarakat memiliki posisi sebagai pelaku, rasa memiliki terhadap kegiatan ekonomi juga berpotensi menjadi lebih kuat.

Kisah ini juga dapat dikaitkan dengan pembahasan Delapan Kekuatan untuk MembangunNagari, bahwa kekuatan pembangunan tidak hanya berada pada anggaran pemerintah. Masyarakat sendiri merupakan salah satu kekuatan yang dapat menjadi modal pembangunan apabila dikelola dan dihubungkan dengan baik.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Mengapa Pola Bagi Hasil Menjadi Penting?

Dalam sebuah kemitraan, pembagian hasil bukan sekadar persoalan siapa mendapatkan berapa. Ia merupakan bagian dari mekanisme yang membuat masing-masing pihak memiliki kepentingan terhadap keberhasilan usaha.

BUMNag memiliki kepentingan agar aset yang dikelola berkembang. Masyarakat mitra juga memiliki kepentingan agar sapi yang dipelihara tumbuh sehat dan dapat memberikan hasil yang baik.

Ketika hasil usaha diperoleh, pembagian dilakukan berdasarkan pola yang telah disepakati.

Pada titik ini, keterbukaan menjadi sangat penting. Para pihak harus memahami sejak awal bagaimana mekanisme kerja sama berlangsung, apa tanggung jawab masing-masing, bagaimana risiko ditangani, dan bagaimana hasil usaha dihitung.

Tanpa kejelasan, kemitraan dapat mudah menimbulkan persoalan. Sebaliknya, apabila aturan dipahami dan dijalankan secara konsisten, hubungan kerja sama dapat berkembang menjadi kepercayaan jangka panjang.

Dalam konteks BUMNag Lumbuang Pintar, perjalanan usaha selama beberapa tahun menunjukkan bahwa pola tersebut telah menjadi bagian dari proses pengembangan usaha. Pertumbuhan dari jumlah sapi yang awalnya masih satuan hingga kini mencapai puluhan ekor tidak terjadi hanya karena penambahan aset, tetapi juga karena adanya masyarakat yang bersedia terlibat dalam sistem tersebut.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Ada Pengawasan di Balik Setiap Ekor Sapi

Ketika jumlah sapi masih sedikit, pengawasan mungkin relatif mudah dilakukan. Namun, ketika jumlahnya bertambah menjadi puluhan dan tersebar di beberapa kandang masyarakat, pekerjaan pengurus tentu menjadi lebih kompleks.

Setiap sapi memiliki kondisi yang berbeda. Ada yang tumbuh lebih cepat, ada yang membutuhkan perhatian lebih, dan ada kemungkinan muncul masalah kesehatan.

Karena itu, pengurus perlu mengetahui perkembangan usaha secara berkala.

Sapi yang sakit harus segera mendapatkan perhatian. Persoalan pemeliharaan perlu dikomunikasikan dengan mitra. Kondisi ternak harus menjadi bagian dari informasi yang diketahui oleh pengelola BUMNag.

Dari sini kita dapat melihat bahwa pertumbuhan usaha juga membawa konsekuensi terhadap tata kelola.

Semakin besar usaha, semakin kuat kebutuhan akan sistem.

Semakin banyak mitra, semakin penting komunikasi.

Semakin banyak aset, semakin besar pula kebutuhan untuk melakukan pengawasan.

Hal ini menjadi pelajaran penting bagi BUM Desa lainnya. Jangan sampai lembaga terlalu bersemangat menambah jumlah unit usaha atau aset, tetapi belum memiliki kemampuan untuk mengawasinya.

Pertumbuhan yang sehat bukan hanya tentang bertambahnya jumlah aset. Pertumbuhan juga harus diikuti dengan meningkatnya kemampuan mengelola.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Dari Kandang Warga Menuju Pasar Kurban

Usaha penggemukan sapi BUMNag Lumbuang Pintar memiliki momentum pasar yang cukup jelas. Sapi dipersiapkan untuk dijual pada musim haji atau Iduladha, ketika kebutuhan hewan kurban meningkat.

