Celoteh Nagari - Di sebuah nagari, seorang ibu berkata dengan yakin, “Anak saya sehat, cuma memang kecil”. Namun di lembar laporan, nama anak itu tercantum sebagai berisiko stunting.
Di sinilah persoalan sering bermula.
Bukan karena datanya salah, bukan pula karena warga berbohong. Melainkan karena data stunting datang dari banyak pintu, dengan cara ukur, tujuan, dan waktu yang berbeda.
Satu Anak, Banyak Angka
Untuk satu anak, bisa ada lebih dari satu status stunting.
Tergantung siapa yang mencatat.
-
Puskesmas mencatat berdasarkan pengukuran antropometri periodik, mengikuti standar WHO.
-
Bidan desa melihat dari catatan KIA, riwayat kehamilan, dan pemantauan rutin.
-
KPM (Kader Pembangunan Manusia) bekerja berbasis kunjungan rumah dan data EHDW.
-
Penyuluh KB memandang dari sisi keluarga berisiko: jarak kelahiran, pola asuh, dan kesiapan orang tua.
-
Dinas Sosial melihat dari kacamata kemiskinan, bantuan sosial, dan kerentanan ekonomi.
Satu anak, lima sudut pandang.
Tidak selalu sejalan, tetapi semuanya merasa paling benar.
Puskesmas: Ketat pada Angka
Bagi puskesmas, stunting adalah soal tinggi badan menurut umur. Angka bicara tegas. Jika masuk ambang batas, status ditetapkan. Tidak ada ruang debat.
Masalahnya, pengukuran sering dilakukan pada waktu tertentu. Anak yang sedang sakit, rewel, atau kurang tidur bisa memengaruhi hasil. Namun angka itu tetap masuk sistem dan menjadi rujukan resmi.
Bidan Desa: Antara Catatan dan Kedekatan
Bidan desa mengenal keluarga lebih dekat. Ia tahu riwayat ibu, kondisi kehamilan, dan kebiasaan makan anak. Ketika data menyebut stunting, bidan sering berkata, “Anaknya sebenarnya sudah ada kemajuan.”
Di sinilah muncul jarak antara data formal dan pengamatan keseharian.
KPM dan Penyuluh KB: Melihat Risiko, Bukan Hanya Hasil
KPM dan penyuluh KB sering mencatat anak sebagai berisiko stunting, bukan stunting aktif. Fokus mereka pencegahan. Anak yang belum stunting bisa masuk daftar karena sanitasi buruk, pola makan tidak seimbang, atau keluarga rentan.
Bagi warga, ini membingungkan.
“Anak saya dibilang stunting, tapi katanya belum stunting?”
Bahasa data tidak selalu ramah bagi telinga warga.
Baca Juga : Pendataan Sasaran Stunting Lewat eHDW: Peran KPM yang Sering Terlupakan
Dinas Sosial: Stunting dalam Bingkai Kemiskinan
Dinas Sosial melihat stunting sebagai bagian dari kerentanan sosial. Anak dari keluarga penerima bantuan sering otomatis masuk radar perhatian. Namun tidak semua keluarga miskin memiliki anak stunting, dan tidak semua kasus stunting terjadi pada keluarga miskin.
Ketika data bantuan sosial dan data kesehatan tidak sinkron, desa sering kebingungan menentukan prioritas.
Pendamping Desa di Tengah Simpang Data
Pendamping desa berdiri di persimpangan.
Ia harus menjelaskan perbedaan data tanpa menyalahkan siapa pun. Menghubungkan angka dengan cerita warga. Menjaga kepercayaan lembaga sekaligus empati keluarga.
Tidak mudah mengatakan pada orang tua bahwa anaknya berisiko, sementara tetangganya merasa anak itu baik-baik saja. Pendamping belajar memilih kata, waktu, dan cara.
Baca Juga : Pendamping Desa di Antara Harapan dan Tekanan: Catatan Akhir Tahun dari Lapangan
Masalah Utamanya Bukan Perbedaan Data
Perbedaan data bukan masalah utama.
Masalahnya adalah ketika data tidak dibicarakan bersama.
Selama puskesmas, bidan, KPM, penyuluh KB, dan Dinas Sosial berjalan sendiri-sendiri, desa akan terus berhadapan dengan angka yang saling bertabrakan. Warga pun semakin bingung, bahkan bisa kehilangan kepercayaan.
Menyatukan Angka dan Cerita
Solusinya bukan memilih satu data dan menyingkirkan yang lain. Tetapi menyatukan data dengan cerita. Membaca angka sambil mendengar warga. Menyusun intervensi dengan bahasa yang dipahami keluarga.
Stunting bukan sekadar status. Ia adalah proses panjang yang dipengaruhi gizi, sanitasi, ekonomi, pendidikan, dan pola asuh.
Catatan Penutup
Ketika data stunting berbeda dengan cerita warga, jangan buru-buru menyalahkan. Bisa jadi kita hanya belum duduk bersama.
Di nagari, perubahan sering lahir bukan dari angka yang paling tinggi, tetapi dari kesediaan untuk saling mendengar. Dan di situlah peran pendamping desa menjadi penting—menjembatani data dan kemanusiaan.
