Celoteh Nagari : Di balik sebuah usaha BUMNag yang berkembang, sering kali ada cerita panjang yang tidak terlihat dari angka-angka dalam laporan keuangan. Orang mungkin melihat puluhan sapi yang kini dikelola, atau membaca bahwa usaha tersebut mampu mencatatkan laba. Namun, sebelum sampai pada titik itu, ada masa ketika usaha masih kecil, hasil belum pasti, dan orang-orang yang dipercaya mengelolanya harus berjalan dengan keyakinan bahwa apa yang mereka bangun suatu hari akan tumbuh.
Kisah Sudirman
Datuak Marajo Nan Kuniang, Direktur BUMNag Lumbuang Pintar Nagari Duo Koto,
dapat dibaca dari sudut pandang tersebut. Sejak awal berdirinya BUMNag hingga
saat ini, beliau dipercaya memimpin lembaga ekonomi nagari tersebut.
Kepercayaan itu tentu bukan sekadar tentang jabatan, melainkan tentang
kesediaan menjalani proses membangun usaha ketika segala sesuatunya belum
sepenuhnya mapan.
Pada masa
awal merintis, menjadi direktur BUMNag tidak berarti menerima gaji tetap setiap
bulan. Penghasilan yang diperoleh berkaitan dengan persentase bagi hasil ketika
usaha menghasilkan penjualan, terutama pada saat sapi dijual menjelang musim
haji atau Iduladha. Dengan kata lain, ada masa ketika amanah untuk mengelola
BUMNag lebih dahulu dijalankan sebelum kepastian hasil benar-benar dapat
dirasakan.
Di sinilah
kisah tersebut menjadi menarik. Tidak semua orang bersedia memegang tanggung
jawab ketika hasilnya belum terlihat. Banyak orang mungkin tertarik pada sebuah
lembaga ketika usahanya sudah besar dan manfaat ekonominya mulai terasa. Namun,
fase paling menentukan justru sering berada pada masa awal, ketika usaha masih
mencari bentuk dan kepercayaan harus dibangun sedikit demi sedikit melalui
kerja nyata.
Kepercayaan yang Dijaga Sejak Awal
BUMNag pada
dasarnya bukan sekadar organisasi yang dibentuk untuk memenuhi ketentuan
administratif. Lembaga ini membawa harapan yang lebih besar, yaitu bagaimana
kekuatan ekonomi yang ada di nagari dapat dikelola secara bersama dan
memberikan manfaat yang lebih luas kepada masyarakat.
Namun,
membangun lembaga ekonomi tidak pernah cukup hanya dengan membentuk struktur
pengurus. Setelah organisasi terbentuk, tantangan sesungguhnya justru dimulai.
Modal harus dikelola, usaha harus dipilih dengan hati-hati, risiko harus
diperhitungkan, dan kepercayaan masyarakat harus terus dijaga.
Dalam
perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar, Sudirman Datuak Marajo Nan Kuniang dipercaya
sebagai direktur sejak awal hingga saat ini. Kepercayaan yang bertahan dalam
perjalanan beberapa tahun tentu memiliki makna tersendiri. Seiring usaha
berkembang, tanggung jawab juga ikut bertambah. Ketika jumlah sapi masih
sedikit, persoalan yang dihadapi mungkin masih dapat ditangani secara
sederhana. Namun, ketika usaha berkembang menjadi puluhan ekor sapi,
pengelolaan tidak lagi bisa hanya mengandalkan semangat awal.
Sistem harus
semakin kuat. Pengawasan harus semakin baik. Hubungan dengan masyarakat mitra
juga harus terus dijaga.
Dalam
artikel sebelumnya, Celoteh Nagari telah mengangkat perjalanan Dari Satu Dua Sapi Menjadi Puluhan:
Kisah BUMNag Lumbuang Pintar Membangun Usaha Bersama Warga. Perjalanan tersebut memperlihatkan bahwa usaha
penggemukan sapi BUMNag Lumbuang Pintar tidak lahir dalam skala besar. Usaha
itu bertumbuh secara bertahap, dari jumlah sapi yang masih satuan hingga
berkembang menjadi puluhan ekor yang dipersiapkan untuk memenuhi kebutuhan
pasar kurban.
Di balik
pertumbuhan tersebut, tentu ada proses panjang yang harus dijalani. Usaha harus
dikelola dengan hati-hati, perkembangan ternak harus diperhatikan, dan berbagai
persoalan yang muncul di lapangan harus segera ditangani. Di sinilah
kepemimpinan tidak hanya terlihat dari kemampuan membuat rencana, tetapi juga
dari kesediaan untuk terus hadir menjaga perjalanan usaha.
Ketika Jabatan Tidak Menjamin Penghasilan Tetap
Salah satu bagian
yang paling manusiawi dari kisah awal BUMNag Lumbuang Pintar adalah kenyataan
bahwa posisi direktur pada masa merintis belum memberikan penghasilan tetap
setiap bulan. Penghasilan diperoleh melalui persentase bagi hasil ketika usaha
berhasil menjual sapi. Artinya, keberhasilan usaha menjadi bagian yang tidak
terpisahkan dari hasil yang akan diterima oleh pengelola.
Situasi
seperti ini tentu berbeda dengan pekerjaan yang memberikan kepastian gaji
setiap bulan. Pada masa awal, usaha harus lebih dahulu berjalan, sapi harus
dipelihara dengan baik, risiko harus dikelola, dan penjualan harus berhasil
dilakukan. Setelah proses tersebut berjalan, barulah hasil usaha dapat dibagi.
Di titik
inilah amanah diuji. Menjalankan sebuah jabatan ketika hasilnya belum pasti
membutuhkan kesabaran dan keyakinan yang tidak kecil. Apalagi usaha penggemukan
sapi bukan usaha yang hasilnya dapat diperoleh dalam waktu singkat. Ada proses
pemeliharaan yang harus dilalui, ada biaya yang terus berjalan, dan ada risiko
yang harus selalu diantisipasi.
Kondisi
tersebut mengingatkan kita bahwa perjalanan BUM Desa sering kali tidak semudah
gambaran yang muncul dalam berbagai harapan. Artikel BUMDes di Desa: Harapan dan Kenyataan membahas bagaimana harapan besar terhadap BUM Desa
kerap berhadapan dengan kenyataan pengelolaan di lapangan. Tidak semua lembaga
langsung menemukan usaha yang tepat, tidak semua usaha langsung menghasilkan
keuntungan, dan tidak semua pengurus memulai pekerjaannya dalam kondisi yang
serba tersedia.
Karena itu,
kisah merintis tanpa gaji tetap bulanan tidak perlu dibaca sebagai romantisasi
pengorbanan. Ini adalah gambaran tentang realitas. Pada masa awal, membangun usaha
memang sering menuntut orang-orang yang bersedia bekerja lebih dahulu untuk
menciptakan hasil yang kelak dapat dinikmati bersama.
Ketika Sapi Menjadi Tabungan di Rumah Warga
Yang membuat
perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar semakin menarik adalah cara usaha tersebut
melibatkan masyarakat. Penggemukan sapi tidak sepenuhnya dilakukan dalam satu
kandang besar milik BUMNag. Warga Nagari Duo Koto yang memiliki kandang dan
bersedia memelihara sapi dapat mengajukan diri untuk menjadi mitra.
Konsep ini
membuka ruang ekonomi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat. Warga
tidak harus meninggalkan pekerjaan utama untuk terlibat. Mereka tetap dapat
bertani, berdagang, bekerja, atau menjalankan aktivitas lainnya, sementara
pemeliharaan sapi menjadi kegiatan tambahan yang dilakukan di lingkungan rumah.
Dalam bahasa
sederhana, sapi tersebut dapat dipandang sebagai tabungan yang hidup di
rumah. Nilainya tidak disimpan dalam bentuk uang di rekening, melainkan
berada dalam aset produktif yang terus dipelihara. Ketika tiba saat penjualan,
terutama pada momentum kebutuhan sapi kurban, hasil usaha kemudian dibagikan
sesuai dengan pola kemitraan yang telah disepakati.
Tentu,
konsep seperti ini tidak berarti BUMNag cukup menyerahkan sapi kepada
masyarakat lalu menunggu hasil penjualan. Di sinilah pengelolaan dan pengawasan
menjadi sangat penting. Pengurus secara rutin memantau perkembangan sapi yang
dipelihara masyarakat. Kondisi kesehatan ternak harus diperhatikan,
perkembangan fisiknya perlu diketahui, dan apabila muncul masalah seperti sapi
sakit atau persoalan lainnya, tindakan harus segera dilakukan agar risiko tidak
berkembang menjadi kerugian.
Pola ini
menunjukkan bahwa kemitraan bukan berarti melepaskan tanggung jawab. Justru
sebaliknya, semakin banyak pihak yang terlibat dalam sebuah usaha, semakin kuat
pula kebutuhan akan komunikasi dan sistem pengawasan. Masyarakat menjalankan
peran sebagai mitra pemelihara, sementara BUMNag dan pengurus memastikan usaha
tetap berjalan sesuai arah yang telah direncanakan.
Membangun Ekonomi dari Kekuatan yang Sudah Ada
Nagari
sebenarnya memiliki banyak kekuatan yang sering kali belum sepenuhnya
dihubungkan. Ada masyarakat yang memiliki keterampilan, ada aset yang sudah
tersedia, ada pengalaman yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan ada
aktivitas ekonomi yang telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Dalam kasus
usaha penggemukan sapi BUMNag Lumbuang Pintar, kekuatan itu sudah ada di tengah
masyarakat. Sebagian warga memiliki kandang dan memahami cara memelihara sapi.
BUMNag kemudian hadir bukan untuk menggantikan seluruh kemampuan masyarakat,
tetapi untuk menghubungkan potensi tersebut ke dalam sebuah sistem usaha
bersama.
BUMNag
membawa kelembagaan dan pengelolaan usaha, sementara masyarakat membawa
kemampuan serta pengalaman pemeliharaan. Kemitraan kemudian mempertemukan kedua
kekuatan itu. Dari hubungan tersebut, tercipta perputaran ekonomi yang tidak
hanya berada di dalam lembaga, tetapi juga memberikan ruang bagi masyarakat
untuk ikut terlibat dan memperoleh manfaat.
Inilah salah
satu bentuk nyata dari gagasan membangun ekosistem kolaborasi nagari. Pembangunan tidak selalu berarti menciptakan
semuanya dari awal. Dalam banyak keadaan, yang lebih penting adalah kemampuan
membaca potensi yang telah tersedia, lalu menghubungkannya sehingga menjadi
kekuatan yang lebih besar.
BUMNag tidak
harus mengerjakan seluruh proses sendirian. Masyarakat juga tidak hanya menjadi
penerima manfaat. Keduanya dapat bertemu sebagai bagian dari ekosistem ekonomi
yang saling membutuhkan.
Risiko Tidak Boleh Menunggu Menjadi Kerugian
Usaha
penggemukan sapi memiliki risiko yang nyata. Kondisi kesehatan ternak dapat
berubah, biaya pemeliharaan terus berjalan, sementara waktu penjualan dan harga
pasar juga perlu diperhitungkan dengan baik. Persoalan yang terlihat kecil hari
ini dapat menjadi masalah besar apabila tidak segera ditangani.
Karena itu,
salah satu pekerjaan penting pengurus adalah memastikan perkembangan sapi terus
dipantau. Ketika ditemukan sapi yang sakit atau muncul persoalan lain, tindakan
perlu segera diambil. Tujuannya bukan sekadar menyelesaikan masalah yang sudah
terjadi, tetapi mencegah kerugian yang lebih besar.
Di sinilah
pengalaman BUMNag Lumbuang Pintar memberikan pelajaran sederhana tetapi
penting. Mengelola usaha bukan hanya soal memilih jenis usaha yang dianggap
menjanjikan. Setelah usaha berjalan, perhatian terhadap proses sehari-hari
menjadi sama pentingnya dengan rencana besar yang dibuat pada awal.
Artikel 7 Kesalahan Pengelolaan BUMDes mengingatkan bahwa salah satu persoalan yang
sering terjadi adalah ketika usaha tidak dikelola dengan disiplin sebagai
sebuah kegiatan ekonomi. Ide yang baik tidak akan cukup apabila tidak diikuti
pengawasan, evaluasi, pencatatan, dan kemampuan merespons risiko.
Sudirman dan
pengurus BUMNag tentu tidak bekerja dengan menunggu persoalan menjadi besar.
Dalam usaha yang melibatkan aset hidup seperti sapi, keterlambatan mengambil
tindakan dapat berakibat langsung terhadap keberlangsungan usaha. Karena
itulah, pengawasan rutin menjadi bagian dari proses menjaga modal.
Kepemimpinan yang Tidak Berdiri Sendiri
Menulis
kisah seorang tokoh selalu memiliki satu risiko, yaitu seolah-olah keberhasilan
sebuah lembaga hanya lahir dari satu orang. Padahal, BUMNag Lumbuang Pintar
tidak dibangun oleh Sudirman seorang diri.
Ada pengurus
yang terlibat dalam perjalanan lembaga. Ada masyarakat yang bersedia menjadi
mitra pemelihara. Ada dukungan dari berbagai pihak di nagari. Ada pula
orang-orang yang mungkin tidak selalu disebut namanya, tetapi ikut menjalankan
pekerjaan dan menjaga usaha dari hari ke hari.
Sudirman menjadi
tokoh utama dalam cerita ini karena beliau dipercaya memimpin BUMNag sejak awal
hingga sekarang. Namun, kepemimpinan yang sesungguhnya justru dapat dilihat
dari kemampuan menggerakkan kerja bersama. Seorang direktur tidak harus
melakukan seluruh pekerjaan sendiri. Yang lebih penting adalah bagaimana
berbagai peran dapat berjalan, bagaimana komunikasi dijaga, dan bagaimana
setiap pihak memahami tanggung jawabnya.
Dalam pola
kemitraan penggemukan sapi ini, masyarakat bukan sekadar pekerja yang menerima
perintah. Mereka menjadi bagian penting dari usaha karena pemeliharaan
sehari-hari berada di tangan mereka. Sementara itu, pengurus menjaga agar
seluruh proses tetap berada dalam sistem yang dapat dipertanggungjawabkan.
Inilah
pelajaran penting dari kepemimpinan kelembagaan. Keberhasilan tidak selalu
ditentukan oleh siapa yang paling menonjol, tetapi oleh apakah seorang pemimpin
mampu membuat orang-orang di sekitarnya bergerak dalam arah yang sama.
Kepercayaan, Modal yang Tidak Tertulis dalam Neraca
Sebuah usaha
membutuhkan modal uang, tetapi perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar memperlihatkan
adanya modal lain yang tidak kalah penting, yaitu kepercayaan.
Masyarakat
harus percaya kepada lembaga sebelum bersedia terlibat sebagai mitra. BUMNag
juga harus percaya kepada masyarakat yang memelihara aset usahanya. Pengurus
harus memiliki kepercayaan satu sama lain, sementara hubungan dengan pemerintah
nagari dan masyarakat perlu dijaga melalui keterbukaan serta tanggung jawab.
Kepercayaan
memang tidak muncul sebagai angka dalam laporan keuangan. Namun, tanpa
kepercayaan, sebuah sistem kemitraan akan sulit berjalan. Warga mungkin enggan
memelihara sapi BUMNag apabila mereka tidak yakin dengan mekanisme kerja sama.
Sebaliknya, BUMNag tidak mungkin menyerahkan asetnya kepada mitra apabila tidak
memiliki keyakinan bahwa tanggung jawab akan dijalankan dengan baik.
Karena itu,
kepercayaan tidak cukup dibangun sekali pada awal kerja sama. Ia harus terus
dirawat melalui komunikasi, kejelasan peran, cara menyelesaikan masalah, serta
hasil yang dapat dipertanggungjawabkan.
Hal ini
sejalan dengan pembahasan dalam Cara Membangun Kemitraan Nagari. Kemitraan yang baik tidak berhenti pada kesepakatan
awal, tetapi membutuhkan hubungan yang terus dijaga selama proses berjalan.
Ketika ada persoalan, cara para pihak menyelesaikannya justru menjadi salah
satu ujian terbesar bagi keberlangsungan kerja sama.
Laba Rp32,7 Juta Bukan Cerita yang Berdiri Sendiri
Pada tahun
2025, BUMNag Lumbuang Pintar mencatatkan laba sebesar Rp32,7 juta. Angka
tersebut tentu menjadi capaian yang penting, tetapi akan lebih bermakna apabila
dibaca bersama perjalanan panjang yang mendahuluinya.
Sebelum
sampai pada hasil tersebut, usaha telah melalui proses bertahun-tahun. Jumlah
sapi bertumbuh dari skala satuan hingga puluhan. Pengurus harus terus melakukan
pemantauan. Masyarakat membangun keterlibatan sebagai mitra. Risiko kesehatan
ternak harus diantisipasi, sementara momentum penjualan perlu dikelola dengan
baik.
Karena itu,
laba Rp32,7 juta bukan sekadar angka yang muncul pada akhir tahun. Di
belakangnya ada proses membangun usaha, menjaga aset, mengembangkan kemitraan,
dan mempertahankan kepercayaan.
Tentu saja,
laba bukan satu-satunya ukuran keberhasilan sebuah BUMNag. Pengelolaan keuangan
tetap harus dilakukan dengan baik, hasil usaha harus dapat
dipertanggungjawabkan, dan perkembangan usaha perlu terus dievaluasi. Artikel Mengapa Laporan Keuangan BUMDes Selalu
Terlambat? menjadi
pengingat bahwa keberhasilan usaha tidak cukup hanya dirasakan. Ia juga harus
dapat dibaca melalui pencatatan dan laporan yang tertib.
Sebuah
lembaga ekonomi akan semakin dipercaya ketika perjalanan usahanya dapat
dijelaskan dengan jelas, mulai dari modal dan biaya hingga hasil yang
diperoleh.
Pelajaran dari Perjalanan Seorang Perintis
Tidak semua
BUM Desa atau BUMNag harus membangun usaha penggemukan sapi. Setiap nagari
memiliki kondisi, potensi, kemampuan masyarakat, dan peluang pasar yang
berbeda. Apa yang berhasil di Duo Koto belum tentu dapat diterapkan begitu saja
di tempat lain.
Namun, ada
beberapa pelajaran dari perjalanan ini yang dapat dibawa lebih jauh.
Pertama,
usaha dapat dimulai dari skala yang mampu dikelola. Tidak semua kegiatan
ekonomi harus langsung besar. Pertumbuhan yang bertahap justru dapat memberi
kesempatan kepada lembaga untuk belajar dari pengalaman.
Kedua, potensi
masyarakat perlu ditempatkan sebagai bagian dari solusi. Ketika warga memiliki
kandang dan kemampuan memelihara sapi, BUMNag dapat membangun kemitraan yang
memanfaatkan kekuatan tersebut.
Ketiga,
pengawasan harus menjadi bagian dari usaha sejak awal. Pertumbuhan aset tanpa
pengelolaan risiko justru dapat menciptakan masalah yang lebih besar.
Keempat,
pemimpin BUMNag harus mampu membangun kerja bersama. Sebuah lembaga tidak akan
bertahan hanya karena satu orang bekerja keras. Sistem harus memungkinkan
banyak pihak menjalankan perannya dengan baik.
Dan yang
terakhir, hasil tidak selalu datang dengan cepat. Ada masa ketika pengurus
bekerja tanpa kepastian bahwa usaha akan segera menghasilkan. Namun, proses
yang dijaga dengan konsisten dapat menjadi fondasi bagi pertumbuhan berikutnya.
Menjaga Apa yang Sudah Tumbuh
Mungkin
memulai adalah salah satu bagian tersulit dalam membangun usaha. Namun, setelah
usaha mulai tumbuh, tantangan berikutnya justru tidak kalah besar: bagaimana
menjaganya agar tetap sehat dan berkelanjutan.
Dari satu
dua sapi menjadi puluhan, perjalanan BUMNag Lumbuang Pintar telah memasuki
tahap yang membutuhkan perhatian baru. Semakin banyak aset yang dikelola,
semakin besar pula tanggung jawab untuk menjaganya. Semakin banyak masyarakat
yang terlibat, semakin penting pula komunikasi dan sistem kemitraan yang jelas.
Bagi
Sudirman Datuak Marajo Nan Kuniang, amanah sebagai direktur tentu bukan hanya
tentang bagaimana memulai usaha. Kepercayaan yang diberikan sejak awal hingga
hari ini juga berarti tanggung jawab untuk terus menjaga apa yang telah tumbuh.
Pertanyaannya
kini bukan lagi sekadar apakah BUMNag mampu memelihara sapi dan menjualnya.
Tantangan ke depan adalah bagaimana usaha dapat terus berkembang tanpa
kehilangan kehati-hatian, bagaimana tata kelola semakin kuat, dan bagaimana
manfaat ekonomi dapat semakin dirasakan oleh masyarakat.
Di sinilah
perjalanan seorang tokoh tidak pernah benar-benar selesai dalam satu capaian.
Amanah yang Lebih Dahulu Dijaga daripada Dihitung
Pada akhirnya,
kisah Sudirman Datuak Marajo Nan Kuniang bukan hanya tentang seorang direktur
BUMNag yang pada masa awal tidak menerima gaji tetap bulanan. Kisah itu memberi
kita gambaran yang lebih luas tentang bagaimana sebuah lembaga ekonomi nagari
dapat tumbuh melalui proses yang tidak selalu mudah.
Ada amanah
yang harus dijaga sebelum hasil terlihat. Ada risiko yang harus dihadapi
sebelum keuntungan dapat dihitung. Ada masyarakat yang perlu diyakinkan sebelum
kemitraan dapat berjalan. Dan ada usaha yang harus terus dipantau agar masalah
kecil tidak berubah menjadi kerugian.
BUMNag
Lumbuang Pintar hari ini telah berkembang dari usaha dengan jumlah sapi yang
masih terbatas menjadi puluhan ekor. Pada tahun 2025, usaha tersebut
mencatatkan laba Rp32,7 juta. Namun, perjalanan ini tidak hanya dapat dibaca
dari jumlah sapi atau angka laba.
Ada
kepercayaan yang telah dijaga selama bertahun-tahun.
Kepercayaan
kepada seorang direktur yang dipercaya memimpin sejak awal. Kepercayaan
antar-pengurus untuk menjalankan lembaga bersama. Kepercayaan masyarakat yang
bersedia menjadi mitra dan memelihara sapi BUMNag di kandang mereka. Serta
kepercayaan bahwa ekonomi nagari dapat tumbuh ketika lembaga dan masyarakat
tidak berjalan sendiri-sendiri.
Barangkali,
itulah pelajaran paling penting dari kisah ini. Tidak semua perjalanan besar
dimulai dengan modal yang besar, fasilitas yang lengkap, atau penghasilan yang
pasti. Kadang-kadang, sebuah perjalanan dimulai dari seseorang yang bersedia
menerima amanah, bekerja dalam ketidakpastian, lalu perlahan membangun
kepercayaan bersama orang-orang di sekitarnya.
Dari
kandang-kandang warga di Nagari Duo Koto, kepercayaan itu kemudian menemukan
bentuknya. Ia tumbuh bersama sapi yang dipelihara, bersama kemitraan yang
dijaga, dan bersama keyakinan bahwa ketika kekuatan masyarakat dapat
dihubungkan dengan baik, sebuah usaha kecil pun dapat berkembang menjadi
harapan bersama.
Celoteh Nagari — Suara Desa, Gagasan Indonesia

bumnag semakin maju dan memberikan manfaat luas bagi masyarakat
BalasHapus