Momentum tersebut tentu tidak bisa dikejar hanya beberapa minggu sebelum penjualan. Sapi membutuhkan waktu untuk dipelihara dan digemukkan.

Artinya, kegiatan ekonomi ini sebenarnya mengajarkan satu hal sederhana tentang bisnis: hasil hari ini sering kali merupakan buah dari keputusan yang dibuat jauh sebelumnya.

Ketika masyarakat mulai memelihara sapi, hasil penjualannya belum langsung terlihat. Ada waktu yang harus dilalui. Ada biaya dan tenaga yang harus dikeluarkan. Ada risiko kesehatan yang harus dijaga. Baru setelah sapi mencapai kondisi yang sesuai dan momentum pasar datang, proses penjualan dapat dilakukan.

Karena itu, pengelolaan usaha membutuhkan kesabaran.

Model usaha seperti ini tidak cocok bagi pola pikir yang mengharapkan keuntungan dalam waktu sangat singkat. Ia membutuhkan siklus. Ada masa investasi, masa pemeliharaan, masa pertumbuhan, kemudian masa penjualan.

BUMNag yang mampu memahami siklus tersebut memiliki peluang lebih baik untuk mengelola usaha secara realistis.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Pelajaran yang Tidak Harus Ditiru dalam Bentuk Sapi

Ketika melihat usaha BUMNag Lumbuang Pintar berkembang, nagari lain mungkin tergoda untuk mengatakan bahwa penggemukan sapi adalah jenis usaha yang layak ditiru.

Belum tentu.

Nagari lain tidak harus memelihara sapi.

Yang lebih penting untuk dipelajari adalah cara berpikir di balik usaha tersebut.

Apakah di nagari kita ada potensi masyarakat yang belum terhubung dengan kelembagaan ekonomi? Apakah ada aset yang dapat dimanfaatkan? Apakah masyarakat memiliki keterampilan tertentu? Apakah BUMNag dapat berperan sebagai penghubung? Apakah ada pasar yang jelas? Dan apakah usaha tersebut dapat dijalankan tanpa mengganggu mata pencaharian utama masyarakat?

Pertanyaan-pertanyaan seperti ini jauh lebih penting daripada sekadar menyalin jenis usaha.

Artikel 5 Jenis Usaha yang Berhasil Dikelola BUMDes, menunjukkan bahwa tidak ada satu model usaha yang pasti berhasil di semua desa. Potensi lokal, kemampuan pengelola, kebutuhan pasar, dan karakter masyarakat sangat menentukan.

Karena itu, pelajaran dari Duo Koto bukan “semua nagari harus beternak sapi”.

Pelajarannya adalah: lihat potensi yang ada, bangun kemitraan, kelola dengan serius, dan pastikan ada pasar untuk produk yang dihasilkan.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Dari Kemitraan Menuju Ekonomi Nagari

Jika pola seperti ini dapat terus dijaga, dampaknya sebenarnya dapat berkembang lebih jauh daripada sekadar keuntungan dari penjualan sapi.

Masyarakat memperoleh kesempatan terlibat dalam kegiatan ekonomi. BUMNag memiliki ruang untuk mengembangkan usaha. Aset yang berada di tengah masyarakat menjadi lebih produktif. Dan hubungan antara lembaga dengan warga dapat berkembang melalui pengalaman kerja bersama.

Inilah yang membuat kemitraan menjadi penting dalam pembangunan ekonomi nagari.

Ekonomi tidak hanya bergerak dari kantor BUMNag. Ia bergerak dari kandang warga, dari aktivitas pemeliharaan, dari komunikasi antara pengurus dan mitra, kemudian bertemu dengan pasar pada waktu yang tepat.

Dengan demikian, BUMNag bukan hanya sebuah lembaga yang memiliki unit usaha. Ia dapat menjadi simpul yang menghubungkan berbagai kekuatan ekonomi masyarakat.

