Celoteh Nagari - Di banyak nagari, angka stunting sering muncul rapi di laporan. Grafiknya lengkap, persentasenya jelas. Namun ketika ditanya lebih jauh—siapa anaknya, di jorong mana, bagaimana kondisi keluarganya—jawaban kerap menggantung. Di titik inilah pendataan sasaran stunting menjadi krusial, dan Kader Pembangunan Manusia (KPM) seharusnya berdiri di garis depan.
Salah satu alat yang disiapkan negara untuk memastikan pendataan ini berjalan adalah aplikasi eHDW (electronic Human Development Worker). Sayangnya, tidak semua desa benar-benar memanfaatkannya sebagaimana mestinya.
eHDW: Lebih dari Sekadar Aplikasi
Aplikasi eHDW bukan sekadar alat input data. Ia dirancang untuk membantu desa mengenali kondisi nyata sasaran stunting, mulai dari ibu hamil, ibu menyusui, baduta, hingga balita. Melalui eHDW, KPM mencatat kondisi layanan dasar yang diterima sasaran, seperti:
- Akses layanan kesehatan ibu dan anak
- Pemberian ASI eksklusif dan PMT
- Sanitasi dan air bersih
- Jaminan sosial keluarga berisiko
Hasil pendataan ini kemudian dirangkum dalam Village Score Card (Kartu Skor Desa)—sebuah potret sederhana namun tajam tentang sejauh mana desa hadir dalam kehidupan warganya yang paling rentan.
Baca Juga : Musyawarah Desa: Ruang Partisipasi atau Sekadar Formalitas?
Village Score Card: Cermin Kinerja Desa
Village Score Card bukan hanya tabel angka. Ia adalah cermin kinerja desa dalam penanganan stunting. Dari kartu skor ini, desa dapat melihat:
- Sasaran mana yang belum terlayani optimal
- Layanan apa yang paling lemah
- Wilayah mana yang perlu perhatian lebih
Bagi pendamping desa dan pemerintah nagari, data ini sangat berharga untuk:
- Menyusun RKP Desa dan APBDes berbasis data
- Menentukan intervensi prioritas
- Mengukur hasil kerja lintas kelembagaan
Tak berlebihan jika dikatakan bahwa Village Score Card menjadi salah satu indikator desa berkinerja baik dalam percepatan penurunan stunting di tingkat desa.
Ketika KPM Tidak Berjalan, Data Ikut Tertinggal
Sayangnya, di lapangan, tidak semua KPM menjalankan perannya secara optimal. Ada yang belum rutin melakukan pendataan, ada pula yang sekadar mengisi aplikasi tanpa memahami maknanya. Di sisi lain, desa kadang abai, menganggap pendataan sebagai urusan pendamping atau kewajiban administratif semata.
Akibatnya:
- Data eHDW tidak diperbarui
- Village Score Card tidak dibaca
- Program berjalan tanpa pijakan kondisi nyata
Padahal, tanpa data yang akurat dan hidup, penanganan stunting hanya akan menjadi rutinitas tahunan—bukan perubahan nyata.
Baca Juga : Ketika Data Stunting Berbeda dengan Cerita Warga: Di Antara Angka dan Kenyataan Lapangan
Menguatkan KPM, Menguatkan Desa
Pendataan sasaran stunting melalui eHDW seharusnya menjadi kerja bersama, bukan beban satu pihak. Desa perlu:
- Menguatkan peran KPM melalui pembinaan dan pengakuan peran
- Menjadikan hasil eHDW sebagai bahan musyawarah desa
- Mengintegrasikan Village Score Card ke dalam perencanaan dan evaluasi desa
- Mendorong kerja lintas sektor, bukan kerja sendiri-sendiri
Ketika KPM berjalan, data menjadi hidup. Ketika data hidup, desa bisa mengambil keputusan yang tepat. Dan ketika keputusan tepat, stunting tidak lagi ditangani dengan asumsi, tetapi dengan kepedulian yang terukur.
Penutup: Data Adalah Bentuk Kepedulian
Di balik setiap angka stunting, ada anak yang sedang tumbuh, ada ibu yang berharap, dan ada keluarga yang menunggu perhatian. Pendataan melalui eHDW adalah salah satu bentuk paling sederhana namun bermakna dari kepedulian desa.
Karena membangun desa, sejatinya, bukan hanya soal anggaran dan program—tetapi tentang keberanian melihat kenyataan, lalu bergerak bersama.