Gagasan ini juga sejalan dengan pembahasan Pendapatan Asli Desa: Kunci Kemandirian. Kemandirian ekonomi tidak selalu dimulai dari sumber pendapatan yang besar. Ia dapat dibangun secara bertahap melalui usaha yang nyata, dikelola dengan baik, dan memiliki hubungan dengan potensi masyarakat.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Tokoh Kali Ini Bukan Hanya Direktur

Pada artikel sebelumnya, kita telah mengenal Sudirman Datuak Marajo Nan Kuniang sebagai tokoh yang dipercaya menjadi Direktur BUMNag Lumbuang Pintar sejak awal hingga sekarang. Kisah kepemimpinannya memperlihatkan bagaimana sebuah lembaga dirintis ketika penghasilan tetap belum menjadi kepastian.

Namun, artikel kali ini ingin melihat tokoh yang berbeda.

Tokohnya adalah masyarakat Nagari Duo Koto yang bersedia menjadi mitra.

Mereka mungkin tidak muncul dalam struktur organisasi BUMNag. Nama mereka mungkin tidak tercantum dalam setiap berita tentang lembaga. Tetapi tanpa masyarakat yang bersedia menyediakan kandang dan memelihara sapi, pola usaha ini tidak akan berjalan dengan cara yang sama.

Mereka adalah bagian dari cerita.

Ada warga yang membuka kandangnya. Ada yang menyediakan waktu untuk merawat sapi. Ada yang melaporkan ketika ternak mengalami masalah. Ada yang ikut menjaga agar aset yang dipercayakan kepadanya dapat berkembang.

Di sinilah makna rubrik Tokoh & Inspirasi Nagari menjadi lebih luas.

Tokoh tidak selalu harus seseorang yang namanya terkenal. Kadang-kadang, tokoh inspiratif adalah sekelompok warga yang bersedia mengambil bagian dalam sebuah gagasan dan menjalankannya secara konsisten.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Sapi sebagai Aset, Kemitraan sebagai Kekuatan

Kisah BUMNag Lumbuang Pintar memperlihatkan bahwa sebuah aset akan memiliki nilai lebih besar ketika dikelola dalam sistem yang tepat.

Sapi adalah aset.

Kandang adalah aset.

Kemampuan masyarakat adalah aset.

Modal BUMNag adalah aset.

Tetapi semua itu membutuhkan penghubung.

Kemitraan menjadi salah satu penghubungnya.

Dengan kemitraan, BUMNag tidak harus mengerjakan semuanya sendiri. Masyarakat juga tidak harus menunggu bantuan untuk bisa ikut dalam kegiatan ekonomi. Keduanya dapat bertemu melalui pola usaha yang memiliki tujuan dan mekanisme yang jelas.

Di situlah sebuah lembaga ekonomi nagari mulai bergerak dari sekadar memiliki usaha menuju membangun ekosistem usaha.

Perbedaannya mungkin terlihat kecil, tetapi dampaknya besar.

Memiliki usaha berarti lembaga memiliki kegiatan ekonomi.

Membangun ekosistem berarti lembaga mampu menghubungkan usaha tersebut dengan orang-orang, aset, kemampuan, dan pasar di sekitarnya.

Perjalanan Lumbuang Pintar menunjukkan salah satu contoh bagaimana proses tersebut dapat berlangsung secara bertahap.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Dari Duo Koto untuk Nagari Lain

Setiap nagari tentu memiliki cerita sendiri. Ada yang memiliki peternakan, pertanian, perkebunan, kuliner, kerajinan, wisata, atau potensi jasa. Tidak semuanya cocok dikembangkan melalui BUMNag, dan tidak semuanya harus dipaksakan menjadi unit usaha.

Yang penting adalah menemukan titik temu antara potensi, kemampuan, kebutuhan, dan pasar.

BUMNag Lumbuang Pintar menemukan salah satu titik temu itu melalui usaha penggemukan sapi dan kemitraan masyarakat.

Yang awalnya hanya beberapa ekor kemudian berkembang menjadi puluhan sapi. Pada tahun 2025, usaha tersebut mencatatkan laba sebesar Rp32,7 juta. Angka itu tentu menjadi bagian penting dari perjalanan, tetapi yang lebih menarik adalah proses yang menghasilkannya.

Ada warga yang terlibat.

Ada pengurus yang memantau.

Ada risiko yang harus dikelola.

Ada sistem bagi hasil.

Ada pasar yang dituju.

Dan ada waktu yang harus dihormati dalam proses pemeliharaan.

Semua itu menunjukkan bahwa usaha ekonomi nagari tidak selalu harus dimulai dengan sesuatu yang spektakuler.

Kadang-kadang, usaha yang sederhana justru memiliki peluang tumbuh ketika dibangun di atas potensi yang benar-benar ada di masyarakat.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Ketika Warga Memiliki “Tabungan” di Rumah

Pada akhirnya, mungkin kalimat paling sederhana untuk menggambarkan model ini adalah: warga memiliki tabungan yang hidup di rumah mereka.

Sapi dipelihara sebagai aset produktif. Warga tetap menjalankan aktivitas utama. BUMNag tetap mengelola sistem usaha dan melakukan pemantauan. Ketika waktu penjualan tiba, hasil usaha menjadi bagian dari mekanisme bagi hasil.

Konsep ini memperlihatkan bahwa ekonomi nagari dapat dibangun dengan cara yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

Tidak selalu membutuhkan gedung baru.

Tidak selalu membutuhkan banyak pekerja.

Tidak selalu harus memindahkan masyarakat dari pekerjaan utama mereka.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan melihat potensi, membangun kepercayaan, menyusun pola kerja sama, dan menjaga usaha secara konsisten.

Tentu, pola seperti ini bukan tanpa tantangan. Sapi tetap merupakan aset hidup yang memiliki risiko. Kemitraan tetap membutuhkan aturan yang jelas. Pengawasan tetap harus dilakukan. Pencatatan keuangan tetap harus tertib. Dan usaha tetap harus terus dievaluasi.

Tetapi justru karena itulah kisah ini layak dipelajari.

━━━ 🌾 Celoteh Nagari 🌾 ━━━

Pelajaran Terbesarnya Adalah Cara Berjalan Bersama

Kisah BUMNag Lumbuang Pintar pada akhirnya bukan hanya tentang sapi. Bukan pula sekadar tentang bagi hasil.

Pelajaran terbesarnya adalah tentang cara berjalan bersama.

BUMNag tidak berdiri sendiri. Pengurus tidak bekerja sendirian. Masyarakat tidak hanya menunggu manfaat. Masing-masing mengambil bagian dalam proses yang sama.

Dari sisi lembaga, ada tanggung jawab mengelola aset dan memastikan usaha berjalan. Dari sisi masyarakat, ada tanggung jawab memelihara sapi dengan baik. Di antara keduanya terdapat kepercayaan yang harus terus dijaga.

Perjalanan beberapa tahun hingga jumlah sapi berkembang dari satuan menjadi puluhan menunjukkan bahwa model seperti ini membutuhkan waktu. Ia tidak dibangun dalam satu musim.

Dan mungkin, justru itulah inspirasi yang paling penting.

Nagari tidak selalu membutuhkan usaha yang besar untuk mulai bergerak. Nagari membutuhkan keberanian untuk melihat kekuatan yang sudah ada, mempertemukannya melalui kemitraan, lalu menjaganya agar terus tumbuh.

Di Nagari Duo Koto, sebagian dari proses itu terlihat melalui sapi-sapi yang dipelihara di kandang warga.

Bagi BUMNag, sapi tersebut adalah bagian dari aset usaha.

Bagi masyarakat, ia dapat menjadi tabungan yang hidup.

Dan bagi nagari, perjalanan itu memberi satu pelajaran penting: ketika lembaga dan masyarakat saling percaya serta bersedia berbagi peran, kegiatan ekonomi yang sederhana pun dapat tumbuh menjadi kekuatan bersama.

Celoteh Nagari — Suara Desa, Gagasan Indonesia

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama